ilustrasi

PRAYA-Komisioner Bawaslu Lombok Tengah bungkam. Sampai dengan saat ini, tak satupun komisioner mau bicara soal oknum anggota Panwascam yang diduga menjual bantuan pertanian pemerintah kabupaten.

Ketua Bawaslu Lombok Tengah, Abdul Hanan yang dikonfirmasi tak mau bicara soal ini. Namun dia sempat membuat janji akan meluruskan berita sebelumnya usai salat Jumat pekan lalu. Namun, Hanan tak kunjung ada kabar sampai akhirnya berita ini ditayangkan.

“Nanti selsai Jumat kita ketemu,” kata dia via wa.

Sementara wartawan radarmandalika.id yang coba mencari Ketua Bawaslu di kantor Bawaslu. Justru wartawan media ini dimintai keterangan oleh seorang staf Bawaslu. Dengan dalih berita yang dimuat di media radarmandalika.id.

“Saya hanya menjalankan perintah dari pak ketua saja,” kata staf Bawaslu yang tidak diketahui namanya.

Staf Bawaslu ini mengatakan, persoalan ini akan diselsaikan di internal dahulu. Sebab ini merupakan temuan. Dia mengaku, masalah ini tak akan dibeberkan ke publik karena akan diselsaikan di internal.

“Nanti akan diklarifikasi,” jawabnya singkat.

Di samping itu, komisioner Bawaslu yang lain dikonfirmasi tak merespons. Di wa dibuka namun tak ada balasan sampai berita ini diturunkan.

 Sebelumnya, seorang oknum Panwascam diduga menjual bantuan pertanian milik pemerintah kabupaten. Misalnya, heandtraktor dan mesin air.

Oknum Panwascam ini mengiming-imingi para korban dengan sejumlah bantuan program pemerintah. Pelaku juga tentunya dengan meminta sejumlah uang.

Sementara pelaku kepada korban mengklaim memiliki jaringan di dinas, termasuk menjual senioritas di organisasi dan kedekatan dengan beberapa pejabat. Tidak tanggung-tanggung, oknum Panwascam ini juga meminta uang dengan dalih jasa konsulidasi.

 Informasi yang diterima radarmandalika.id dari beberapa korban membenarkan kasus penipuan ini.  Temuannya, ada enam korban yang kenak tipu oknum Panwascam asal Selatan tersebut.

Adapun kerugian korban inisial H 9 juta, Z dan I, 6 juta, H 3 juta, J 4,9 juta, P 4 juta, N 8,7 juta dan korban lainya 5 juta.

Namun korban mengaku beberapa kali ingin bertemu dan membicarakan dengan baik atau secara kekeluargaan. Akan tetapi pelaku selalu saja beralasan sibuk.(tim)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *