Oleh: Jhoni Sutangga
Jurnalis Radar Mandalika
Satu abad perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) bukanlah sekadar hitungan usia organisasi, melainkan penanda sejarah panjang perjuangan Islam Nusantara dalam menjaga keseimbangan antara iman, tradisi, dan kemanusiaan. Sejak didirikan pada 1926, NU hadir bukan hanya sebagai jam’iyah keagamaan, tetapi sebagai penjaga wajah Islam yang ramah, membumi, dan kontekstual dengan realitas sosial budaya Indonesia.
Islam Nusantara yang disiarkan NU sejak awal bukanlah Islam baru, apalagi ajaran yang menyimpang dari pokok-pokok syariat. Ia adalah cara berislam yang menghargai kearifan lokal, menjunjung tinggi akhlak, serta mengedepankan kemaslahatan umat. Dalam satu abad perjalanannya, NU telah membuktikan bahwa dakwah tidak selalu harus keras, apalagi memaksa, tetapi bisa dilakukan dengan hikmah, keteladanan, dan kesabaran.
Penyiaran Islam Nusantara oleh NU tampak jelas melalui jaringan pesantren yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter, toleransi, dan kebangsaan. Dari pesantren, lahir para kiai dan santri yang tidak hanya memahami kitab kuning, tetapi juga realitas sosial masyarakatnya. Inilah kekuatan utama NU: menyatukan ilmu agama dengan kepekaan sosial.
Dalam konteks sejarah, NU memainkan peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Resolusi Jihad 1945 adalah bukti nyata bahwa Islam Nusantara tidak terpisah dari semangat cinta tanah air. Bagi NU, hubbul wathan minal iman bukan sekadar slogan, tetapi prinsip hidup. Islam disiarkan sebagai kekuatan moral untuk membebaskan, bukan menindas; untuk mempersatukan, bukan memecah belah.
Memasuki abad kedua, tantangan penyiaran Islam Nusantara semakin kompleks. Arus globalisasi, digitalisasi, dan ideologi transnasional sering kali membawa pemahaman keagamaan yang kaku dan tidak selaras dengan realitas Indonesia. Di sinilah NU diuji: bagaimana tetap teguh pada manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah, sekaligus adaptif terhadap perubahan zaman.
NU tidak boleh terjebak romantisme masa lalu. Penyiaran Islam Nusantara hari ini menuntut inovasi. Dakwah tidak cukup hanya di mimbar masjid dan majelis taklim, tetapi juga harus hadir di ruang digital: media sosial, platform video, podcast, dan diskursus publik. Nilai-nilai tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil) harus diterjemahkan dalam bahasa yang dipahami generasi muda.
Islam Nusantara juga harus terus ditegaskan sebagai Islam yang menjunjung tinggi kemanusiaan universal. Dalam isu-isu kebangsaan, keadilan sosial, lingkungan hidup, hingga perdamaian global, NU memiliki modal besar untuk menjadi rujukan moral. Pengalaman satu abad mengajarkan bahwa Islam yang berpihak pada kemanusiaan justru akan semakin diterima dan relevan.
Satu abad NU adalah bukti bahwa Islam dan budaya lokal tidak harus saling meniadakan. Keduanya bisa bersinergi, saling menguatkan, dan melahirkan peradaban yang damai.
Tantangan ke depan memang tidak ringan, tetapi dengan tradisi keilmuan, jaringan umat, dan keteladanan para kiai, NU memiliki bekal kuat untuk terus menyiarkan Islam Nusantara sebagai rahmat bagi semesta alam. Pada akhirnya, merayakan satu abad NU bukan hanya soal mengenang masa lalu, tetapi meneguhkan komitmen masa depan. Islam Nusantara harus terus hidup, bergerak, dan memberi makna—bagi Indonesia dan bagi dunia.