MATARAM – Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Baiq Nelly Yuniarti, AP., M.Si., menjadi narasumber dalam kegiatan Kuliah Umum (Stadium Generale) yang diselenggarakan Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Selasa (3/11/2026).

Kegiatan yang mengangkat tema “Agama, Kearifan Lokal dan Pembangunan Inklusif: Kontribusi Perguruan Tinggi dalam Akselerasi Kebijakan Desa Berdaya di Nusa Tenggara Barat” tersebut menjadi ruang diskusi strategis untuk memperkuat keterlibatan perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan desa yang inklusif dan berkelanjutan.

Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. Masnun, M.Ag., dalam sambutannya menekankan bahwa pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada aspek fisik dan infrastruktur. Lebih dari itu, pembangunan harus tetap memperhatikan nilai-nilai budaya, tradisi, serta kearifan lokal yang telah tumbuh dan mengakar di tengah masyarakat.

“Jangan sampai pembangunan justru menggusur budaya dan kearifan lokal. Pembangunan harus memberdayakan tanpa mencerabut nilai-nilai yang telah berakar di masyarakat,” ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, Dekan FUSA UIN Mataram, Prof. Dr. Suprapto, M.Ag., menyampaikan bahwa Program Desa Berdaya merupakan kebijakan yang unik dan inovatif karena menitikberatkan pada kemandirian serta pemberdayaan masyarakat desa.

Ia juga berharap UIN Mataram dapat membangun kolaborasi lebih konkret dengan Bappeda NTB, salah satunya melalui pengembangan pusat kajian pemberdayaan desa. Dengan demikian, perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui riset, pendampingan, pengembangan kapasitas masyarakat, serta rekomendasi kebijakan berbasis kajian akademis.

Dalam paparannya, Baiq Nelly menjelaskan bahwa Program Desa Berdaya merupakan salah satu dari sepuluh program unggulan Gubernur NTB yang diarahkan untuk memperkuat pembangunan dari desa.

Program tersebut dilaksanakan melalui berbagai bentuk intervensi, mulai dari dukungan teknis, pendampingan, bantuan keuangan hingga bantuan sosial. Pendekatan ini diharapkan mampu mendorong desa mengembangkan potensi lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Baiq Nelly, keberhasilan Program Desa Berdaya tidak dapat dicapai hanya melalui peran pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi, pemerintah kabupaten/kota, pemerintah desa, tenaga pendamping, serta masyarakat.

“Kunci keberhasilan Desa Berdaya adalah kolaborasi multiaktor, mulai dari pemerintah provinsi, kabupaten/kota, pemerintah desa, pendamping hingga masyarakat. Kita ingin potensi desa dikelola secara inklusif, ketahanan pangan terjamin, dan kemiskinan semakin berkurang,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis pemerintah dalam mengidentifikasi potensi dan persoalan desa, melakukan penelitian, memberikan pendampingan, serta mendorong lahirnya inovasi pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Keterlibatan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya berhenti pada kegiatan akademik, tetapi dapat diwujudkan melalui kerja sama nyata dengan pemerintah daerah dan desa. Integrasi antara ilmu pengetahuan, nilai-nilai keagamaan, kearifan lokal, dan kebijakan pembangunan menjadi salah satu pendekatan penting dalam mewujudkan pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

Melalui sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi, Program Desa Berdaya diharapkan mampu menjadi instrumen percepatan pembangunan berbasis potensi lokal, memperkuat kemandirian masyarakat, menjaga ketahanan pangan, serta menekan angka kemiskinan.

Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mewujudkan pembangunan NTB yang inklusif, berkelanjutan, dan sejalan dengan visi NTB Makmur Mendunia.(red)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *