MUI di NTB Kompak, Boikot Produk Prancis

mui

DARI KANAN: Ketua MUI Kota Mataram, TGH Abdul Manan, Ketua MUI Loteng TGH L Mingre Hammy dan Ketua MUI Provinsi NTB, H Saiful Muslim.

MATARAM – Pengurus Majlis Ulama Indonesia (MUI) kabupaten kota di NTB kompak. Seruan MUI memboikot produk asal Prancis disampaikan ke public. Ini sebagai bentuk protes umat muslim NTB terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dianggap melecehkan Nabi Muhammad SAW dan umat Islam.

MUI Kota Mataram juga mengecam keras pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Pernyataan Macron sangat melukai perasaan umat muslim di seluruh dunia. Sehingga, sikap MUI Kota Mataram searah dengan seruan MUI pusat dan MUI NTB.

“Kalau MUI provinsi menyatakan sikap. Semua kabupaten/kota secara kelembagaan,” tegas Ketua MUI Kota Mataram, TGH Abdul Manan, kepada Radar Mandalika via WhatsApp (WA), kemarin.

Sayangnya, Manan agaknya masih enggan memberikan tanggapan dan penjelasan panjang lebar. Berulangi kali dihubungi via telepon, namun yang bersangkutan tidak merespons. Begitu juga dengan pesan WA media ini tidak digubris banyak.

MUI Loteng Satu Barisan Kecam Presiden Prancis

PRAYA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lombok Tengah satu barisan mengecam Presiden Prancis.

Kecamab yang terus di suarakan terkait adanya statmen dari President Prancis Emanuel Marko dalam mendukung pembuatan dan memandang karikatur Nabi Muhammad SAW dianggap telah melecehkan ummat islam di Dunia. Hal tersebut terus dibanjiri dengan kecaman dari berbagai negara Islam, Organisasi Islam, Lembaga Islam, dan para Ulama.

Sementara itu, Ketua MUI Lombok Tengah, TGH L Mingre Hammy menegaskan, pihaknya dengan tegas mengecam tindakan orang nomor satu di Prancis tersebut. Ini tentu sudah melukai hati seluruh ummat islam seluruh dunia.

MUI Loteng juga menekankan dimana apapun kecaman dan keterangan MUI Pusat akan tetap dikawal dan disuarakan di daerah. Hal ini mengingat kekompakan dan gerakan merupakan satu komando dengan pusat.

“Ini kan persoalan antar negara dan agama, maka ada lembaga MUI Pusat yang bersuara lantang dan Presiden yang akan menyuarakan kecaman di Indonesia,” tegasnya, Minggu kemarin.

Ditambahkannya, masyarakat jangan sampai terprovokasi dengan keadaan sehingga menimbulkan kegaduhan, dimana persoalan ini merupakan persoalan serius yang akan diselesaikan oleh negara, namun dalam prinsipnya pihaknya tetap tegas mengecam perbuatan presiden Prancis tersebut.”Kami sayang kecam,” tegasnya singkat.

Terpisah, Ketua MUI NTB, H Saiful Muslim mengatakan, MUI pusat telah mengeluarkan surat edaran meminta agar semua produk Prancis diboikot di Indonesia, sampai presidennya pun meminta maaf kepada umat Islam di dunia. Pasalnya apa yang dikatakan Macron betul-betul telah menciderai umat Islam bahkan dianggap sebagai pemecah belah umat Islam.

Faktanya, sampai saat ini Macron masih angkuh sombong tidak memiliki niat baik untuk meminta maaf, untuk itu MUI pun mendesak pemerintah agar memboikot semua produk Prancis yang masuk ke Indonesia. Tidak hanya itu, Indonesia juga didesak agar menarik Duta Besar Indonesia di Prancis sampai Macron meminta maaf.

Di daerah sendiri Pemprov NTB juga diminta bersikap selain memboikot juga meminta Pemprov NTB mendesak pusat agar bersikap yang sama.

“Umat Islam tidak ingin mencari musuh, umat Islam hanya ingin hidup berdampingan secara damai dan harmonis. Namun jika yang bersangkutan (presiden Prancis) tidak menginginkannya dan tidak mau saling hormat menghormati maka kita (Umat Islam) siap membalas dengan cara memboikot semua produk yang datang dari Prancis,” ungkap Muslim.

MUI seluruh Indonesia pun kompak agar meminta Macron menghentikan segala tindakan penghinaan dan pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW, termasuk pembuatan karikatur dan ucapan kebencian  dengan alasan apapun. MUI juga mendukung sikap Organisasi Konperensi Islam (OKI) dan anggotanya seperti Turki, Qatar Kwait, Pakistan, Bangladesh yang telah memboikot semua produk negara Prancis. Pihaknya mendesak Mahkamah Uni Eropa untuk segera mengambil tindakan dan hukum kepada Prancis.

“Kita juga mengimbau agar para khatib, Mubaligh dan asatiz menyampaikan pesan materi khutbah Jum’at untuk mengecam dan menolak terhadap penghinaan atas Rasulullah SAW,” pungkasnya. (jho/tim/zak)

0 Reviews

Write a Review

Radar Mandalika

Mata Dunia

Read Previous

Pemberangkatan Jamaah Umrah Belum Jelas

Read Next

Marak Tower Bodong di Mataram

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *