MATARAM – Tim Peneliti MoRA The AIR Funds Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram bekerja sama dengan INOVASI menggelar sosialisasi sekaligus uji coba Modul Pengasuhan Berbasis Gender dan Kearifan Lokal sebagai upaya mencegah kekerasan terhadap anak di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Camat Selaparang, Kota Mataram, Sabtu (1/8/2026), menjadi bagian dari penelitian yang mengembangkan model pengasuhan anak berbasis budaya lokal masyarakat Sasak, Samawa, serta Mbojo-Dompu.
Sebanyak 20 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari pasangan suami istri, ibu dan anak, hingga pasangan calon pengantin. Selama kegiatan, peserta mendapatkan materi sekaligus simulasi yang dipandu oleh aktivis INOVASI dan spesialis inklusi sosial NTB, Baiq Zulhiyatina atau yang akrab disapa Mbak Lia.
Perwakilan Tim Peneliti UIN Mataram, Dr. Syukri, M.Ag., mengatakan sosialisasi dan uji coba modul merupakan tahapan penting dalam penelitian yang sedang dikembangkan.
“Tahun pertama penelitian difokuskan pada pengumpulan data lapangan serta penyusunan draf modul. Memasuki tahun kedua, kami mulai melakukan sosialisasi dan uji coba langsung kepada masyarakat, diawali di Kota Mataram,” ujarnya.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta diajak mendiskusikan berbagai persoalan terkait perlindungan anak. Pada hari pertama, materi difokuskan pada identifikasi persoalan anak di lingkungan masyarakat, hubungan pola pengasuhan dengan tumbuh kembang anak, dampak kekerasan dalam pengasuhan, hingga pemahaman mengenai perbedaan jenis kelamin biologis (sex) dan gender beserta pengaruhnya terhadap pola asuh.
Selain itu, peserta juga mempelajari praktik pengasuhan yang tergolong kekerasan maupun pengasuhan tanpa kekerasan, hak-hak anak, serta perbedaan antara pola asuh tradisional dengan pendekatan pengasuhan yang responsif gender.
Pada hari kedua, kegiatan diarahkan untuk menggali kembali nilai-nilai kearifan lokal yang mendukung perlindungan anak. Peserta juga diajak mengidentifikasi praktik pengasuhan yang berpotensi bias gender, mengeksplorasi nilai-nilai positif dalam tradisi lokal, hingga menyusun strategi mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam pola pengasuhan keluarga dan komunitas.

Salah seorang peserta, Nurkholis, mengaku memperoleh banyak wawasan baru melalui kegiatan tersebut.
“Materi yang disampaikan sangat informatif dan aplikatif. Diskusi interaktif hari ini membuka wawasan baru bagi kami, terutama terkait kearifan lokal dan langkah konkret yang dapat diterapkan setelah pelatihan ini,” katanya.
Tim peneliti berharap modul ini tidak hanya menjadi bahan pembelajaran, tetapi juga dapat diterapkan secara nyata oleh masyarakat dalam membangun pola pengasuhan yang ramah anak, bebas kekerasan, serta tetap berlandaskan nilai-nilai budaya lokal.
Untuk mengukur efektivitas program, tim peneliti melakukan pre-test dan post-test kepada seluruh peserta menggunakan instrumen yang sama. Evaluasi tersebut mencakup pemahaman mengenai pengasuhan anak, bentuk-bentuk kekerasan terhadap anak, nilai-nilai kearifan lokal Lombok, serta penerapannya dalam kehidupan keluarga. Dampak jangka panjang kegiatan ini juga akan diukur melalui survei lanjutan yang dijadwalkan dua bulan setelah pelaksanaan kegiatan. (*)
