Cerita Para Bocah Pemburu “Rupiah” di Kuta Mandalika

F Bok.jfif  1

DOK/RADAR MANDALIKA PEDAGANG: Sejumlah pedagang asongan saat duduk menunggu pengunjung.

Pembeli Sepi, Berjualan Demi Membantu Orangtua

Dampak pandemi covid-19 dirasakan para bocah pemburu “rupiah” atau pedagang asongan di Kuta Mandalika. Hasil jualan pernak-pernik sekarang ini menurun tajam. Seperti apa ?

MUH JAYADI-LOTENG

RABU siang kemarin di Pantai Kuta Mandalika, Kecamatan Pujut Lombok Tengah terik matahari begitu panas. Para pedagang asongan khususnya anak-anak berteduh di pohon dan bangunan yang tidak panas. Namun mata mereka tetap focus melihat pengunjung yang baru saja datang ke sana.
Di tangan mereka, tidak dilepas barang bawaan yang akan dijual. Seperti pernak-pernik hasil kerajinan warga setempat. Seperti gelang tangan, kalung sampai beragam barang lainnya.
Namun sejak covid-19 menyerang dunia, mereka juga merasakan dampaknya. Kunjungan wisatawan menurun tajam. Sementara hanya ada datang berkunjung wisatawan local. Nyaris pengunjung selama ini jarang ada yang membeli barang jualan pedagang asongan di sana.

Seperti diwawancarai seorang bocah pedagang asongan, Riana 9 tahun warga Desa Rembitan. Dia mengaku, setiap hari berjualan pernak-pernik di kawasan wisata bukan karena dipaksa, melainkan atas kemauannya sendiri. Karena hasilnya berjualan bukan hanya untuk mereka tabung, melaikan untuk memantu ekonomi keluarganya.
Katanya, pernak –pernik yang ia jual bukan bukan hanya gelang, cinci. Namun juga menawarkan beberapa kain tenun hasil kerajinan yang dibuat langsung orangtua dan warga setempat.
“Pulang sekolah saya berjualan demi membantu orang tua,” katanya di lokasi pada Radar Mandalika.
Riana menuturkan, saat libur sekolah, dia mulai berjualan dengan rekan-rekanya lebih pagi, sekitar pukul 07.00 wita. Namun ketika masuk sekolah ia keliling di Kuta Mandalika siang hari pukul 13.00 wita.
Namun dalam berjualan hasil kerajinan itu, saat ini tidak semulus yang mereka bayangkan. Karena setelah korona ini melanda, penghasilan mereka sangat menurun tajam.“Penghasilan kami tidak pada kondisi normal sebelumnya. Satu hari sekarang saya bisa dapat sebanyak Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu,” ceritanya.
Bocah yang masih duduk di bangku SD ini mengungkapkan, ibunya juga adalah seorang penjual songket yang biasa mangkal di kawasan ini. Setiap hari mereka selalu berjualan bermacam aneka kerajinan Khas Lombok di tempat tersebut. Beragam hasil kerajinan baik dari sapuk, kain hingga baju maupun pernak pernik lainnya.
Ditambahkan pedagang asongan lainnya, Sendi (perempuan, Red) 10 tahun mengatakan, saat anak seusiannya tengah asyik bermain, ia dan rekannya harus panas-panasan berjualan di Kuta.“Saya tetap berjualan setiap hari. Meski banyak pengujung penjualan sedikit,” kata dia tersipu malu.
Namun apa yang dilaksanakan setiap hari itu tidak dilakukan terpaksa. Melainkan atas kemauannya sendiri demi membantu orang tuanya. Dia juga mengaku, dirinya dengan teman-temanya sekarang sangat senang menggeluti pekerjaan sampingan ini.
“Sayang senang membantu orangtua,” katanya.(*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Saling Lapor, Giliran Mantan Kades Lapor Kades Penujak

Read Next

Kurang 10 Persen WargPa Pujut Direkrut

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *