LOBAR—Pertumbuhan laju ekonomi Kabupaten Lombok Barat (Lobar) meningkat lima tahun terakhir periode 2018-2022. Badan Pusat Statistik (BPS) Lobar mencatat peningkatan laju pertumbuhan Ekonomi 2022 laju mencapai 3,46 persen. Baik itu pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ADHB maupun ADHK selama periode itu.

Hal itu diungkapkan Kepala BPS Lobar, Lalu Supratna saat Ekspose hasil penyusunan PDRB Kecamatan di Kabupaten Lobar yang berlangsung di Aula Kantor Bappeda Lobar, Selasa (28/11).

Pada ekspose yang dihadiri Sekretaris Bappeda Lobar, Hj. Sri Muryaningsih bersama OPD lintas sektor Pemkab Lobar, dijabarkan 17 indikator pembentuk PDRB Pemkab Lobar. Bahkan lima indikator diantaranya menjadi penyumbang terbesar peningkatan laju ekonomi Gumi Patuh Patut Patju itu.

Menurut Kepala BPS Lobar Lalu Supratna lima sektor itu, pertama sektor pertanian, kehutanan dan perikanan ini menjadi penyumbang terbesar PDRB Lobar 2019 sebesar 20.06 persen. Kemudian kategori kedua Perdanganan besar, eceran, reparasi mobil dan motor mencapai 13,08 persen. Lanjut pada kategori kontrusksi diangka 13,49 persen, transportrasi dan pergudangan 10,03 persen dan penyediaan akomidasi dan makan minum 6,90 persen.

“Di 2020 mengalami penurunan laju ekonomi kita hingga -7,03 persen karena dampak pendemi covid 19 yang berdampak ke semua sektor terkecuali pertanian,” bebernya.

Namun beranjak di 2021 laju ekonomi berangsung meningkat diangka 3.40 persen dan terus merangkak naik di 2022 diangka 3.46 persen. Pertumbuhan itu juga disumbang lima sektor pembentuk PDRB itu, seperti di Sektor Pertanian kehutanan dan perikanan diangka 21,20 persen. Kemudian Perdanganan Besar, eceran, reparasi mobil dan motor 13,67 persen, kontruksi 11,23 persen, Transportrasi dan pergudangan 11,22 persen.

Namun dampak terjadinya covid dan resesi membuat pergeseran dari penyedia akomodasi dan makan minum diganti dengan administrasi pemerintahan, pertanahan dan jaminan sosial diangka 6,47 persen.

“Karena ketika kita kerkena covid dan resesi itu peran pemerintah sangat besar dalam perekonomian,” jelasnya.

Lebih lanjut ditambahkan Koordinator Fungsi Statistik BPS Lobar, Tri harjanto, 17 kategori pembentuk peningkatan PDRB itu tersebar di 10 Kecamatan di Lobar dengan berbagai keungulannya. Penyumbang terbesar ada di Kecamatan Gerung, Lembar, Batulayar, Narmada dan Gunungsari.

Diakuinya kejadian Gempa 2018 dan Pandemi Covid 19 di 2020 sangat berdampak pada laju ekonomi Lobar. Namun setelah itu perekonomian mulai bertumbuh di 2021, terutama di sektor akomonadi pariwisata. Termasuk sektor lain arus penumpang pelabuhan hingga perkiriman barang meningkat kembali.

“Namun setelah 2021 persetumbuhan 3,40 persen, di 2022 hanya bertambah laju ekonomi 0,06 menjadi 3,46, ini agak mentok,” jelasnya.

Pemda di sarankan untuk fokus memperhatikan lima kategori penyumbang terbesar PDRB itu. Mengingat Sektor andalan Lobar saat ini ada pada pertanian dan pariwisata. Karena pertumbuhan sektor itu akan memicu pertumbuhan sektor lainnya.

“Itu harus kita kelola agar bisa mendukung pertumbuhan sektor lainnya, Karena di sektor pariwisata tidak hanya satu bidang saja seperti objek wisata, tapi ada kerajinan tangan, kemudian beberapa industri lain yang harus digerakan untuk bisa dipasarkan di pariwisata,” jelasnya.

Menangapi itu Sekretaris Bappeda Lobar, Hj. Sri Muryaningsih mengaku perkembangan PDRB perkecamatan itu sangat dibutuhkan pihaknya. Terlebih kini Bappeda sedang menyusun Rencana Kerja Pembangunan jangka panjang dan menengah. Pihaknya pun melihat peningkatan laju ekonomi Lobar ditren yang cukup bagus dari tahun ke tahun.

“Jadi data PDRB, Laju ekonomi ini sangat kita butuhkan apalagi perkecamatan. Nanti kita berkeinginan pada saat persiapan arah kebijakan kita kemana betul-betul melihat potensi disetiap kecamatan,” ungkapnya.

Karena, Muryaningsih mengatakan setiap kecamatan memiliki potensi karakteristik tersendiri yang nantinya Pemda tinggal mengarahkan untuk pemfokusannya. Tidak hanya fokus pada lima sektor penyumbang peningkatan PDRB, Pihaknya juga akan coba memperhatikan beberapa sektor lain yang angkanya kecil.

“Seperti sektor pendidikan, misalnya Kuripan yang kontribusi PDRB nya terendah, nah kalau kita mau memajukan daerah, kita bisa meningkatkan dari sektor pendidikan. Ada mungkin beberapa lahan pertanian tidak produktif yang bisa kita kerjasama dengan universitas untuk pembangunan kampus,” pungkasnya. (win)

50% LikesVS
50% Dislikes
Post Views : 155

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *