Agus Gunawan. (WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA) 

LOBAR—Keberlanjutan desa wisata di Lombok Barat (Lobar) menjadi perhatian serius Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, dan Olahraga (Disparekrafpora) Lobar. Menyusul banyaknya desa wisata yang tidak berkembang, bahkan tak aktif lagi karena berbagai faktor.

Data Dispar Lobar mencatat, dari sekitar 60 desa yang telah ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) sebagai desa wisata, tidak semua desa wisata tersebut bertahan dan berkembang secara konsisten. Pihak dinas pun terpaksa mengambil langkah strategis dengan memprioritaskan pendampingan pada desa wisata yang memiliki potensi aktif dengan kelembagaan yang siap. Hal ini dilakukan agar keberlanjutan pengembangan wisata daerah berbasis desa sesuai dengan visi-misi Wakil Bupati Lobar, yaitu “Sejahtera dari Desa”.

“Dari puluhan desa wisata yang ada, kami ingin fokus pada 10 desa, tetapi benar-benar jadi dan konkret sebagai peninggalan keberhasilan dari desa melalui pengembangan desa wisata. Ketika masa tugas (periode bupati dan wakil bupati) selesai, hasilnya nyata dan manfaatnya sudah berjalan, di antaranya seperti di Gunung Jae, Cemare, maupun Gili Gede,” ungkap Kepala Disparekrafpora Lobar, Agus Gunawan, Rabu (2/9).

Menurut Agus, pendampingan dinas tidak hanya dari sisi pembangunan fisik, namun juga memperkuat manajemen keuangan dan tata kelola manajemen pariwisata. Langkah itu dinilainya penting untuk mencegah timbulnya konflik internal antara Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Pokdarwis saat destinasi menghasilkan pendapatan. Sehingga penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi fokus utama. Sebab, keberlanjutan sebuah desa wisata sangat bergantung pada komitmen dan keaktifan Pokdarwis setempat.

“Kami dampingi Pokdarwis-nya dari hulu ke hilir, mulai dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan (actuating), hingga pengawasan (controlling). Perencanaannya kita buat matang. Pokdarwis-nya kita dampingi selama satu tahun ini,” ujar Agus.

Salah satu desa wisata yang tengah didampingi Dispar yaitu Wisata Gunung Jae, Desa Sedau, Kecamatan Narmada. Wisata alam itu dinilai masih terbatas pada area berkemah (camping ground). Padahal, potensi pengembangan masih luas jika dikelola dengan pendekatan yang lebih komprehensif.

Agus bahkan memiliki ide untuk menambahkan pertunjukan yang akan menemani suasana camping ground itu. Kolaborasi dengan sanggar seni di 22 desa di Kecamatan Narmada akan dijajaki untuk melaksanakan niat tersebut.

“Konsep pertunjukan berkala secara bergiliran antardesa, sehingga pengunjung tidak hanya berkemah, tetapi juga disajikan atraksi seni,” paparnya.

Tahap awal untuk mendukung pengembangan wisata itu, Dispar akan melakukan pembenahan untuk panggung pertunjukan, pembuatan jembatan akses, serta pemasangan pencahayaan. Langkah ini dilanjutkan dengan penyelesaian fasilitas pendukung lainnya pada anggaran perubahan, seperti toilet, penerangan kawasan, dan penataan lanskap camping ground. Karena sebagian kawasan berada di bawah kewenangan Balai Wilayah Sungai (BWS), pihak dinas berencana mengajukan permohonan resmi agar dilakukan perbaikan jalan interior menggunakan paving block. (Win)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *