MATARAM – Evaluasi terhadap kinerja Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren penurunan signifikan di ajang Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQ Nasional).
Berdasarkan analisis data 2020 hingga 2025, posisi NTB mengalami kemunduran relatif hingga 100 persen. Pada 2020 NTB berada di peringkat 5 nasional, namun pada 2025 turun ke posisi 10.
Secara matematis, penurunan tersebut dihitung dari selisih lima tingkat (10–5), atau mengalami kemunduran relatif 100 persen dari posisi awal. Sementara itu, provinsi langganan lima besar seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Banten relatif stabil di peringkat 1–4 tanpa fluktuasi signifikan.
Artinya, ketika provinsi unggulan konsisten menjaga performa, NTB justru bergerak turun dan semakin tertinggal.
Gap Kompetitif Melebar 250 Persen
Data komparasi menunjukkan rata-rata peringkat Top 5 nasional stabil di angka 3. Sementara NTB bergerak dari peringkat 5 ke 10. Dengan demikian, selisih atau gap kompetitif yang sebelumnya hanya 2 poin kini melebar menjadi 7 poin.
Kenaikan gap tersebut mencapai 250 persen. Kondisi ini menandakan NTB bukan hanya mengalami penurunan posisi, tetapi juga semakin jauh tertinggal dari provinsi unggulan.
Indikasi Masalah Pembinaan
Analisis strategis terhadap tren ini mengidentifikasi tiga aspek utama yang perlu menjadi perhatian.
Pertama, aspek pembinaan kafilah. Dalam lima tahun terakhir, NTB tidak mampu mempertahankan posisi lima besar secara konsisten. Fluktuasi cukup tajam terlihat, termasuk sempat naik pada 2023, namun kembali turun drastis setelahnya.
Berbeda dengan DKI Jakarta dan Jawa Barat yang mempertahankan posisi 1–2 besar secara konsisten, sistem pembinaan mereka dinilai bersifat institusional dan berkelanjutan, bukan sekadar berbasis event.
Indikasi yang muncul di NTB antara lain pembinaan yang masih cenderung event-based, regenerasi belum sistematis, serta belum adanya talent scouting berbasis database provinsi.
Manajemen dan Identitas Cabang Unggulan
Aspek kedua menyangkut manajemen pembinaan. Gejala umum yang terlihat adalah tidak adanya konsistensi performa dan belum terbentuknya identitas kekuatan cabang unggulan.
Provinsi Top 5 umumnya memiliki struktur teknis permanen, pelatih nasional tetap, serta program karantina tahunan. Jika model ini belum dimiliki secara optimal oleh NTB, maka persoalan bukan semata pada kualitas SDM, melainkan pada sistem manajemen pembinaan.
Pendanaan dan Political Will
Aspek ketiga berkaitan dengan pendanaan dan dukungan kebijakan. Penurunan lima tingkat dalam lima tahun mengindikasikan kemungkinan stagnasi dukungan anggaran dan belum adanya eskalasi investasi pembinaan pasca-event nasional.
Sejumlah provinsi besar diketahui telah mengintegrasikan program LPTQ dengan kebijakan pendidikan, pesantren, hingga beasiswa daerah. Integrasi lintas OPD tersebut dinilai memperkuat ekosistem pembinaan. NTB dinilai perlu memperkuat model integrasi serupa.
Risiko Jika Tidak Dikoreksi
Jika tren ini tidak segera dikoreksi, dalam tiga hingga lima tahun ke depan NTB berpotensi keluar dari 10 besar nasional. Selain itu, brand Qur’ani NTB yang selama ini dikenal kuat bisa tergerus, serta daya saing generasi tilawah daerah berpotensi menurun di tingkat nasional.
Rekomendasi Strategis
Beberapa rekomendasi yang diajukan untuk Pemerintah Provinsi NTB antara lain:
Membentuk tim teknis permanen pembinaan nasional.
Menggelar karantina minimal dua kali dalam setahun.
Membangun database digital kafilah berbasis kabupaten/kota.
Mengalokasikan anggaran afirmatif untuk periode 3–5 tahun ke depan.
Mengintegrasikan program LPTQ dengan skema beasiswa daerah.
Evaluasi ini disampaikan oleh HM Sodri, qori angkatan 1980-an asal Lombok yang pernah mewakili NTB di tingkat nasional dan kini menetap di Jakarta.
Menurutnya, tulisan tersebut bukan bentuk serangan terhadap LPTQ, melainkan evaluasi berbasis tren data dan pengalaman lapangan.
“Harapan saya sederhana, agar pembinaan Qur’ani di NTB kembali menjadi kebanggaan bersama, terkelola profesional, dan mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah,” ujarnya.
Ia berharap evaluasi ini menjadi bahan refleksi dan pijakan perbaikan, agar NTB dapat kembali bersaing di lima besar nasional pada ajang MTQ mendatang. (rls)
