MUHAMAD RIFA'I / RADAR MANDALIKA BANJIR: Air banjir yang melintasi jalan di Lotim.

LOTIM – Air yang menerjang empat desa, yakni Desa Sukadamai, Wakan, Sukaraja dan Pandan Wangi Kecamatan Jerowaru Lombok Timur (Lotim), mulai surut. Arus lalu lintas juga telah kembali normal. Akibat banjir itu, sebanyak 175 hektare sawah warga di empat desa, terkena dampak. Kemudian 150 unit lebih rumah warga terendam, ditambah dua bangunan sekolah.

Sekretaris Daerah (Sekda) Lotim, yang juga penjabat Kepala Penanggulangan Bencana Daerah Lotim, HM Juaini Taofik, disela-sela kegiatannya turun ke lokasi banjir mengatakan, banjir terjadi akibat limpahan atau pasokan air dari Kali Ganti dan Semapak Janapria Lombok Tengah, yang masuk ke embung Tembeng Desa Sukadamai. Belum lagi air limpahan sawah, setelah diguyur hujan dengan intensitas tinggi.

Koordinasi sudah dilakukan pengamat pengairan Lotim dengan pengamat pengairan Lombok Tengah, sehingga masalah banjir bisa diminimalisir. Pintu aliran air dari Kali Ganti dan Semapak ditutup dan telah dialihkan. Sehingga, yang masih mengalir deras melalui jalan dan melintasi sawah warga hanyalah limpahan air sawah dari hulu. Termasuk yang masih mengalir ke embung tembeng, juga air linpahan sawah di bagian hulu.

“Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa dan kerusakan rumah warga. Berapa besar kerugian materil petani, masih dalam proses penghitungan dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD),” katanya.

Setelah dilakukan musyawarah bersama Camat, Danpos Ramil, Kapolsek dan Kades Sukadamai Lanjut Juaini, beberapa langkah akan diambil, untuk memantau pergerakan pasokan air. Salah satunya melakukan piket, terutama bila curah hujan tetap tinggi. Disamping itu, memberikan imbauan pada masyarakat, agar meningkatkan kewaspadaan.

Langkah terburuk juga akan diambil pemerintah, bilamana embung tembeng tetap mendapat pasokan air hingga meluber, dan dapat mengancam tanggul jebol, yang bisa menyapu rumah warga. Pemerintah akan menjebol tanggul yang ke arah persawahan. Luas areal persawahan akan terkena dampak bila dilakukan penjebolan, sekitar 5 hektare. Tentu, dengan konsekuensi pemerintah akan ganti rugi padi petani. “Sekarang ini, bagaimana mengamankan air embung tembeng, supaya tanggulnya tidak jebol,” tegas Juaini.

Ia mengungkapkan, sawah dan rumah warga terendam, akibat tidak normalnya saluran besar yang ada, seperti sungai, kali dan lainnya. Sehingga, pemerintah Lotim berharap dilakukan normalisasi, sebagai solusi atas pernasalahan ini. Karena embung tembeng dan sungai menjadi ranah Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara Dua, sehingga Pemerintah Lotim, akan bersurat pada BWS.

“Tidak mungkin kita akan lakukan normalisasi embung tembeng dan sungai, karena itu wilayah kewenangan BWS. Untuk normalisasi ini, Bupati akan bersurat ke BWS,” pungkasnya. (fa’i/r3)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *