MATARAM – Polling aspirasi publik pasangan calon gubernur dan wakil gubernur NTB 2024 beredar luas di politisi udayana. Pada polling tersebut pertanyaan yang muncul pasangan gubernur dan wakil gubernur NTB 2024 sebaiknya berasal dari mana? Hasil Polling itu pasangan Lombok – Sumbawa lebih banyak diinginkan masyarakat yaitu mencapai 48,1 persen. Kemudian pasangan Lombok – Lombok sebesar 38,5 persen lalu pasangan Sumbawa – Lombok diinginkan hanya 13,5 persen. Sayangnya jumlah responden pada polling tersebut tidak mencapai 100 orang.
Menurut Anggota DPRD NTB, Ruslan Turmuzi jika melihat dari aspirasi masyarakat sesuai hasil Polling itu menandakan masyarakat Lombok sudah mulai cerdas dalam menentukan pilihan calon gubernur dan wakil gubernur 2024.
“Ini artinya Lombok sudah cerdas dalam menentukan pilihan politiknya kedepan,” ungkap Ketua Fraksi Bintang Perjuangan Nurani Rakyat (BPNR) DPRD NTB, Ruslan Turmuzi sembari memperlihatkan hasil Polling tersebut di Mataram kemarin.
Ruslan mengatakan banyak sisi yang dilihat publik mengapa menentukan pilihan ataupun harapannya kedepan itu. Misalnya pengamatan pemerintahan Zul Rohmi saat ini terutama jabatan birokrasi mulai dari eselon IV sampai eselon II yang banyak diisi oleh kelompok kelompok atau golontan mereka yang tidak mencerminkan asas keadilan. Komposisi penempatan jabatan itu menyebabkan rasa ketimpangan dalam aspek pelayanan masyarakat. Lalu alokasi penempatan anggaran, penempatan pejabat, kebijakan pemerintah yang sifatnya mementingkan kelompok tertentu dan kelompok lain juatru dimarjinalkan.
“Artinya tingkat kepuasan pelayan masyarakat ndak ada,” kata Ruslan.
“Banyak sisi aspek yang dilihat masyarakat,” sambunya.
Ruslan juga menyinggung ketimpangan alokasi anggaran antara Pulau Lombok dan di Pulau Sumbawa. Pemrov hanya banyak beretorika alias mengumbar janji dan minim dalam realisasinya.
Politisi PDIP itu mengatakan pemeratan pembangunan itu tidak dilihat dari aspek representasi antar pulau melainkan pembangunan itu dilihat dari potensi,
dan kajian kajian tertentu.
“Pemerataan tetap tapi proporsional dong. Tidak bisa dilakukan pemerataan tanpa sikap proporsional,” tegas Ruslan.
Dari penilaiannya yang keliru dilihat Ruslan ialah managmen kepeminpinan Zul Rohmi. Dampak dibawah beberapa kebijakannya sering dikritik langsung oleh masyarakat.
“Misalnya ada keluhan yang sama dari masyarakat tapi yang didahulukan kalau keluhan itu datang dari kelompok mereka. Yang lain hanya direspon biasa. Makanya saya bilang terlalu banyak retorika tapi minim pembuktian,” tegasnya.
Oleh karena itu jika ada aspirasi publik yang menginginkan perubahan pola pasangan gubernur wakil gubernur NTB pada 2024 itu sangat wajar. Itu sebagai bentuk perlawanan dari kebijakan yang diduga menguntungkan segelintir orang.
Untuk membuktian apa yang disampaikan itu, Ruslan telah mengantongi data data lengkap terumata formasi dan alokasi anggaran APBD NTB setiap tahunnya. Sayangnya Ruslan masih belum mau menyuguhkan data data itu ke publik.
“Ada saatnya nanti dubuka semua,” tegasnya.
Sementara itu Pengamat Politik UIN Mataram, Ihsan Hamid mengatakan polling sejenis itu tidak bisa dijadikan pijakan serius. Selain karena partisipannya tidak valid juga persebarannya tidak representatif secara geografis. Setidaknya yang vote itu punya nomer Hp. Lalu jumlah yang Vote terlalu sedikit dan tidak terverifikasi dengan baik siapa dari mana, latar belakang dan sebagainya maka dasarnya menjadi lemah.
“Jadi siapapun berpasangan sama siapapun juga tidak masalah. Tidak mesti Lombok-Sumbawa atau Lombok-Lombok dan seterusnya,” ungkap Ihsan dikonfirmasi terpisah.
Ihsan mengatakan menyuarakan pasangan calon seperti itu berlaku jika ingin meraih simpati elektoral saja. Tidam ada dalam ketentua per undang – undangan. Jika kira kira Paslon tertentu semua dari Lombok, atau Lombok Sumbawa, Bima, Dompu dan kuat secara finansial tentu tidak apa apa.
“Jadi jikapun ada Paslon Kada dari Lombok-Sumbawa dan seterusnya itu lebih sebagai strategi elektoral saja untuk memenangkan pertarugan,” terangnya.
Ihasan menegaskan yang pasti untuk konteks Pilkada NTB paslon yang ideal adalah Paslon yang terdiri dari Lombok-Sumbawa atau Bima atau Dompu.
“Kalau bicara populasi suku di NTB ya Lombok-Sumbawa paling besar,” terangnya. (jho)