LOMBOK TENGAH – Kepulangan Ihsan (35), yang akrab disapa Esan, ke kampung halamannya di Desa Kabul, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi momen penuh haru dan syukur bagi keluarga besarnya.

Setelah 20 tahun merantau ke Malaysia sejak 2007 dan sempat menjalani hukuman penjara selama sembilan tahun, Esan akhirnya bisa kembali ke tanah kelahirannya berkat bantuan berbagai pihak, termasuk Badan Penghubung NTB di Jakarta dan Anggota DPR RI, Lalu Hadrian Irfani.

Dalam suasana emosional setibanya di Lombok, Esan mengungkapkan rasa terima kasih mendalam kepada semua pihak yang telah membantu proses kepulangannya, mulai dari pengurusan administrasi hingga pengawalan perjalanan dari Jakarta sampai ke rumah keluarganya di Lombok Tengah.

“Ya gak bisa terbalas bantuan dari semua pihak,” ucap Esan singkat namun penuh makna, Sabtu (16/5/2026).

Selama bertahun-tahun menjalani hidup di balik jeruji besi, kerinduan untuk kembali berkumpul bersama keluarga menjadi kekuatan utama yang membuatnya bertahan dan tetap berpikir positif.

Di tempat yang sama, Jhoni Sutangga, pihak keluarga yang aktif mengoordinasikan proses pemulangan Esan, menjelaskan bahwa banyak pihak bergerak cepat untuk memastikan Esan dapat segera pulang ke rumah. Ia menyoroti peran besar Badan Penghubung NTB di Jakarta yang sejak awal membantu proses penjemputan hingga keberangkatan ke Lombok.

“Saya membangun komunikasi ke semua pihak, terutama Badan Penghubung NTB yang punya peran besar. Mereka yang menjemput dari BP3MI, membawa ke Wisma NTB, hingga mengantar ke bandara tadi pagi sampai Ihsan naik pesawat,” ujar Jhoni.

Ia juga mengungkapkan bahwa proses kepulangan Esan melalui jalur penerbangan sangat terbantu oleh perhatian dan dukungan dari Lalu Hadrian Irfani beserta stafnya.

“Urusan penerbangannya ke Lombok itu kita dibantu sama Lalu Hadrian Irfani. Beliau lewat stafnya mengurus penerbangan Ihsan,” lanjutnya.

Selain itu, Jhoni turut menyampaikan apresiasi kepada rekan-rekan di Dinas Tenaga Kerja Provinsi NTB yang membantu proses administrasi sejak awal hingga koordinasi dengan BP3MI di Jakarta. Pihaknya juga mengapresiasi BP3MI yang cukup koperatif dalam pelungan Esan.

Kini, setelah dua dekade terpisah dari kampung halaman, Esan akhirnya kembali berkumpul bersama keluarganya. Meski harus menerima kenyataan pahit karena sang ayah telah meninggal dunia saat dirinya masih berada di perantauan, Esan mengaku bersyukur akhirnya bisa pulang.

Ziarah ke makam sang ayah menjadi tujuan pertama yang ingin ia lakukan untuk melepas rindu yang tertahan selama bertahun-tahun. (red)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *