LOBAR — Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, dan Olahraga (Disparekrafpora) Kabupaten Lombok Barat (Lobar) resmi meluncurkan rebranding agenda seni mingguan di kawasan Senggigi. Program bertajuk Senggigi Sunset Show hadir membawa format baru, menggabungkan seni tari tradisional, pertunjukan musik, hingga kegiatan olahraga. Event berkala ini dijadwalkan berlangsung setiap akhir pekan di Amfiteater Pasar Seni Senggigi hingga Desember 2026.
Keberlanjutan event ini diambil usai melihat besarnya dampak ekonomi dan pariwisata atau multiplier effect dari pelaksanaan Pekan Seni Senggigi yang telah berjalan selama sembilan pekan sebelumnya. Kegiatan tersebut dinilai sukses meningkatkan angka kunjungan wisatawan sekaligus memutar roda perekonomian pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal.
Melihat dampak positif tersebut, para pelaku usaha pariwisata, sanggar seni, hingga pemerintah desa setempat mengusulkan agar ajang penarik wisatawan ini terus dilanjutkan secara konsisten.
Kepala Disparekrafpora Lobar, Agus Gunawan, menjelaskan bahwa perubahan nama dan konsep ini merupakan bentuk evaluasi untuk meningkatkan kualitas acara secara berkelanjutan. Konsep baru ini disesuaikan dengan daya tarik utama kawasan Senggigi yang dikenal dengan sunset yang indah.
“Dari evaluasi sembilan minggu kemarin, masyarakat, penonton, hingga pedagang UMKM minta ini dilanjutkan. Atas arahan Bu Wabup, kami lakukan evaluasi, peningkatan kualitas event, dan tentunya rebranding menjadi Senggigi Sunset Show,” ujar Agus Gunawan saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (2/9).
Agus menerangkan bahwa keberadaan atraksi seni secara rutin merupakan salah satu kunci dari tiga dasar pengembangan destinasi pariwisata, yaitu atraksi. Kemudian dari sisi aksesibilitas, Senggigi, kata Agus, sudah sangat bagus; bahkan kunjungan kapal cepat (fastboat) kini mencapai 13 hingga 14 trip per hari. Serta yang terakhir, dari sisi amenitas seperti fasilitas umum juga sudah memadai.
“Yang perlu kita perkuat secara konsisten adalah atraksi. Event ini menjadi magnet penting agar wisatawan nusantara maupun mancanegara memiliki alasan untuk berkunjung dan menghabiskan waktu lebih lama,” tambahnya.
Lebih lanjut, mantan Asisten I Setda Lobar itu menjelaskan, pelaksanaan Senggigi Sunset Show tidak hanya berfokus pada hiburan semata, namun memiliki tujuan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Bahkan tetap melibatkan sanggar-sanggar seni lokal dari 10 kecamatan di Lobar secara bergiliran. Di sisi area UMKM juga terus dibina melalui proses kurasi. Pengawasan terhadap kebersihan, higienitas, dan kualitas kuliner yang disajikan menjadi perhatian utama, mengingat banyak wisatawan lokal maupun mancanegara datang untuk menyaksikan event itu.
Berdasarkan catatan evaluasi pihak dinas, pertunjukan tari tradisional menjadi atraksi yang paling diminati oleh turis asing, disusul pertunjukan musik tradisional serta kegiatan olahraga interaktif seperti senam bersama.
Program ini juga terbukti efektif menyokong tingkat penghunian kamar (occupancy) hotel di kawasan Senggigi. Pada periode high season, rata-rata okupansi hotel di kawasan ini mampu bertahan di atas 70 persen, bahkan beberapa akomodasi berbasis pemulihan atau wellness mencatatkan keterisian hingga 100 persen.
Guna mempermudah akses informasi bagi para wisatawan, pihak dinas menyebarkan kode QR (barcode) di berbagai titik strategis, mulai dari baliho informasi hingga area lobi hotel-hotel ternama di Senggigi. Wisatawan dapat melihat jadwal pertunjukan mingguan secara terperinci melalui barcode itu.
Strategi ini disiapkan untuk menjaga stabilitas sektor pariwisata Lombok Barat, terutama saat memasuki periode sepi kunjungan (low season) pada awal tahun mendatang.
“Tantangan terbesar kita ada di periode low season seperti bulan Januari, Februari, dan Maret. Melalui konsistensi penyelengaraan event seperti Senggigi Sunset Show ini, kita optimistis dapat terus menarik minat wisatawan sekaligus memperpanjang lama tinggal (length of stay) mereka di Lombok Barat,” tutup Agus. (Win)

