LOBAR—Dandang stainless steel berukuran besar diterima petani garam rebus di Lombok Barat (Lobar) dari Dinas Kelautan, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (KPKP) Lombok Barat (Lobar). Bantuan ini membantu meningkatkan produksi dan kualitas garam yang dihasilkan para petani garam rebus itu. Data dinas mencatat setahun produksi garam Lobar mencapai sekitar 224 ton dari hasil garam rebus maupun garam tambak.

Kepala Dinas KPKP Lobar, H. Afgan Kusuma Negara, mengatakan selama ini para petani garam rebus hanya menggunakan drum bekas yang tidak bertahan lama. Bahkan, garam yang dihasilkan belum terbilang bagus.

“Karena drum ini kekuatannya hanya bertahan selama 3–4 bulan penggunaan, setelah itu bolong. Menyebabkan hasil produksi garamnya tidak bersih, tidak putih bersih, agak sedikit kehitaman,” terang Afgan yang dikonfirmasi di ruang kerjanya, Rabu (8/7).

Menurutnya, kualitas garam yang bagus dan bersih akan memengaruhi pemasarannya. Konsumen lebih memilih garam yang berwarna putih bersih. Tidak jarang karena kualitas yang kurang bagus, garam tidak laku dijual, membuat petani harus kembali merebus ulang garam itu hingga berwarna bersih.

“Akhirnya kita berikan bantuan dandang rebus dari stainless steel yang ukurannya lebih besar dan tidak mudah karatan, dan umurnya bisa 3–4 tahun,” terang Afgan.

Total sebanyak 61 unit dandang sudah disalurkan pihak dinas kepada para petani garam rebus di dua desa penghasil garam. Sebanyak 28 unit di Desa Candi Manik, Sekotong, dan 33 unit di Desa Lembar Selatan, Kecamatan Lembar. Afgan mengungkapkan 224 ton garam dihasilkan pada tahun 2025. Sehingga diharapkan dengan bantuan itu akan menambah produksi di tahun 2026 ini.

“Total petani garam kita ada ratusan, tersebar dari wilayah Lembar, Gerung, hingga Sekotong. Petani garam rebus itu sebanyak 118 orang, dan petani garam tambak sebanyak 43 orang,” paparnya.

Seluruh hasil produksi garam Lobar itu diakui Afgan tetap habis terjual di masyarakat. Baik di pasar tradisional maupun dikelola pemasarannya oleh kelompok koperasi. Bahkan, perusahaan daerah seperti PAM Giri Menang juga tetap membeli garam Lobar tersebut.

“Alhamdulillah, garam Lobar tetap terserap,” ucapnya.

Meski beberapa tahun lalu ada kebijakan Pemkab Lobar bahwa para ASN Lobar harus membeli garam Lobar, namun kini tidak lagi dijalankan. Jauhnya jarak tempuh dan biaya operasional yang besar menjadi kendala mengapa para petani garam itu tidak lagi fokus menjual kepada para ASN. Sebab, selain diserap ke Koperasi Pemda Patuh Patut Patju, pendistribusiannya juga ke sekolah, UPT, hingga kecamatan yang jaraknya tidak dekat. Ditambah kini produksi garam Lobar sudah banyak terserap di pasar tradisional.

“Jika produksi garam nantinya melonjak tinggi (melimpah) hingga tidak lagi tertampung oleh pasar lokal, pemerintah akan mengupayakan kembali program penyerapan garam untuk ASN,” jelasnya.

Meski demikian, Afgan mengaku dinas kini sedang mengembangkan pemasaran garam ini ke depannya. Tidak hanya menyasar pasar lokal, namun juga terserap di ritel modern hingga perhotelan.

Rencana sistem distribusi garam menjadi lebih efektif, efisien, dan meringankan beban para petani dipikirkan. Hal ini penting mengingat harga jual garam kemasan di tingkat petani tergolong murah, sekitar Rp4.000 hingga Rp5.000 per bungkus. Sementara biaya transportasi mengirimkannya ke daerah jauh cukup tinggi.

“Untuk saat ini, hasil produksi belum merambah ke ritel modern maupun sektor perhotelan karena seluruh pasokan masih habis terserap oleh pasar lokal. Hal-hal seperti standardisasi pelabelan pada garam tradisional juga masih perlu difasilitasi ke depannya,” imbuhnya.

Rencana penerapan sistem tunnel untuk produksi garam tambak sedang dipersiapkan Dinas Kelautan dan Perikanan di tahun ini. Sistem terowongan plastik/kaca seperti konsep greenhouse ini dinilai Afgan akan membantu meningkatkan produksi garam, sebab bisa tetap melakukan proses pertanian meski dalam kondisi musim penghujan. Mengingat kondisi cuaca beberapa tahun terakhir yang tidak menentu dan sulit diprediksi, sistem tunnel ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang menjaga stabilitas produksi garam Lobar.

“Karena saat ini, petani garam tambak sangat bergantung pada cuaca, hanya bisa berproduksi optimal pada musim kemarau,” pungkasnya. (win)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *