Cerita Ajudin, Tukang Sol Sepatu di Kota Toea Ampenan Mataram

F Bok 3 scaled

RAZAK/RADAR MANDALIKA SEMANGAT: Ajudin, 45 tahun sedang memperbaiki sepatu milik pelanggannya, Jumat (4/12).

Akui Sulitnya Dapat Uang, Hasi Sehari Bisa Beli Beras

Menjadi tukang sol sepatu di Kota Toea Ampenan Kota Mataram sudah digelutinya sejak 8 tahun lalu, hingga sekarang. Pekerjaan ini demi menghidupi keluarganya. Kini, Ajudin atau Udin mengadu sulitnya mengantongi uang di masa pandemi Covid-19.

RAZAK-MATARAM

TERLIHAT gerobak sederhana di depan Taman Jangkar Kota Toea Ampenan, Jalan Yos Sudarso, Kota Mataram, tempat menyusun sepatu-sepatu pelanggannya yang menunggu giliaran untuk diperbaiki.  Ajudin (45) mengais rezeki menjadi tukang sol sepadu.

Tidak hanya terlihat susunan sepatu. Di gerobaknya juga jelas terlihat ada cuter, gunting, palu, obeng, jarum besi, lem castrol, dan benang nilon. Semua peralatan tersebut dibutuhkan dalam mengerjakan alas sepatu pelanggan yang menganga.

Raut wajah pria asal Tangsi, Kecamatan Ampenan ini tampak serius saat memperbaiki alas kaki milik pelanggannya. Tangannya bekerja cukup terlatih menjahit bagian alas yang menganga dengan menggunakan jarum besi yang sudah dikaitkan dengan benang nilon.

Pekerjaan menjadi tukang sol sepatu di kawasan Kota Toea Ampenan sudah digelutinya sejak 8 tahun lalu. Melayani jasa perbaikan sepatu dan sandal terus ditekuninya sampai sekarang. Pekerjaan itu dilakukan demi menghidupi istri dan empat orang buah hatinya.

“Dari tahun 2012 jadi tukang sol sepatu,” ujar dia kepada Radar Mandalika, Jumat (4/12).

Sekitar tahun 2014, Udin sapaan akrabnya mengaku mendapat bantuan gerobak dari Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram. Kini, gerobak tempat ia menjajakan jasa perbaikan sepatunya terlihat cukup bagus dan memadai dengan paduan cat warna hijau dan putih. Sebagai tempat menyusun sepatu-sepatu milik pelanggannya.

Udin mengadu betapa sulitnya mengais rezeki menjadi tukang sol sepatu di tengah masa pandemi Coronavirus Disease atau Covid-19. Setiap hari, maksimal cuma empat sepatu dikerjakannya. Harga jasa perbaikan sepatu dibanderol Rp 10 ribu.

“Saya masih kocar-kacir karena korona ini. Situasi belum normal. Makanya saya kadang keluar, kadang gak,” ujar dia.

Di masa pandemi sekarang, dia terkadang membuka gerobak untuk melayani jasa perbaikan sepatu-sepatu pelanggannya hanya setengah hari saja. Aktivitasnya menjahit sepatu yang menganga tidak sehari full. Bahkan, juga tidak rutin keluar setiap hari. “Terkadang saya ndak keluar,” tutur Udin.

Dari hasil tukang sol sepatu, selama masa pandemi berlangsung, Udin hanya dapat membawa pulang uang paling mentok Rp 50 ribu sehari. Bahkan bisa juga di bawah angka itu. “Sulit korona ini. benar-benar belum stabil seperti awal dulu,” keluh dia.

Waktu yang dibutuhkan dalam menjahit sepatu milik pelanggannya paling cepat 5 menit. Terkadang ujar Udin, sepatu yang sudah tuntas dikerjakan terus disimpannya dalam gerobak hingga seminggu lamanya. Kenapa, karena pemiliknya tidak kunjung datang mengambil. Sepatu yang tidak diambil pemiliknya, terkadang dikasih temannya cuma-cuma.

“Ini aja pesenan sudah seminggu jadi, tapi belum diambil pemiliknya. Barang yang tidak ditebus pemiliknya kadang saya kasih teman,” tutur dia.

Dia menceritakan singkat, sebelum pandemi corona melanda, pendapatan yang diperoleh dari hasil jasa pelayanan perbaikan sepatu hingga Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu per hari. “Cuman bisa beli beras aja. Sekarang karena situasi ini masih sulit,” cetus Udin.

Pemerintah pusat sudah menggelontorkan bantuan bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sebesar Rp 2,4 juta per orang. Namun, Udin mengaku sama sekali tidak masuk daftar penerima bantuan stimulus ekonomi akibat pandemi tersebut. Kenapa, karena dia sama sekali tidak tahu menahu terkait adanya informasi bantuan.

“Ndak tau saya. Saya berharap agar ada bantuan lagi dari pemerintah di masa serba sulit pandemi,” ucap dia. Sembari bertanya apakah bantuan UMKM masih dibuka?.

Namun begitu, Udin tetap semangat dalam mencari nafkah yang dilandasi rasa tanggungjawab untuk menghidup keluarganya. Dia pun berharap dan berdoa agar selalu diberikan kesehatan dan kemudahan dalam mencari rezeki. Serta bisa melewati masa-masa sulit di tengah pandemi.

“Kita syukuri aja dah,” singkatnya. (*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Iskandar Meleset, 40 Ton Bibit Padi Belum Didistribusikan

Read Next

Kelilingi Sirkuit Mandalika dengan Motor Listrik

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *