Riwayat Hidup ini berdasarkan hasil rekaman wawancara Adi Fadli Hubaibi Yakub dengan TGH. L. M. Turmudzi Badruddin Bagu, Senin, 5 April 2010, dari jam 17.00 – 20.00 WITA di Rumah Bagu Utara.

Beliau menuturkan:

Saya TGH. L. M. Turmudzi dilahirkan di Bagu, Rabu, 9 Muharram 1355 H (1 April 1936 M) dari pasangan TGH. Badaruddin bin H. Jamaluddin dan Hj. Aminah binti H. Ridwan. Diberikan nama oleh TGH. M. Shaleh Hambali Bengkel (Tuan Guru Bengkel) dengan nama Hasan Bashri.

Pada waktu berumur 5 tahun (1941 M) mempelajari al-Qur’an pada ayahanda, TGH. Badaruddin dan pamanda, H. Semaun. Pada waktu berumur 6 tahun (1942 M) mengkhatamkan al-Qur’an. Pada umur 8 tahun (1944 M) memasuki Sekolah Rakyat (SR) dan sambil belajar tajwid dan nahwu pada TGH. Azhar Bagu. Pada waktu berumur 12 tahun (1948 M) mulai menjadi santri di Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel. 

Pada umur 18 tahun (1954), Kepala Desa Bagu, Raden Raisim, memohon izin kepada Tuan Guru Bengkel agar saya pulang ke Bagu pada tiap-tiap sore hari Kamis (malam Jum‘at) untuk mudzākarah bersama jamaah desa Bagu dan sekitarnya. Sebelum Tuan Guru Bengkel mengatakan, “Ya,” Kepala Desa Bagu matur (menghadap berkata) kepada Tuan Guru Bengkel, “Sanak (saudara) Tuan Guru, bain tiang pelungguh (cucu kita semua) saya akan membuatnya tanggal satu, mudah-mudahan tidak ada mendung sehingga dapat menjadi tanggal empat belas (bulan purnama). Kalau tidak dari sekarang saya membimbingnya untuk bergaul dengan jamaah serta belajar mengajar, tentu tidak akan bisa. Sekali lagi, mohon keikhlasan dan mohon izin kepada Tuan Guru agar dia dapat pulang tiap-tiap malam Jum‘at.” Tuan Guru Bengkel menjawab, “Saya izinkan.” 

Setelah beberapa tahun belajar di Bengkel, mempelajari tafsir Jalālain dan hadis al-Adzkār an-Nawawī, Tuan Guru Bengkel berkata kepada saya, “Kyai, beli Adzkār supaya kamu tetap hadir di pengajian tafsir hadis!” Langsung beliau mengatakan juga, “Bi‘id dāra isytaril Adzkār!” “(Jual rumah, beli kitab Adzkār!).” Setelah saya mendengar pepatah Tuan Guru Bengkel tersebut, saya menceritakannya kepada orangtua saya. Ayahanda saya menjawab, “Beli ananda kitab-kitab apa saja yang dibutuhkan dan tidak sampai menjual rumah!” Setelah saya membaca kitab itu (al-Adzkār an-Nawawī), saya seringkali mendengar hadis yang diakhiri dengan kata “Hadītsun hasanun shahīhun, rawāhut Turmudzī.” Setelah itu, saya bernazar, “Apabila saya naik haji, saya akan menambah nama saya dengan nama Muhammad Turmudzi.” Alhamdulillāh, pada tahun itu pula (1954 M) saya mendapat undian berangkat ke Tanah Suci Makkah. Saya belajar manasik haji pada Tuan Guru Bengkel dengan membuka kitab karangan beliau sendiri, yaitu Jamuan Tersaji pada Manasik Haji. 

Ketika Tuan Guru Bengkel datang berziarah haji ke Bagu, beliau berpesan kepada saya, “Ketika engkau ditanya di Bābus Su’āl Jeddah, pilih salah satu di antara tiga syaikh ini, yaitu pertama, Syaikh M. Nur Sumbawa bin TGH. Umar Sumbawa (anak guruku); kedua, Syaikh Junaidi (juga anak guruku); dan ketiga, Syaikh Hasan Ali Mukminah (sahabatku).” 

Ketika sampai di Bābus Su’āl, saya memilih Syaikh M. Nur Sumbawa karena mengambil berkah kepada guru Tuan Guru Bengkel. Setelah bertemu Syaikh M. Nur Sumbawa, saya ditanya, “Siapa yang menyuruh kamu berguru kepada saya?” Saya menjawab, “TGH. M. Shaleh Hambali Bengkel,” Beliau bertanya, “Berapa tahun kamu mengaji di sana?” Saya menjawab, “Kurang lebih 8 tahun.” Beliau berkata, “Kalau benar kamu mengaji di sana, saya bertanya. Ini ada teka teki, dan kalau benar kamu mengaji di sana, maka pasti kamu bisa menjawab pertanyaan ini, yaitu nawwaita walā shallaita, shallaita walā nawwaita, mā huwa?” Saya menjawab, “Itu adalah shalat Jum’at ya Syaikh, tidak mendapat ruku’ pada rakaat yang kedua bersama imam sehingga masbūq, niat mendirikan shalat Jumat, tetapi mendirikan shalat Zhuhur.” Beliau berkata, “Benar kamu, bila demikian, sekarang kamu tinggal di Mekah pada saya. Kitab orang tua saya beberapa lemari, saya menyerahkannya kepada kamu dan kebetulan saya mempunyai dua orang anak perempuan, yang satu berumur sekitar 21 tahun dan satunya lagi baru berumur 12 tahun. Kamu tinggal pada saya!” Saya menjawab, “Baik tuan syaikh.” 

Sampai di Mekah sebelum berhaji saya datang berziarah kepada sahabat-sahabat Tuan Guru Bengkel sambil membawa beberapa amanah, seperti Syaikh Hasan bin Sa‘īd al-Yamānī dan yang lainnya. Saya datangi juga guru beliau di Madinah yaitu Syaikh ‘Alī Umairah al-Fayūmī. Syaikh berkata, “Kamu ini orang Ampenan ya, tahu M. Shaleh Hambali?” Saya menjawab, “Ya, tuan Syaikh.” Kemudian Syaikh memberi al-Qur’ān al-Karīm sebagai balasan hadiah yang saya bawa. Saya mengambil berkah mengaji al-Qur’an pada beliau setiap hari di Madinah. 

Alhamdulillāh, sepulang haji saya tidak memberitahukan kepada Tuan Guru Bengkel bahwa nama saya sudah berganti. Tetapi, tertulis di kipas yang saya hadiahkan kepada beliau tulisan H. L. M. Turmuzi.” Ketika melihat nama itu, beliau berkomentar, “Bagus.” Beliau merestui nama itu. Setelah beberapa minggu dari kepulangan saya dari Mekah, saya berziarah ke Bengkel dan tinggal di Bengkel menjadi “guru muda” yakni bahwa wilayah pemondokan Qamarul Huda itu diserahkan kepada saya.

Saya menjadi guru muda di pondok Qamarul Huda yang dihuni oleh ± 70 orang santri. Di sanalah saya mulai belajar mengajar, karena kita diserahkan oleh Tuan Guru Bengkel membimbing kawan-kawan yang ada di Qamarul Huda. Di antara teman-teman guru muda saya di Qamarul Huda, antara lain: TGH. Ahmad Asy’ari Dasan Geres, Guru Fadlah (TGH. Fadli) Masbagik, Guru Nurdiyah (TGH. Hayat), Guru Dolah (TGH. Jamiluddin) Pringgesela. 

 

Saya mulai tinggal di Qamarul Huda mulai tahun 1948 sampai dengan tahun 1962, yakni 14 tahun atau masuk 15 tahun jalan. Selama di pondok, saya selalu berkhidmah kepada Tuan Guru Bengkel. Mulai saya kecil sampai menjadi guru muda, saya tetap keluar masuk rumah mengisi air untuk kamar mandi beliau. Dahulu baru seminggu di Bengkel setelah datang TGH. M. Yakub Batu Kuta, saya dituliskan tashrīf dharaba-yadhribu-dharban sampai selesai. Kemudian di panggil oleh Tuan Guru Bengkel, “Kyai, isi kamar mandi ini setiap hari, apabila sudah penuh laporkan pada saya.” Saya menjawab, “Ya, Tuan Guru.” Saya disuruh sekali dan bukan tiap-tiap hari, akan tetapi saya tetap terus berkhidmah.” Demikianlah khidmah saya kepada beliau. 

Setelah saya menjadi Haji dan pulang-pergi ke Bagu sekali seminggu, yaitu setiap malam Jum’at dan hari Jum’at sore saya kembali lagi dari Bagu ke Bengkel. Begitu terus dan alhamdulillāh saya belajar mengajar. Pada waktu itu saya minta izin kepada Tuan Guru Bengkel bahwa saya akan diangkat menjadi pegawai negeri, yakni menjadi guru SD, guru agama. Beliau menjawab, “Jangan kamu menjadi pegawai negeri, cukup kamu menjadi pegawai Allah. Warisi aku, kamu warisi aku. Gajimu lebih banyak daripada kamu menjadi guru SD.” Sejak saat itu apabila saya diajak dan disuruh menjadi apa saja tidak mau, karena itu merupakan pesan guru saya yakni menjadi pegawai Allah. Alhamdulillāh disuruh menjadi DPR, tidak mau dan ketika saya akan diangkat menjadi Kepala Peradilan Agama Lombok Tengah, saya katakan, “Maaf, saya tidak bersedia karena pesan guru saya adalah menjadi pegawai Allah.”

Pada tahun 1962 saya meminta izin kepada Tuan Guru Bengkel untuk menikah. Maka pada tanggal 5 Mei 1962 saya menikah dengan Hajjah Halimah (sekarang umur beliau 88 tahun).

Sejak saat menikah itulah saya mulai merintis pondok pesantren yang saya memberi nama “Qamarul Huda,” yakni sesuai dengan tempat pemondokan saya di Bengkel. Lalu, datanglah orang menyerahkan anaknya untuk tinggal di Bagu. Pertama kali yang datang adalah orang Pemotoh (Lombok Tengah Bagian Utara) bernama Mulud dan orang Kateng (Lombok Tengah Bagian Selatan) bernama Mulud. Keduanya bernama Mulud, kemudian saya mengganti nama keduanya, yang dari Kateng berganti nama menjadi L. Wire Bakti dan yang dari Pemotoh berganti nama menjadi Saefuddin. 

Selanjutnya banyak yang berdatangan untuk belajar di Pondok Pesantren Qamarul Huda Bagu. Pada waktu itu, saya membuka Madrasah Ibtidaiyah (1 April 1962 M). Setelah saya membuka Madrasah Tsanawiyah (1968), Tuan Guru Bengkel meninggal dunia pada tahun itu juga. 

Untuk melaksanakan di antara wasiat Tuan Guru Bengkel yaitu “… Dan usahakan pengetahuanmu bertambah dengan menuntut ilmu pada ulama Ahlus Sunnah wal Jamā‘ah,” maka pada bulan Juli 1978 M (Rajab 1398 H) saya naik haji yang ketiga bersama istri Hj. Halimah (naik haji yang kedua pada tahun 1966 juga bersama istri Hj. Halimah) dan bermukim di Makkah selama 6 tahun (6 kali haji). Di antara guru saya pada saat itu adalah Syaikh ‘Alī bin Sa‘īd al-Yamānī, adik dari Syaikh Hasan bin Sa‘īd al-Yamānī. Saya belajar fikih pada beliau. 

Guru saya yang lain adalah Abdul Hamīd Jāha; Syaikh ‘Alī Cāya, orang Thailand; Syaikh Idrīs, orang Indonesia dilahirkan di Makkah, guru al-Qur’an; Hasan Dartūm, guru al-Qur’an; Syaikh Muhammad Gafūrī, guru al-Qur’an; Syaikh Mahmūd Dardūm, guru nahwu sharaf dan ma‘ānī; Syaikh Sayyid Thāha al-Yamānī, saya belajar Riyādhush shālihīn; Syaikh ‘Abdul Fattāh Rāwā, orang Sumatra dilahirkan di Makkah; Syaikh Yūsuf al-Makkī; Syaikh ‘Iwadh al-Yamānī; Syaikh Ismā‘īl bin Zain bin ‘Usmān al-Yamānī; Syaikh Yāsin bin ‘Īsā Padang; Syaikh Sayyid Muhammad bin ‘Alawī ‘Abbās al-Mālikī; Syaikh ‘Abdullāh al-Lahajī al-Yamānī; Syaikh Sayyid Makhdhar, orang Madinah; Syaikh ‘Ubaidillāh asy-Syāmī, guru tafsir; dan Kyai Dahlān al-Jāwī bermukim di Madinah.

Suatu saat di Mekkah saya dipanggil oleh Syaikh Yāsin Padang menjelang bulan Ramadhān, saya menerima ijazah Dalā’ilul Khairāt dan Hadīs Musalsal, Kutub Sab‘ah, dan saya diberikan Ijāzah ‘Ilmiah Salafiah. Juga saya diijazahkan Hadīs Musalsal oleh Syaikh Bakrī al-Jāwī. Kemudian saya diberikan Ijāzah ‘Ilmiah Salafiah oleh Syaikh Ismā‘īl bin Zain bin Usman al-Yamānī. Saya belajar banyak kitab pada beliau selama tiga tahun di Misfalah yaitu kira-kira 3 km dari al-Haram. Saya belajar Majmū‘ul Muhadzdzab, Tuhfatul Muhtāj, Nihāyatul Muhtāj, Ihya’ ‘Ulūmuddīn, Tafsīr Jalālain, Fathul Mu‘īn, ‘Iānatuth Thālibīn, Hadīs Mukhtār dan lainnya. Saya menamatkan paling banyak kitab pada Syaikh Ismā‘īl. Juga diberikan Ijāzah ‘Ilmiah Salafiah oleh Sayyid Muhammad bin ‘Alawī pada akhir umur beliau. 

Setelah jamaah haji pulang, saya pulang ke Lombok pada tahun 1983. Setelah itu, saya membuka Madrasah Aliyah (1984) dan alhamdulillāh pondok pesantren berkembang. Pada saat menjadi Wakil Rais Syuriah NU Cabang Lombok Tengah, pada tahun 1971 diajak oleh TGH. L. M. Faisal mengikuti Muktamar XXV di Wonokromo Surabaya (20 – 25 Desember 1971); pada tahun 1972 mengikuti Munas Alim Ulama di Tebuireng; pada tahun 1989 mengikuti Muktamar XXVIII di Jogjakarta (25 – 28 November 1989) dan merupakan pertama kali bertemu dengan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pada tahun 1994 saya menjadi Wakil Rais Syuriah Wilayah NTB dan diajak pula oleh TGH. L. M. Faisal mengikuti Muktamar XXIX di Cipasung Tasikmalaya (24 Desember 1994). Kemudian pada tahun 1996 saya menjadi Rais Syuriah NU NTB dan langsung diuji menjadi tuan rumah Munas Alim Ulama pada 17 – 20 November 1997. Pada waktu itu, datanglah utusan Gus Dur, yaitu Arifin Junaidi meminta kesiapan saya untuk ditempati Munas, dan saya katakan, “Siap.” Alhamdulillāh, dimana pun Muktamar saya tetap hadir, dan pada Muktamar XXX di Lirboyo Kediri (21 – 26 November 1999), saya menjadi Mustasyar PBNU.

Di Lombok saya mendapat ijazah Dalā’ilul Khairāt pada Syaikh Yūsuf, dan dari Tuan Guru Bengkel saya mendapat ijazah Talkin Zikir, Rātib Haddād, Wirid Lathīf, Haul, al-Qur’an dan lainnya. Saya mendapat ijazah al-Qur’an dari TGH. Muhibullah dan beliau adalah guru al-Qur’an saya selam 9 tahun. Juga saya belajar al-Qur’an pada Ust. Mahduddin. Adapun guru saya pada waktu menjadi guru muda di Bengkel adalah Guru Jamil Ilyas (TGH. Izzuddin) Tembelok; Guru Yusuf Bondudok; TGH. Abdul Gafur Bali; Guru Sirat Bengkel; TGH. Kamaluddin, keponakan Tuan Guru Bengkel; dan lainnya yang tidak dapat saya menyebutkan namanya satu persatu karena lupa. 

Di antara guru mustami’ (saya menjadi pendengar) adalah TGH. M. Zainuddin Abdul Madjid (Tuan Guru Pancor), pada waktu itu tahun 1982 Syaikh Ismā‘īl datang ke Pancor dan kemudian ke Bagu; saya mengambil berkah pada Syaikh Hasan Masysyāth pada haji pertama (1954 M), juga TGH. Ibrahim Khalidi Kediri; KH. Anwar Musaddad; Sayyid Shaleh al-Kaf Tanak Beak asal Seganteng; KH. Masduki (Syuriah NU Jawa Timur); KH. Ilyas Rukyat. Inilah ijazah-ijazah ilmu yang saya terima, baik secara lisan maupun tulisan. 

Pada tahun 1999 saya membuka Sekolah Tinggi Agama Islam Qamarul Huda (Sekarang menjadi IAIQH); tahun 2006 membukan STIKES dan STKIP (sekarang menjadi Universitas Qamarul Huda Badaruddin (UNIQHBA). Lembaga yang ada di Yayasan Qamarul Huda Bagu dari RA sampai Perguruan Tinggi, termasuk Panti Asuhan, dan klinik (Rumah sakit dan fakultas kedokteran menjadi cita-cita beliau).

Pada hari Ahad, 28 Mei 2000 M (23 Shafar 1421 H) saya menikah dengan Dr. Hj. Baiq Idayatul Aini, M.H.

Adapun karya beliau sebagai penulis, sebagai berikut. 

  1. Zadul Ma’ad: Wirid Harian Muslim (2009)
  2. Wirid Bagu: Zikir dan Doa Harian Muslim (2017)
  3. Pedoman Praktis Shalat Sunnah: Menggapai Cinta Allah dengan Ibadah Sunnah (2021)
  4. Shalawat Nabi Penenang Hati: 40 Hadis Keutamaan Shalawat Nabi (2023)
  5. Ahzab: Kumpulan Hizib Menggapai Rida Allah Swt. (2024)

Adapun karya beliau sebagai Penahqiq dan Penerjemah, sebagai berikut. 

  1. Penahqiq kitab Dalilul Haul karya TGH. M. Shaleh Hambali Bengkel (2010)
  2. Penahqiq kitab Ta‘līmush Shibyān Bighāyatil Bayān karya TGH. M. Shaleh Hambali Bengkel (2013)
  3. Penahqiq kitab Cempaka Mulia Perhiasan Manusia karya TGH. M. Shaleh Hambali Bengkel (2020)
  4. Penahqiq kitab Intan Berlian Perhiasan Laki Perempuan karya TGH. M. Shaleh Hambali Bengkel (2023)
  5. Penerjemah kitab Munyatul Faqîril Mutajarrid wa Sîratul Murîdil Mutafarrid: Mukhtashar Syarhi Ibni ‘Ajîbah ‘alâ Matnil Âjurrûmiyyah fit Tashawwuf karya Syekh Abdul Qadir al-Kuhin dengan judul Nahu Sufi: Menata Bahasa Jiwa, Menggapai Makrifat Ilahi (2026)

 

Jabatan terakhir beliau adalah Mustasyar PBNU, Rais Syuriah PWNU NTB, dan Pengasuh Pondok Pesantren Qamarul Huda Bagu. Beliau adalah pengabdi umat, pejuang, mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah Khalwatiyah, dan mursyid Dalailul Khairat.

Dua kunci sukses hidup beliau, yaitu: 

  1. Ikhlas, dan 
  2. Khidmah.

Empat hal yang tidak terpisahkan dengan beliau, yaitu: 

  1. al-Quran, 
  2. Dalailul Khairat, 
  3. Wirid Bagu, dan 
  4. Tasbih.

Beliau wafat pada hari Kamis, 15 Oktober 2026 M / 4 Jumadal Ula 1448 H jam 13.37 WITA di RSUP NTB setelah 4.5 bulan terakhir mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Pusat Pertahanan Negara Jenderal Soedirman Jakarta (3 bulan), Klinik asy-Syifa’ (1 bulan 13 hari), dan RSUP (2 hari) dalam umur 90 tahun 6 bulan 14 hari hitungan Masehi dan dalam umur 93 tahun 3 bulan 25 hari hitungan Qamariah.

Inilah sebagian riwayat hidup Waliyullah Bila Niza’ TGH. L. M. Turmudzi Badaruddin.

 

وَاللهُ الْمُوَفِّقُ إِلَى أَقْوَمِ الطَّرِيْقِ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Pemakaman Bagu, 16 Oktober 2026

 

 

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *