LOBAR – Gerakan Menanam Cabai yang dipelopori Wakil Bupati Lombok Barat (Lobar) Hj. Nurul Adha mulai diterapkan. Langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga pangan di tengah ancaman lonjakan inflasi ini dilakukan dengan menyasar lingkungan sekolah dan pemukiman.
Wabup Lobar Ummi Nurul bahkan masif melakukan gerakan itu. Seperti yang dilakukan di SMPN 2 Gerung, Kamis (27/8).
Ummi Nurul menekankan bahwa meskipun bentuk fisiknya kecil, cabai memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap laju inflasi daerah. Pergerakan harga cabai sering kali menjadi pemicu utama gejolak harga bahan pokok di pasar.
“Cabai ini ternyata kecil, tetapi sangat memengaruhi inflasi. Oleh karenanya, kita mengajak menanam cabai di sekolah ataupun di tempat-tempat yang lain sebagai salah satu gerakan yang masif di Lobar untuk ikut mengendalikan inflasi,” ujar Ummi Nurul di sela-sela kegiatan.
Ketersediaan bahan pangan menjadi kunci utama dalam mempertahankan ketahanan pangan daerah. Selain beras yang menjadi kebutuhan pokok utama, keberadaan pasokan cabai segar yang memadai di tingkat lokal dinilai sangat vital.
Menurutnya, bukan tanpa alasan gerakan ini menyasar sekolah. Ummi Nurul menjelaskan bahwa program ini tidak sekadar kegiatan fisik melintasi ruang kelas, tetapi disinergikan sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang sarat akan nilai edukasi.
Para siswa diajak mengenal proses bercocok tanam sekaligus memahami dampak ekonomi di balik kegiatan tersebut. “Salah satunya juga kita ingin mengajak anak-anak kita supaya memahami apa itu inflasi, dan mereka juga ikut memahami kenapa harus menanam cabai. Di sekolah, ini bisa menjadi ekstrakurikuler dan sebagai media untuk membangun karakter anak-anak kita,” jelaskannya.
Pengenalan literasi keuangan sejak dini sangat penting untuk generasi muda agar memahami dinamika pasar. Proses merawat tanaman tersebut juga sekaligus melatih ketelatenan dan kesabaran anak.
Meskipun program ini digencarkan secara masif, Ummi Nurul membeberkan bahwa laju inflasi di Kabupaten Lobar saat ini sebenarnya berada dalam kondisi yang sangat baik dan terkendali. Angka inflasi daerah tercatat berada di kisaran 2 persen sekian, yang masih masuk dalam rentang ideal inflasi positif nasional, yakni 2 hingga 4 persen.
Kendati demikian, langkah preventif tetap harus dilakukan sebelum terjadi lonjakan harga yang berpotensi membebani masyarakat. Pengendalian inflasi juga dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan ekonomi agar tidak merugikan konsumen maupun para petani lokal.
“Pengendalian inflasi ini supaya harga tidak terlalu tinggi dan harga juga tidak terlalu anjlok. Jangan sampai masyarakat pada saat butuh harga naik, atau pada saat hasil pertanian melimpah kemudian harga menjadi anjlok yang akhirnya merugikan petani kita. Rakyat bahagia, petani juga bahagia, masyarakat bisa membeli dengan harga yang selayaknya,” tegasnya. (win)

