Sepenggal Cerita dari Kades Barejulat

1612220894757 F Bok rotated e1612342235969

FENDI/RADARMANDALIKA Selim

Cita-cita jadi Tentara, Pernah jadi TKI ke Malaysia

Siapa yang tidak tahu Selim di Desa Barejulat, Kecamatan Jonggat. Dia sudah dua tahun menjabat kepala desa setempat.

FENDI-LOMBOK TENGAH

PRIA ini berbadan tinggi dan kurus, sejak dua tahun duduk di kursi orang nomor satu di Desa Barejulat, Kecamatan Jonggat. Sebagai sosok pemimpin, dia mencerminkan sikap kepedulian yang tinggi kepada jajaran dan masyarakat. Wartawan Radar Mandalika sempat berbincang dengan Selim. Dia banyak bercerita tentang pengalaman hidupnya. Masa- masa pahit seolah memberinya semangat bahwa hari esok pasti akan berkahir.

Kades kelahiran Barejulat tanggal 31 Desember 1972 tersebut dari masa kecilnya memiliki cita- cita yang luar biasa. “Cita- cita saya ingin jadi Abri atau tentara dan harus bagian tempur,” ceritanya.

Pendidikan sekolah dasar dia tempuh di SDN Dasan Lekong, MTs di MTsN Praya, dan SMA, SMA Korpri Kabupaten Lombok Tengah. Lulus SMA ia langsung melamar sebagi TNI, namun selama empat kali dia mengikuti seleksi, dirinya selalu gugur.

Cita- cita sebagi TNI terkubur, ia memutuskan untuk pergi  merantau ke Malaysia, di sana dia banyak belajar, mengerjakan berbagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhannya di rantauan.

“Saya bolak balik ke Malaysia, paling lama di sana satu tahun, kadang- kadang juga tiga bulan sekali saya balik,” tuturnya.

Setelah sempat dioperasi, yang kemudian berdampak pada tenaga yang kurang fit untuk pekerjaan berat, ia memutuskan untuk tidak jadi TKI ke Malasyia lagi. Kemudian dia bekerja serabutan di rumah, termasuk menggeluti berbagai profesi seperti penjual batako, bata merah, semangka, dan lainnya.

Lahirnya anak pertama mungkin menjadi kebahagiaan bagi banyak orang, namun bagi dirinya kebahagiaan itu berkurang sebab anak pertamanya lahir dalam keadaan lumpuh totol.

“Anak pertama saya lumpuh total, tapi selalu saya syukuri, Alhamdullilah anak kedua tidak,” katanya bersyukur.

Berkarir sebagai pemimpin, ia awali dengan menjabat sebagai kadus di Barejulat, jabatan itu ia pegang dalam waktu empat tahun kemudian dicalonkan menjadi kepada desa Barejulat.

Pada pilkades sebelumnya cerita Selim, ia sempat ikut terlibat sebagi salah satu calon, modal nekat dan perhitungan yang tidak matang ia hanya mampu memperoleh suara 434 suara dari ribuan jumlah pemilih yang ada, alhasil ia pun kalah.

“Saat itu saya tidak percaya masyarakat saya percaya sama dukun,” ceritanya.

Waktu berjalan, kepeduliannya terhadap masyarakat terutama masyarakat miskin terus ia tunjukkan. Jika ada masyarakat yang sakit ia bawa berobat ke dokter. Jika ada masyarakat yang membutuhkan bantuan ia carikan solusi untuk mereka.

“Saya pernah merasakan penderitaan, jadi saya tidak bisa melihat masyarakat itu menderita, saya upayakan berbagai cara untuk membantu mereka,” tuturnya.

Kepedulian ini menghantarkan dirinya pada posisi saat ini. Pilkades tahun 2019 tersebut ia modalkan dengan mendatangi rumah warga satu persatu. Silaturrahmi dan mendengar keluhan masyarakat dari pintu ke pintu sembari menyebarkan misi pemberdayaannya ia berhasil menarik hati masyarakatnya.

Dengan kondisi pengasilan yang pas- pasan di bantu dengan sawadaya masyarkat, Selim diusung warga untuk dicalonkan sebagai Kades. Setelah melalui proses yang panjang Selim nomor urut 5 unggul dari lawan politiknya dengan persentase kemenangan yang luar biasa 75 persen dari jumlah pemilih.

Tangisan haru dari keluarga dan masyarakat sekitarnya saat mengetahui dirinya terpilih, menjadi babak baru tanggung jawab besar yang saat ini pegang.

Lulusan S 1 Widia Darma Surabaya tersebut berkomitmen untuk terus berupaya  memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakatnya sehingga  harapannya masyarakat dapat merasa memiliki desa dan merasakan setiap pembangunan yang ada  dan di proramkan oleh desa.

“Saya naik atas dasar pilihan masyarakat, jadi saya tidak punya kepentingan lain selain untuk mensejahterakan masyartakat,’’ terangnya.

Ia mengimbau untuk para jajarannya untuk dapat memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, masyarakat jangan dipersulit apa lagi dibebankan hal- hal yang sifatnya ucapan terimakasih.

“Masyarakat yang menilai kalian, jika dia bilang baik maka kamu baik, jika tidak kamu bisa saya berhentikan,” tegasnya.(*)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Viral, Gubernur NTB Langsung Minta Maaf

Read Next

10 Tahun jadi Wali Kota, Ahyar Pamitan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *