Zaman berubah. Cepat. Sangat cepat.
Cara orang membaca ikut berubah. Dari kertas ke layar. Dari halaman panjang ke potongan pendek. Dari pagi yang tenang ke waktu yang nyaris tak pernah cukup.
Perubahan itu tidak bisa ditolak. Tapi bisa disikapi. Dengan pilihan. Dengan pikiran.
Karena itu, setiap kali media cetak baru lahir di tengah dominasi digital, publik wajar menoleh. Ada rasa ingin tahu. Ada juga harapan kecil. Mungkin masih ada yang ingin dibaca pelan-pelan.
Hari ini, media cetak memang bukan arus utama. Ia sudah menjadi jalur khusus. Jalur yang menuntut kesiapan ekstra. Bukan hanya modal, tapi juga akal sehat. Media cetak tidak cukup hidup dari semangat. Ia butuh rencana. Butuh hitungan. Butuh kesabaran.
Kertas dicetak. Tinta dibayar. Truk berangkat. Redaksi bekerja. Semua itu nyata. Yang sering tidak nyata justru arah. Ada media yang rajin terbit, tetapi lupa menjawab satu pertanyaan sederhana. Untuk siapa koran ini dibuat?
Tidak sedikit media yang lahir dengan keyakinan sederhana. Kalau sudah dicetak, nanti juga dibaca. Kalau sudah terbit, berarti sudah menjadi media. Padahal, koran bukan nasi bungkus yang pasti habis asal dibagi. Ia harus punya alasan untuk dibuka.
Media cetak punya kelebihan. Prosesnya lebih tenang. Verifikasinya lebih ketat. Konteksnya lebih utuh. Tapi semua itu hanya bekerja jika ada manajemen yang tahu apa yang sedang dikerjakan. Tanpa itu, kelebihan berubah menjadi beban.
Ada redaksi yang sibuk mengisi halaman, bukan mengisi pikiran pembaca. Ada manajemen yang merasa tugasnya selesai begitu koran naik cetak. Selebihnya diserahkan pada nasib dan doa.
Tantangan utama media cetak hari ini bukanlah media digital. Bukan algoritma. Bukan media sosial. Tantangannya adalah disiplin internal. Ketika godaan untuk cepat lebih besar daripada keinginan untuk benar.
Keinginan tampil ramai sering mengalahkan kebutuhan untuk relevan. Kedalaman ditukar dengan sensasi. Judul dibikin keras agar terlihat hidup, meski isinya biasa-biasa saja.
Di titik itu, media cetak justru sedang meninggalkan keunggulannya sendiri.
Karena itu, kualitas redaksi menjadi urusan paling serius. Akurasi. Keberimbangan. Etika. Media cetak tidak punya tombol edit. Tidak ada revisi setelah pagi datang. Sekali salah, ia akan tinggal lama di ingatan.
Berbeda dengan unggahan digital yang mudah tenggelam, kesalahan di koran justru rapi disimpan. Dilipat. Diarsipkan. Dikutip kembali.
Kritik publik pun tidak bisa dihindari. Dan seharusnya tidak dihindari. Kritik adalah tanda bahwa media masih dianggap ada. Media yang dewasa tidak tersinggung. Ia mendengar. Ia mencatat. Ia memperbaiki.
Keberanian mendirikan media tetap layak dihargai. Pers Indonesia tumbuh dari keberanian orang-orang yang memilih jalan sunyi. Bekerja dalam tekanan. Menjaga independensi. Bertahan dengan idealisme.
Namun, keberanian tanpa perhitungan sering berakhir pada kelelahan. Media adalah maraton. Bukan sprint. Yang bertahan bukan yang paling berisik, tetapi yang paling konsisten dan tahu ke mana akan melangkah.
Hari ini, media cetak berada di persimpangan. Ia bisa memilih menjadi pelengkap yang terbit karena kebiasaan. Atau menjadi rujukan yang dicari karena kualitas.
Pilihan itu sepenuhnya ada di tangan pengelola media. Pada cara mereka berpikir sebelum mencetak. Pada keberanian menahan diri sebelum tergoda sensasi. Pada kesediaan bertanya. Apakah ini benar-benar perlu diterbitkan?
Selama media cetak dijalankan dengan visi yang jelas, manajemen yang sehat, dan komitmen jurnalistik yang kuat, ia tetap punya tempat. Bukan sebagai kenangan masa lalu, tetapi sebagai sumber kepercayaan.
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers sudah memberi ruang itu. Kebebasan pers dijamin. Tapi tanggung jawab juga menyertainya. Etika bukan hiasan. Ia penuntun.
Di situlah Kode Etik Jurnalistik seharusnya bekerja. Bukan dibaca saat pelatihan, lalu dilupakan di ruang redaksi. Melainkan dipakai setiap hari, setiap keputusan, setiap halaman. Karena pada akhirnya, media tidak diingat karena jumlah cetakannya. Tapi karena mutu pikirannya. Dan di zaman serba cepat ini, justru itulah yang paling langka.
Pada akhirnya, media cetak tidak pernah mati karena kekurangan kertas atau mesin cetak. Ia mati perlahan ketika diterbitkan tanpa cukup pikiran. Ketika halaman diisi sekadar agar penuh, ketika koran terbit karena jadwal, bukan karena kebutuhan pembaca. Di situlah media berubah menjadi rutinitas, bukan rujukan. Undang-undang memberi kebebasan, etika memberi batas, tetapi akal sehat seharusnya memberi arah. Tanpa itu, koran mungkin tetap terbit setiap hari—namun berhenti dibaca bahkan sebelum dilipat. (*)