Cerita Warga Terdampak Banjir di Tenda Pengungsi

  • Bagikan
F bok
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA MURUNG: Kondisi para pengungsi di tenda darurat posko bencana Banjir di Dusun Batulayar Utara Desa Batulayar Barat Kecamatan Batulayar, kemarin (8/12)

Ngaku Sulit Tidur, Ancaman Penyakit Menghantui

Dua ratus jiwa warga Dusun Batulayar Utara, Lombok Barat tinggal di bawah tenda darurat pengungsian banjir. Di tempat pengungsian, rasa tidak nyaman hingga ancama penyakit mulai menghantui mereka. Berikut laporan wartawan Radar Mandalika.

WINDY DHARMA-LOMBOK BARAT

TENDA berwana hijau tua membentang terpasang di bawah perbukitan Dusun Batulayar Utara, Desa Batulayar Barat, Kecamatan Batulayar, Kabupaten Lombok Barat. Wajah murung dan sedih terlihat dari warga yang ada di dalam tenda itu. Beralaskan terpal panjang, warga membaringkan tubuhnya atau berbincang dengan warga lainya. Kendaraan muatan mengangkut kebutuhan bahan pokok terus berdatangan. Dusun yang dulu tenang dan dami, berubah ramai semenjak peristiwa banjir bandang yang menerjang kawasan itu, Senin (6/12) pagi lalu.

Mondar mandir polisi, TNI hingga relawan menurunkan muatan. Asap mengepul dari tenda dapur umum yang berdiri tak jauh dari tenda. Nasi bungkus diantar oleh TNI maupun Polisi kepada warga di sana.

Sudah tiga hari tiga malam sekitar 200 jiwa mendiamin tenda itu. Bencana banjir Senin pagi itu masih tergambar jelas dibenak mereka. Terlebih lima orang warga harus meregang nyawa terseret arus banjir yang datang dari atas perbukitan. Kini mereka mulai menyusaikan diri untuk menempati tenda darurat itu.

“Ya begini pak kondisinya, siang kepanasan, malam kedinginan,” cerita Marhamah  salah satu pengungsi yang ditemui, Rabu kemarin.

Sembari mengendong bayinya yang berusia 6 bulan, Marhamah hanya bisa menghela nafas. Sang bayi kerap menangis ketika siang, karena kesulitan tidur. Hawa panas tenda menjadi penyebabnya. Namun ia tak bisa berbuat banyak karena kondisi itu. Berada bersama warga lain ditenda darurat membuat ia mewajari kondisi itu.

“Ya kalau  ada minta tolong ada kipas angin biar kami tidak panasan saat siang,” terangnya.

Tak hanya itu, sangat membutuhkan toilet umum. Sebab para warga agak kesulitan untuk membuang air besar. “Kita terpaksa harus pergi ke rumah warga lain untuk menumpang buang air besar,” jelasnya.

Hingga kini warga itu masih mengenakan pakaian saat hari pertama mengungsi. Kekhawatiran akan adanya banjir susulan membuat warga ini takut kembali kerumah untuk mengambil pakaian. Sekalipun berani pulang, baju itupun diyakini tertimbun lumpur. 

Kondisi itu mulai diperparah dengan beberapa penyakit yang meyerang warga. Seperti pilek, ganguan pernapasan dan gatal-gatal.  Terlebih acaman malaria, maklum saja dari data Dinas Kesehatan kawasan itu ternyata menjadi langanan malaria.

“Semoga segera berakhir,” harapnya.

Meski kini, sudah sedikit tenang dari ancaman banjir. Namun warga ini kembali akan pusing memikirkan kelanjutan nasib setelah selesai penanganan banjir. Bagaimana tidak, Marhamah yang berprofesi sebagai buruh cuci itu kini harus memutar otak untuk menghidupi empat orang anaknya. Janda yang berumur 30 tahun lebih itu hanya seorang diri membesarkan ketiga anaknya setelah perceraian dengan suaminya.

“Sekarang ndak bisa kerja,” katanya sedih.

Kondisi sama juga dialami oleh Fatimah. Bahkan ia begitu sangat merasakan dampak dari banjir bandang itu. Kediamanya yang dekat sekali dengan sungai begitu parah mengalami kerusakan. Belum warung daganganya yang nyaris ambruk ke kali. Nenek berusia 43 tahun itu hanya bisa berharap adanya bantuan modal yang diterima agar bisa membeli kembali isi danganya yang tersapu bersih banjir.

“kita berharap agar ada bantuan itu nanti,” pungkasnya.

Ditempat yang sama, Kabid Dinas Kesehatan (Dikes) Lobar, dr H Ahmad Taufik Fathoni mengaku sudah ada tim kesehatan yang tetap tinggal di lokasi pengungsian. Agar memberikan pelayanan kesehatan bagi warga.

“Yang kami khawatirkan penyakitnya itu diare karena kesulitan air bersih, dan kami khawatirkan juga malaria, karena ini daerah malaria,” bebernya.

Pihaknya menyarankan bagi warga yang rumahnya sudah bersih dari sisa lumpur untuk kembali ke rumah. Karena dari sisi kesehatan terlalu lama tinggal di tenda darurat akan rentan terserang penyakit.

Sementara itu Camat Batulayar, Afgan Kusuma Negara yang mendengar kebutuhan masyarakat akan toilet, mangaku sudah menyampikan.

“Tadi sudah kita sampaikan kepada pak bupati, dan informasinya pihak Bank Syariah NTB siap akan membangunkan toilet umum, ditepat pengungsian,” jelasnya.

Sedangkan untuk air bersih pihaknya sedang berkoodinasi dengan pihak PDAM maupun dinas lainnya. Karena diakui Afgan sebagian besar sumur warga yang terdampak banjir airnya kotor. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *