LOTENG – Pekerjaan rabat jalan di Dusun Pepao Barat 3, Desa Lekor, Kecamatan Janapria, Lombok Tengah diduga tanpa dilakukan sosialisasi kepada warga sekitar. Terutama kepada warga yang pekarangannya dilewati pekerjaan rabat tersebut.
Parahnya lagi, pekerjaan rabat jalan dusun yang diduga dari aspirasi salah satu anggota dewan di DPRD NTB tersebut dinilai tidak transparan. Sebab, sejak mulai dikerjakan pada Rabu (28/8) tidak ada papan nama informasi terkait dari mana sumber anggaran dan sebaginya.
Salah seorang warga Junaidi mengatakan, sebagai pemilik halaman rumah, mengaku sangat kecewa karena tidak ada konfirmasi sebelumnya terkait pengerjaan rabat. Ia sendiri bukan tidak mau dirabatkan jalan tapi minimal ia sebagai pemilik halaman rumah atau pekarangan diberitahu bahwa akan ada pengerjaan rabat jalan.
“Supaya tekhnis pekerjaan sesuai harapan dan jalan air besar pada musim hujan yang dari hulu ke hilir itu tidak ditutup yang bisa berdampak fatal dalam saluran itu dan pasti air hujan bisa menggenangi teras dan kamar rumah saya,” katanya, Sabtu (31/8).
Dia sangat menyayangkan pekerjaan rabat tanpa sepengetahuan pemilik pekarangan rumah yang ketika turun hujan akan membuat banjir bahkan air masuk ke rumah di hilir. Itu dikarenakan cara kerja rabat ini tidak memperhitungkan keselamatan rumah warga dari banjir air yang masuk sekala besar ke teras dan rumah warga jika huja turun apalagi terjadi hujan besar,.
“Saya bukan tidak mau lihat ada rabat tapi cara kerja harus sesuai dengan keadaan jalan dan memperhatikan keselamatan pemilik rumah karna air hujan yang akan menggenangi dan terairi oleh air hujan,” katanya.
“Sangat mungkin air hujan yang turun dari belasan rumah warga dari hulun ke hilir itu akan membanjiri teras dan kamar-kamar salah satu warga di tempat pekerjaan jalan rabat ini karena tidak ada pembuangan air sesuai jalan air yang sudah ada. Juga rabat ini sebelum dipasang campuran pekerja ditaruhin tanah yang bisa membuat rabat kurang kuat,” tandasnya.
Junaidi juga menyoroti teknis pekerjaan rabat jalan yang diduga asal-asalan.
“Saya sebagai warga melihat beberapa Dam tanah untuk dipakai melapis di bawah rabat jalan, padahal jalan kadang-kadang lapang dan kuat meski tanpa ditaruhkan tanah terlebih dahulu. Karena tempat rabat ini di daerah bebatuan,” ujarnya.
Junaidi kembali mengutarakan, sudah menanyakan kepada kepala dusun setempat terkait plang nama informasi pekerjaan. Tapi ujarnya Kadus tersebut tidak mengetahui.
“Plang pekerjaan udah saya tanya pak kadus tidak tau katanya,” ujarnya.
“Tinggi pasangan juga dugaan saya tidak sampai 12 cm,” tambahnya.(zak)