Bulan Ramadan, Peziarah Makam Nyatok Sedikit

F AA peziarah

FOTO FENDI/ RADAR MANDALIKA BERKUNJUNG: Peziarah Makam Nyatok saat hendak pulang setelah melaksanakan zikir dan doa, Rabu kemarin.


 PRAYA-Pada bulan Ramadan ternyata peziarah ke Makam Nyatok di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut sedikit. Tidak seperti hari Rabu sebelum dan sesudah Ramadan. Peziarah ke Makam Nyatok berdesakan.

   “Memang kalau setiap ramadan itu agak kurang, hanya bulan- bulan tertentu membeludak,” ungkap Wirajaya petugas Makam Nyatok kepada Radar Mandalika, Rabu kemarin.
 Dijelaskannya, warga yang datang berziarah memiliki berbagai kepentingan dan hajat, ada pula yang menunaikan nazarnya karena telah terkabul hajat mereka. Bahkan ada yang datang sejak malam hari untuk berhalwat kepada tuhan untuk mendapat petunjuk dan keperluan lainnya.
 

“Yang datang malam- malam itu juga kita jaga keamanan mereka,” ungkapnya.
 Di lokasi makam tersebut juga disediakan tempat penyembelian hewan dan tempat proses untuk disantap, ini bagi warga yang hendak menunaikan hajat seperti menyembelih karbau, sapid an kambing. Rangkain ritual tersebut, menjadi kebiasaan pengunjung setempat dan warga luar, sebab mereka percaya melalui makam tersebut perantara terkabulnya hajat mereka.
 Sementara itu, berkaitan dengan sejarah Makam Nyatok, Kades Rembitan, Lalu Minaksa menceritakan secara umum, katanya keberadaan Wali Nyatok di Rembitan ditandai dengan adanya Masjid Kuno sejak abad 16 silam. Misi perjuangan sang wali sebutnya untuk meluruskan islam wetu telu. Sehingga menjadi ajaran islam yang sempurna.
 “Itu disempurnakan oleh Wali Nyatok dengan siar lima waktu,” ceritanya terpisah.
 Keberadaan masjid pun sebutnya penuh dengan filosofi mulai dari pintu yang berada di sebelah selatan, juga atap masuk yang agak rendah menandakan sikap dan adap seorang muslim masuk masjid harus hormat dengan menunduk.
 “Kita mati kepalanya dihadapkan ke utara, kalau masuk kita mesti merunduk ini filosofi dari pintu dan atapnya,” cerita Minaksa lagi.
 Berkaitan dengan makam, Kades menjelaskan bahwa makam tersebut di yakini sebagai tempat muskap (hilang tiba- tiba, Red) sang wali, sehingga di tempat tersebut diberikan tanda.
 “Apakah makam itu bebentuk gaian, kita tidak tahu. Murit- murit beliau meminta dimakamkan di sekitar sana,” jelasnya.
 katanya, banyaknya makam di lokasi ini sebut kades merupakan murid dari sang wali, bahkan ada makam yang berdampingan dengan nisan wali nyatok diyakini sebagai murid kesayangan beliau.
 “Kalau istilah kerajaan itu patihnya,” kata Minaksa.
 Kades juga menjelaskan, lokasi yang sering dikunjungi mantan Bupati H Moh. Suhaili FT ini, memberikan pelajaran hidup, agar dalam keseharian tidak bersikap sombong, hal ini tergambar dari ritual yang dilakukan yang membatasi jumlah sembelihan. Jumlah ini sangat efisien di badingkan dengan begawe dan upacara adat di rumah masing- masing.
 “Misalnya sunatan, kalau dimakam hanya boleh satu sapi atau karbau tidak boleh lebih, beda kalau di rumah bisa empat sapi, ditambah lagi kesenian dan lainnya,” ungkap kades.
 Kades juga membeberkan, PADes yang didapatkan dari makam sampai ratusan juta pada saat sebelum covid-19, namun pendapatan tersebut hanya boleh dipergunakan untuk kebutuhan makam, Masjid Kuno dan masjid lain di Rembitan. Sedangkan untuk rabat jalan dan kebutuhan umum yang tidak berkaitan dengan sejarah makam tidak diperbolehkan.
 “Hanya perbaikan jalan menuju makam baru diperbolehkan,” katanya.


 Sedangkan pada masa pandemi pemdes mengaku hanya memperoleh PADes sebesar 53 juta pada tahun 2020, dan telah dipergunakan untuk perbaikan musala dan masjid di Desa Rembitan.
 “20 juta kita simpan untuk kas, sisanya untuk perbaikan dua musala dan lima masjid kemarin,” pungkasnya.(ndi)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Usaha Sablon Digital, Printer’s Epson SC-F531 Jagonya !

Read Next

Camat dan TNI Bubarkan Sabung Ayam di Narmada

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *