Kemalingan 60 AC, Management RS Provinsi Dipertanyakan

  • Bagikan
IMG 20220107 WA0000
JHONI SUTANGGA/RADAR MANDALIKA
Akhdiansyah dan Bohari Muslim

MATARAM – Pengelolaan managmen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi dipertanyakan. Betapa tidak sebanyak 60 Ac outdoor kemalingan. Kasus kehilangan AC itu,  saat ini sedang dimeja kepolisian (kasusnya tidak hilang seperti dimuat koran Radar Mandalika edisi 7 Januari 2022). Dua Tersangkanya pun berinisial WPP (25 tahun) asal Lingkungan Bebidas, Mataram dan AAM (21) asal Babakan Mataram telah diamankan kepolisian.

“Saya kaget aja dengarnya. Kok bisa,” tanya anggota Komisi V DPRD NTB, Akhdiansyah di Mataram kemarin.

Politisi PKB itu menduga meski itu persoalan sepele namun tentunya berkaitan dengan managemen didalam RS itu sendiri.

“Ini persoalan di managemen mereka. Kurang kontroling,” sentilnya.

Dewan pun banyak mendapat kabar, Direktur umumnya jarang ngantor. Terkesan lebih sibuk mengurus MotoGP padahal itu bukan menjadi tugas fungsi utamanya rumah sakit.

“Kalau jarang ngantor disitu nggak bisa memantau. Sementara beliau posisinya sebagai Dirut RS,” katanya.

Yongki panggilannya mengatakan seluruh aspek managment yang ada di dalam rumah sakit merupakan penunjang pelayanan masyarakat. Jika masalah kecil saja bisa terjadi bagaiman dengan yang lainnya.

“Ini (masalah) kecil tapi berdampak,”ujarnya.

Hitungan kepolisian kerugian material yang ditimbulkan mencapai Rp 100 juta. Menurut Yongki meski jumlahnya kecil tetap saja semua itu merupakan aset negara yang harusnya dijaga dengan baik. Atas kejadian tersebut dirinya sangat menyayangkan kejadian itu.

“Kita sangat sayangkan. Ini bukti kurang kontrolnya beliau. Ini indikatot kurang pantaun. Jangan sampai berdampak pada pelayanan,” terangnya.

Dalam waktu dekat Komisi V akan melangsungkan Rapat Dengar Pendapat bersama mitra kerjanya termasuk dengan RSUD Provinsi.

“Satu dua hari ini kita ada rapat dengan mitra.  Kita cek dulu kebenarannya,” katanya.

Jika pun memang harus dievalusi maka gubernur harus mengevaluasinya (bukan mengganti seperti yang terbit pada koran edisi 7 Januari). Apalagi kejadian ini terjadi berulangkali waktu berkali kali alias tidak langsung kehilangan sebanyak 60 AC. Yongki tidak menyebutkan harus langsung mengevalusi apalagi mengganti melainkan pihaknya akan mempertanyakan langsung apa sebenarnya yang terjadi.

“Nanti kita lihat (perlu dievaluasi atau tidak). Kita akan tanyakan dulu besok saat rapat,” terangnya.

Anggota Komisi V lainnya, Buhori Muslim terlihat kaget. RS plat merah itu menerapkan Protap cukup ketat termasuk protap keamanan ternyata bisa juga kemalingan.

“Ini urusan managemen (RS). Seperti apa kok bisa AC hilang sampai 60 unit. Ini diluar akal sehat,” katanya.

Bohari pun heran kenapa baru sekarang bisa terdeteksi. Dirinya menduga kehilangan itu berkali kali. Mengangkat AC itu tidak gampang menenteng melainkan pasti menggunakan transportasi pengangkut.

“Artinya disitu managmennya seperti apa. Terutama securitynya apakah masih out sourching atau sudah menetap,” kata ketua Fraksi Nasdem DPRD NTB itu.

Ditegaskannya AC itu merupakan salag satu bentuk kenyamanan baik pasien maupun penunggu pasien.

“Saya tidak banyak yang bisa kita komentari sebelum kita kroscek kepada yang bersangkutan. Ada rapat koordinasi dan sebagianya nanti. Dalam waktu dekat kita akan coba panggil direkturnya,” ungkapnya.

Direktur RSUD Provinsi NTB, Lalu Herman Mahaputra yang dikonfirmasi koran ini belum memberikan tanggapan sampai berita ini diturunkan. (jho)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *