JANAPRIA, LOMBOK TENGAH– Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lingkok Beringe (Libra) terus berinovasi dalam meningkatkan kualitas layanan distribusi makanan bagi siswa. Salah satu langkah konkret yang kini tengah diuji coba adalah penerapan sistem pelayanan prasmanan, bekerja sama dengan pihak SMKN 1 Janapria.
Uji coba ini tidak hanya menjadi eksperimen teknis semata, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran bersama dalam mencari pola distribusi yang lebih efektif, efisien, dan edukatif. Dalam pelaksanaannya, siswa diarahkan untuk mengambil makanan secara mandiri dengan tetap memperhatikan porsi yang telah ditentukan.
Di balik pelaksanaan uji coba tersebut, terdapat kerja kolektif lintas tim yang menjadi fondasi utama keberhasilan program. Kolaborasi antara unsur KA sppg, tim Gizi, Chief (pengelola dapur), serta para mitra menjadi kekuatan utama dalam merancang hingga mengeksekusi sistem pelayanan ini di lapangan.
Pihak pelaksana menegaskan bahwa capaian ini bukan hasil kerja individu, melainkan buah dari sinergi tim yang solid. Setiap unsur memiliki peran strategis, mulai dari perencanaan menu, pengolahan makanan, hingga distribusi yang tepat sasaran kepada para siswa sebagai penerima manfaat.
Lebih dari itu, pendekatan yang dibangun juga mengedepankan prinsip keterbukaan. SPPG Lingkok Beringe (Libra) bersama seluruh tim berkomitmen untuk terus membuka ruang diskusi dan menerima berbagai masukan, baik dari pihak sekolah, kader, maupun siswa sebagai penerima manfaat langsung.
“Ke depan, kami berharap sistem ini bisa terus disempurnakan. Masukan dari sekolah, kader, dan siswa sangat penting agar pelayanan semakin baik dan sesuai kebutuhan di lapangan,” ungkap salah satu tim pelaksana.
Dengan semangat kolaboratif tersebut, program ini diharapkan tidak hanya berhenti pada tahap uji coba, tetapi mampu berkembang menjadi model pelayanan yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Sinergi antara tim pelaksana dan penerima manfaat menjadi kunci agar setiap kebijakan yang diambil benar-benar tepat guna.

Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa keberhasilan program pemenuhan gizi tidak hanya diukur dari tersedianya makanan, tetapi juga dari bagaimana sistem pelayanan dibangun secara partisipatif, transparan, dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan. (red)