PRAYA – Sejumlah emak-emak yang merupakan pedagang di Pasar Renteng Kabupaten Lombok Tengah mendatangi kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Kamis pagi kemarin. Para pedagang ini menyampaikan keluh kesah bahkan protes kepada pejabat di dinas itu. Bukan itu saja, emak-emak ini membongkar adanya pilih kasih di Pasar Renteng. Mereka ngaku ditelantarkan, sementara istri oknum pejabat justru dapat tempat yang cukup special.
Salah satu pedagang Pasar Renteng, Ibu Yus mengungkapkan, dia sudah setahun berhutang puluhan juta kemudian dirinya meminta agar diringankan beban soal pembayaran namun tak direspons.
“Kami terlantar di dalam pasar, kami sering meminta supaya semua ditertibkan. Saya baru sekali keluar langsung ditertibkan. Seolah tebang pilih dalam penertiban, saya buka ya, ada istri pejabat itu tempatnya sangat bagus,” ungkapnya saat hearing.
Tidak hanya itu, Ibu Yus selama ini dengan pedagang lain merasa dizolimi. Ia merasakan tidak ada keadilan. Belum lagi ditambah isu beredar dalam pembayaran sewa los pasar tempat mereka berjualan diberikan harga dari luas 2 meter tembus Rp 4 juta.
“Pedagang di lantai 2 itu sepi pembeli, listrik padam bahkan ada juga yang sampai menemukan menjadi lokasi mesum,” ceritanya.
Di tempat yang sama, pengurus APKLI Lombok Tengah, Kusuma Wardana alias Dodek mengungkapkan jika listrik di sana sudah 3 minggu mati, namun sayang belum juga ada solusinya. Dia meminta segera dituntaskan dalam waktu 2×24 jam.
“Orang mereka pedagang membayar sewa kepada Pemda sebesar 100 ribu per bulan dan itu harus dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Selain itu, Dodek meminta dinas harus menertibkan para pedagang yang bandel dan meminta agar masuk ke lokasi yang disiapkan. Dia mengaku, banyak lapak yang tidak diisi oleh pedagang mereka justru memilih keluar berjualan.
“Silahkan ganti kepala pasar dan ganti pengurus pasar karena mereka tidak becus. Kami minta kemudian bongkar lapak yang menghalangi gerbang pasar yang dibangun pemda dan dipersewakan,” pintanya.
Sementara, di gedung pasar sebelah barat yang ramai pengunjung juga diduga banyak nepotisme yang dilakukan pengurus pasar dalam pemberian tempat para pedagang. Terlebih dalam penertiban pedagang yang tebang pilih ini patut dicurigai adanya dugaan masuk uang setoran.
Sementara, Kabid Perdagangan Disperindag Lombok Tengah, RR Srimulyaningsih mengaku telah melakukan kroscek semua kondisi tersebut, diakui matinya listrik mengingat adanya peralatan yang harus diganti dan belum adanya anggaran sekarang. Tapi ada solusi untuk dipinjamkan Rp 90 juta untu perbaikan dan pinjaman bakal diganti dari APBD Perubahan 2022.
“Penataan penjual juga kami masih mendata, apakah akan cukup yang dibawah apabila dialihkan ke atas. Kemudian banyak pedagang yang menggantung pakaian di springkel air pemadam kebakaran di atap. Kemudian ini yang fatal,” ungkapnya tegas.
Selanjutnya untuk pemindahan penjual ayam yang membutuhkan lokasi yang sesuai kebutuhannya seperti adanya saluran air dan pencucian di lantai atas, ini masih diinisiasikan.
“Kami akan menutup akses parkir yang di tengah. Kami minta semua dinaikkan para pedagang yang ngeyel tidak mau pindah,” tegasnya.
Ditambahkan Sekdis Perindag Lombok Tengah, Lalu Satriawan mengaku kerusakan alat kelistrikan ini sudah 3 kali di Pasar Renteng.
“Kami akan empat teknisi mengecek kerusakan ini,” katanya.
“Ayok kita besok pagi tertibkan bersama petugas pasar, Pol PP, Disprindag, APKLI, dan segenap pedagang lainnya,” ajaknya.(tim)