Pembayaran Insentif Nakes di Loteng Belum Jelas

F ilustrasi 1

Ilustrasi

PRAYA—Insentif tenaga kesehatan (Nakes) yang menangani covid-19 selama enam bulan belum dibayar. Hingga kini masih belum kunjung jelas kapan akan dilakukan pembayaran.

Alasan Pemkab Loteng masih belum melakukan pembayaran instentif Nakes ini adalah karena hingga saat ini pemerintah pusat belum melakukan transfer dana untuk insentif tersebut.  Padahal, pihaknya dari jauh hari sudah mengajukan untuk pembayaran insentif bagi petugas kesehatan tersebut.

“Insentif Nakes memang yang tahun 2020 baru terbayar sampai Juli. Ini saya tidak tahu kendalanya gimana, karena kan insentifnya dari pusat,” kata Plt Sekda Loteng, HL Idham Halid, kemarin.

Ia memperkirakan dana insentif itu belum di transfer hingga sekarang karena ada persoalan data yang kurang pada saat pengajuan. Sehingga, pihaknya nantinya akan menekankan dinas terkait untuk melengkapi kekurangan tersebut.

“Ini murni memang masih belum cair dari pusat.  Nanti kita akan kroscek apa penyebabnya. Karena memang kasian juga Nakes hingga saat ini belum dibayar insentifnya,” tuturnya.

Ia mengaku, pihaknya belum pasti berapa jumlah anggaran untuk insentif Nakes itu. Tapi, semua Nakes mulai dari dokter spesialis, perawat, dokter IGD, cleaning service, sopir ambulans dan satpam yang bertugas menangani covid -19 mendapat insentif itu. 

“Untuk besaran insentif yang akan diberikan setiap Nakes sakit tidak sama. Tergantung dari tugas pokok dan fungsinya,” ucapnya.

Ia menegaskan, pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan insentif kepada tenaga kesehatan, karena berjuang sebagai garda terdepan menangani pandemi covid-19. Hal ini diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) Nomor HK.01.07/MENKES/392/2020 tentang Pemberian Insentif dan Santunan Kematian bagi Tenaga Kesehatan yang Menangani COVID-19. Kepmenkes ini kemudian diubah menjadi Kepmenkes Nomor HK.01.07/MENKES/447/2020.

Dalam regulasi itu, besaran insentif untuk tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan COVID-19 di rumah sakit setinggi-tingginya sebesar Rp 15 juta/OB untuk dokter spesialis, dokter umum dan gigi Rp 10 juta/OB, bidan dan perawat Rp 7,5 juta/OB, dan tenaga medis lainnya Rp 5 juta/OB.

 “Kami alam waktu dekat akan koordinasi dengan dinas terkait untuk persoalan ini,” tuturnya. (jay)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Berang, Tim Kerja PBNW Laporkan Dugaan Pelanggaran Gunakan Atribut NW

Read Next

Dedi Ditemukan Tewas Gantung Diri

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *