Lalu Muhammad Iqbal dan Mori Hanafi. (Foto: istimewa)

Gong pertarungan perebutan kursi Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) NTB periode 2026-2030 mulai dipukul.

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal resmi turun gelanggang. Ia mendaftarkan diri sebagai bakal calon Ketua Umum KONI NTB, Jumat (14/8), tepat pada hari terakhir pendaftaran.

Langkah tersebut langsung mengubah peta persaingan. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai mekanisme organisasi, publik olahraga NTB berpotensi menyaksikan pertarungan menarik antara Iqbal dan Mori Hanafi, yang lebih dahulu menyatakan diri maju.

Ini bukan sekadar perebutan kursi ketua. Kontestasi tersebut menyangkut arah pembinaan dan masa depan olahraga NTB untuk empat tahun ke depan.

Iqbal Masuk, Peta Persaingan Berubah

Iqbal menyerahkan berkas pendaftaran seusai salat Jumat. Ia datang didampingi Ketua KONI Kota Mataram Firadz Pariska dan Ketua FPTI NTB Nadirah.

Seluruh dokumen diserahkan kepada Tim Penyaringan dan Penjaringan (TPP) untuk diverifikasi sesuai ketentuan.

Iqbal mengatakan pendaftaran pada hari terakhir dilakukan untuk memenuhi persyaratan administratif.

“Kan batas terakhirnya hari ini. Jadi kita penuhi persyaratannya saja dulu,” kata Iqbal.

Namun secara politik organisasi, kehadiran Iqbal jelas membuat persaingan semakin menarik. Gubernur NTB kini resmi masuk ke dalam arena perebutan kursi pimpinan KONI.

Dua Kandidat, Dua Modal

Dalam sebuah pertandingan, setiap pemain memiliki kekuatan masing-masing.

Mori Hanafi memiliki pengalaman dalam organisasi olahraga dan memahami dinamika KONI maupun cabang olahraga. Sementara Iqbal masuk dengan kekuatan sebagai gubernur, sekaligus memiliki ruang koordinasi yang luas dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan.

Namun, pertandingan ini tidak ditentukan oleh jabatan atau popularitas.

Penentu akhirnya adalah mekanisme organisasi dan suara pemilik hak suara dalam Musorprov KONI NTB.

Karena itu, setiap klaim dukungan dari kandidat maupun timnya tetap perlu diverifikasi. Dalam konteks ini, angka dukungan bukanlah skor akhir sebelum pertandingan benar-benar berlangsung.

Tim Pemenangan Mulai Menyusun Strategi

Di balik kandidat, ada tim yang bekerja membaca peta pertandingan.

Jika kandidat adalah pemain utama, tim pemenangan merupakan pelatih yang menyusun strategi dari pinggir lapangan. Mereka akan memetakan kekuatan, membaca konfigurasi dukungan, membangun komunikasi dengan cabang olahraga dan KONI kabupaten/kota, serta menentukan momentum yang tepat bagi kandidat untuk tampil.

Karena itu, pertarungan Ketua KONI NTB sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang Iqbal versus Mori.

Ada pertarungan strategi di belakangnya.

Tim mana yang paling mampu membaca peta suara?

Tim mana yang paling kuat melakukan konsolidasi?

Tim mana yang mampu mengubah dukungan menjadi suara nyata di Musorprov?

Pertanyaan tersebut baru akan terjawab ketika pertandingan memasuki babak penentuan.

PON 2028 Menjadi Target Besar

Di tengah meningkatnya tensi persaingan, Iqbal justru berusaha menurunkan suhu politik organisasi.

Ia menegaskan kontestasi harus berlangsung damai dan tetap menjaga persatuan.

“Pokoknya ini damai. Ini berjalan dengan lancar, baik-baik. Semangatnya harus sama,” ujarnya.

Menurut Iqbal, siapa pun yang terpilih harus memiliki tujuan yang sama, yakni meningkatkan prestasi olahraga NTB dan mempersiapkan daerah menghadapi PON 2028.

“Semangatnya untuk memastikan kita di PON 2028 bisa menjadi tuan rumah yang baik dan berhasil, dan juga nanti prestasinya meningkat,” katanya.

PON 2028 dengan demikian menjadi target besar yang semestinya menyatukan seluruh kubu setelah kontestasi berakhir.

Saatnya Adu Program

Pertarungan akan menjadi lebih sehat jika tidak berhenti pada adu dukungan.

Kandidat harus diuji melalui program.

Berapa target medali NTB di PON 2028?

Cabor mana yang menjadi prioritas?

Bagaimana pembinaan atlet muda?

Bagaimana kesejahteraan atlet dan pelatih?

Bagaimana sistem penghargaan bagi atlet berprestasi?

Dan bagaimana tata kelola serta transparansi anggaran KONI?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang semestinya menjadi pusat perhatian publik olahraga NTB.

Pers Harus Menjadi Wasit Informasi

Di tengah kontestasi, pers memiliki posisi strategis.

Media boleh menggunakan bahasa olahraga untuk menggambarkan dinamika perebutan kursi KONI—duel, strategi, konsolidasi, lini tengah hingga babak final.

Namun, pers tidak boleh berubah menjadi suporter.

Media harus berada di tengah lapangan sebagai wasit informasi: menguji klaim, memeriksa fakta, memberi ruang yang proporsional kepada setiap kandidat, sekaligus mengawal isu yang lebih besar, yakni masa depan olahraga NTB.

Jangan hanya memberitakan siapa yang mengklaim memiliki dukungan terbanyak.

Uji siapa yang benar-benar memiliki dukungan.

Jangan hanya melihat siapa yang datang membawa rombongan besar.

Lihat siapa yang membawa program paling konkret.

Dan jangan hanya menghitung kekuatan politik.

Ukur pula kemampuan kandidat membangun prestasi olahraga.

Kick-Off Baru Dimulai

Pendaftaran Iqbal belum menjadi peluit akhir.

Justru kick-off baru saja dimulai.

Masih ada proses verifikasi administrasi, penyaringan, penetapan calon, konsolidasi pemilik suara hingga Musorprov yang akan menentukan siapa pemegang kendali KONI NTB periode 2026-2030.

Di sinilah strategi masing-masing tim akan diuji.

Ada strategi yang terlihat di depan publik. Ada pula komunikasi yang berlangsung di belakang layar.

Ada dukungan yang diumumkan secara terbuka. Ada pula lobi organisasi yang berjalan lebih senyap.

Namun apa pun strategi yang dimainkan, pertandingan harus tetap berada dalam koridor sportivitas dan aturan organisasi.

Sebab Musorprov hanya menentukan siapa yang mendapat mandat memimpin.

Pertandingan sesungguhnya adalah PON 2028.

Di sana, bukan lagi Iqbal atau Mori yang bertanding.

Bukan pula tim pemenangan yang berada di lapangan.

Atlet NTB-lah yang membawa nama daerah.

Karena itu, siapa pun yang terpilih nantinya harus mampu mengubah kemenangan dalam Musorprov menjadi prestasi di arena PON.

Kursi Ketua KONI adalah awal pertandingan. Podium PON 2028 adalah target akhirnya.

Penulis: Pemimpin Umum Radar Mandalika

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *