Di Balik Cerita Sawaludin, Bos Bank Sampah Bintang Sejahtera yang Sukses

F Bok

FOTO DIKI WAHYUDI/RADAR MANDALIKA SEMANGAT: Direktur Bank Sampah Bintang Sejahtera, Sawaludin saat mencontohkan cara memotong plastic jenis botol minuman kepada seorang pekerjanya di gudang, Sabtu kemarin.

Modal Awal Jual Mas Kawin, Sempat Kenak Tipu dan Sekarang Panen Rupiah

Sampah juga bisa menjadi uang besar. Bahkan gara-gara pengolahan sampah bisa meraih omzet per bulan ratusan juta. Demikian dialami Direktur Bank Sampah Bintang Sejahtera, Sawaludin warga Dusun Tatak Desa Tanak Awu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.

DIKI WAHYUDI-LOMBOK TENGAH
MENJADI orang sukses tidak mudah. Harus banyak rintangan dihadapi. Sama halnya dirasakan Sawaludin, 39 tahun warga Dusun Tatak Desa Tanak Awu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.
Awal tahun 2009 silam, dia bersama dua orang rekannya menginisiasi pengolahan sampah pelastik atau non organik. Pertama mereka lakukan di Mataram dengan modal kecil. Perlahan di tahun 2010 baru usaha ini mulai serius digarap dan dibuktikan dengan diurus legalitas usaha mereka.
Usaha pertama ini dijalankan di wilayah Jempong, Kota Mataram. Di sekitar sana, tiga sahabat ini menyewa tanah warga untuk memuluskan usaha baru dan pertama di NTB ini. Nama pertama perusahaan yang dirirkan, ‘Bank Sampah Tiga Bintang’. Nama ini muncul mengingat ada tiga orang di balik terbentuknya usaha sampah. Namun di balik usaha sampah plastic itu, turut para istri mendukung sang suami. Sampai-sampai mereka rela menjual mas kawin untuk melanjutkan mimpi para suami.
Namun di tengah jalan usaha berjalan, lokasi yang ditempatinya kenak proyek pelebaran jalan. Akhirnya pikiran semakin kacau saat itu sekitar tahun 2013. Sementara nasabah di Kota Mataram begitu banyak. Mulai dari Pasar Bertais sampai Lembar. Nasabah mereka sebagian besar petugas kebersihan.
Sementara, sistem usaha dijalankan ini, warga atau nasabah diberikan pinjaman uang mulai dari Rp 100 ribu sampai Rp 500 ribu saat itu. Kemudian warga melakukan pengembalian pinjaman dengan menyerahkan sampah. Jaminan pinjaman tidak ada, cukup dengan akad mengucapkan bismillah saja.
Saat usaha berjalan, Sawaludin selama ini menjual sampah kepada para pengepul di Mataram. “Jadi waktu itu kami bingung di situ. Harus tinggal di mana untuk melanjutkan usaha ini, saya terpaksa pulang kampung sekitar akhir tahun 2014 lah,” katanya kepada Radar Mandalika, Sabtu kemarin.
Namun beruntung Sawal tahun 2010 pernah ke Surabaya untuk mencari jalur pabrik mitra kerjasamanya. Dia mencari alamat melalui internet. Akhirnya ada ditemukan, tak lama ia pun kembali ada modal dan membeli mesin pencacah sampah plastik.
“Untungnya di situ ada link kami dapat. Cuma sahabat kami dua orang mulai memiliki kesibukan masing-masing, jadi saya tinggal berdua sama istri memikirkan sampah ini. Cuma alhamdulliah kontribusi teman-teman ini cukup besar,” ceritanya.
Namun di balik itu semua, perusahaan di Surabaya menyampaikan kesiapannya menerima sampah berapapun jumahnya. Ini salah satu menjadi penyemangat untuk melanjutkan mengurus sampah.
Tapi di tengah berjalannya usaha ini, Sawal mengaku pernah kenak tipu karena tidak dibayar sampah yang dia antar ke pabrik. Namun ia terus melanjutkan usahanya, nasib baik saat itu Sawal sudah memperoleh omzet tembus Rp 400 juta. Dengan berjalannya usaha ini, dia mulai mengirim barang ke dua wilayah. Surabaya dan Bali. Barang atau sampah akan dijuanya ke pabrik yang memberikan harga lebih tinggi. “Dulu saya sering ikut perjalanan naik truk antar sampah ke Surabaya bahkan Bali,” ujarnya.
Pada tahun 2013-2014 permintaan pabrik makin meningkat. Per hari diminta 15 ton, sementara dirinya menyiapkan 30 ton per harinya waktu itu. Saat kondisi jaya tahun 2013-2014, bos pabrik di Bali sempat hilang kabar. Sementara sampah di Lombok bahkan gudangnya sudah numpuk. Sementara uang yang ada dihabiskan untuk membeli dan pengolahan sampah. Ada ratusan juta jumlahnya.
“Di situ saya sempat banyak stok sampah. Saya setres karena dapat ujian besar. Belum lagi tahun itu juga saya kecelakaan, istri kenak struk ringan. Di gudang pekerja 60 orang harus berhenti mendadak. Belum lagi saya dicacimaki di tempat orang,” ceritanya lagi.
Pada titik paling berat saat itu, sepeserpun uang di kantong tidak ada lagi. Namun waktu itu, pria alumnis Unram ini dan istri tetap bertahan. Bahkan sampai-sampai Sawal diajak teman untuk mencari pekerjaan di Kalimantan di tambang batu bara.
“Sebelum saya berangkat ke Kalimantan, saya terima telpon katanya orang itu mau belajar cara pengolahan sampah. Ya saya respons saja, cuma pas ke rumah saya kira dia orang pajak. Jadi saya tidak begitu mau kasi bicara banyak, saya tanyak tujuan dia apa,” ujarnya.
Dalam pertemuan itu, pria yang dia tidak kenal itu mengaku merupakan mantan bos property ternama di Kalimantan, namun dia ke NTB karena dikejar utang. Usahanya bangkrut. Maka dari itu ingin belajar cara pengolahan sampah.”Jadi saya mikir setelah mendengar dari cerita orang itu, ada yang lebih parah lagi sampai tempat tinggal tidak ada,” sebutnya.
Sejak itu, ia memutuskan batal mencari kerja ke Kalimantan. Kendati di posisi jatuh, Sawal dan istri tetap kuat atas ujian ini.
Namun tidak lama, mendadak istrinya menerima telpon dari staf kedutaan Amerika Serikat (AS) tahun 2015. Staf kedutaan ini menyampaikan jika istrinya Sawal atas nama, Febriati Herunisa dapat nominasi menjadi wanita perubahan 2015. Dan beruntung, diinformasikan istrinya terpilih menjadi wanita perubahan 2015. Saat Gubernur NTB, TGB ia pun menghadap gubernur dan menceritakan semua ini. Beruntung sang gubernur berbaik hati dan membelikan keduanya tiket untuk berangkat ke Jakarta menerima penghargaan itu.
Tapi musibah lebih besar lagi datang malamnya, sebelum paginya keduanya harus berangkat ke Jakarta. Orangtua istri masuk rumah sakit sekitar jam 12 malam karena sakit jantung. Tidak lama di rumah sakit, ayah istrinya dijemput ajal. Namun sebelum meninggal dunia, keduanya diminta oleh almarhum untuk tetap berangkat ke Jakarta. Tapi keduanya sudah tidak lagi memikirkan harus ke Jakarta. Mereka focus mengurus proses persiapan pemakaman dan lainnya.
“Sebelum dimakamkan, saya sempat tidur dan bermimpi didatangi mertua diminta agar tetap jalan ke Jakarta. Kami pun berdua izin dan diberikan izin jalan ke Jakarta kendati tidak mengikuti proses pemakaman. Cuma begitu banyak cobaan saat kami jalan. Untuk beli tiket tidak ada, untung ada kakak ipar bantu kami,” ceritanya lagi.
Di lokasi acara penyerahan penghargaan, bertepatan sekali dengan waktu kedatangannya di lokasi. Mereka pun langsung masuk.”Ahamdulillah kami ada dapat dana juga di sana, nah ini jadi awal moda kami bangkit lagi untuk mengolah sampah,” bebernya.

Beruntun, tahun yang sama Sawal juga menerima penghargaan dari PBB dan Kementerian Pariwisata. Di sana kembai bertambah dana sebagai modalnya melanjutkan usaha sampah. Dan sampai sekarang masih berjalan baik. “Kami sekarang ada 337 unit bank sampah di NTB. 10 kabupaten kota sudah ada semua,” bebernya lagi.
Sementara di pemerintahan Zu-Rohmi ini, dia sejak tahun 2019 juga diundang dalam program zero waste. Saat itu ia mulai luas melebarkan sayap. Sementara kerjasama dilakukannya bukan hanya di NTB sekarang, sudah sampai NTT, Sulawesi bahkan Bali. “Untuk zero waste kami siapkan program menuju sampah bebas 2023. Dan Alhamdulillah kemarin dapat penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup sebagai Bank Sampah Terbaik 2021.(*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Geram, Komisi II Akan Klarifikasi ITDC

Read Next

Wabup KLU Sembuh dari Covid-19

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *