Cerita Anggota Arisan Online di Kota Mataram

F Bok

Hutang Numpuk, Aset Habis Dijual dan Sekarang Aduan Masuk ke Polres

Arisan online (Arsol) cukup banyak di Kota Mataram. Yang ikut atau bergabung di Arsol ini dari beragam golongan dan profesi. Namun terbaru, ada beberapa ibu-ibu yang menjadi anggota Arsol ini akhirnya memasukan aduan ke Mapolres Kota Mataram. Mereka merasa tertipu ikut Arsol sampai ratusan juta rupiah.

DIKI WAHYUDI-MATARAM

BERTEMU di salah satu tempat di Kota Mataram. Radar Mandalika berhasil merekam semua apa yang menjadi keluh kesah para anggota arisan online (Arsol).

Awalnya, para ibu-ibu ini takut persoalan ini terungkap. Apalagi diketahui media. Namun mereka habis akal sehingga memutuskan buka suara.

Satu persatu ibu-ibu ini menceritakan pengalamannya ikut di Arsol. Nyaris dari semua cerita mereka, tak satupun merasa diuntungkan dalam arisan tersebut. Semuanya ngaku rugi dan pada akhirnya dililit utang ratusan juta.

Bukan hanya itu, ada seorang pengusaha yang bergabung di arisan ini juga mendadak bangkrut. Semua aset miliknya harus dijual untuk menutupi utang yang digali dari pinjaman cepat (PC) yang ditawarkan si admin Arsol. Lebih parah lagi, bunga PC gila. Dari semua tempat PC, satu-satunya PC dikelola admin tersebut cukup mencekik peminjam atau anggota Arsol.

“Jadi perhiasan, dan tabungan saya di bank habis. Ini buktinya,” ungkap salah satu anggota Arsol yang menolak identitasnya dibocorkan.

 Sumber ini mengaku, sampai sekarang dirinya masih ditagih admin untuk bayar arisan mingguan, lima hari dan lainnya.

“Yang saya tidak terima lagi, kalau telat bayar kita ditek atau ditandai di Facebook. Kan ini sangat tidak baik,” ceritanya.

Tidak sampai disitu, bahkan pernah si admin meminta dia berhubungan dengan seorang lelaki agar hutang arisannya habis. “Harga diri kita betul-betul tidak ada dibuat,” tuturnya.

Sumber ini juga menceritakan awal masuk anggota arisan. Awal anaknya pertama kali bergabung, tidak lama diapun tergiur dan ikut bergabung. Namun dirasakannya, selama bergabung tidak pernah menikmati uang arisan.

Lanjut dia, baru dapat arisan pertama. Oleh admin selanjutnya ditawarkan bergabung atau buat arisan baru dengan slot atau uang diperoleh nilai yang menggiurkan.”Awal kita coba arisan atau slot 5 juta, naik 10 juta, 25, 35 bahkan sampai 100 juta. Ini arisan bukan main bulanan, main lima hari bahkan seminggu,” ceritanya lagi.

Dia merasakan nyata ada unsur penipuan ketika ketika mengambil jadwal atau nomor dapat arisan. Sering kali ditemukan yang bisa memperoleh arisan lebih awal, mana yang dekat dengan admin.

“Jadi paling nomor atas itu paling rugi,” ungkap dia.

Dari cerita lain rekannya angota Arsol. Ada juga gara-gara arisan ini diceraikan suaminya, keguguran dan kasus yang lebih parah lagi. “Saya sendiri sudah habis semua apa-apa saya,” katanya.

Atas dasar ini, dia bersama anggota arisan lainnya sepakat menempuh jalur hokum. Dengan memasukan aduan ke Polres Kota Mataram. Bahkan Rabu kemarin, beberapa anggota arisan dimintai keterangan penyidik Reskrim Polres Kota Mataram.  

“Jadi saya yang mendampingi langsung. Cuma tolong identitas ibu-ibu ini dirahasiakan dulu, khawatir nanti kenak ancaman di luar,” sambung kuasa hukum, Habib Al Quthbi pada Radar Mandalika.

Sementara ini, polisi masih mendalami aduan para klainnya. Namun dipastikannya, besar peluang masuk kea rah pidana dan perdata. “Soalnya merembet ini permasalahan. Dugaan penipuan ada, pencemaran nama baik ada, dan soal pinjam cepat dengan bunga besar. Kalau ada izin pinjam cepat ini,” sebutnya.(*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Diduga Tidak Transparan, Kades Bunut Baok Didemo

Read Next

SMSI NTB Bentuk Pengurus Kabupaten Kota

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *