LOBAR—H. Saepul Akhkam memperoleh gelar doktor. Setelah pria yang menjabat Asisten I Setda Lobar itu berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Ujian Promosi Doktor Program Studi Pendidikan Agama Islam di Aula Lantai II Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Kamis (5/11).
Capaian Akhkam ini memperlihatkan komitmen kapasitas sumber daya manusia di lingkungan birokrasi daerah. Dalam ujian terbuka tersebut, Saepul Akhkam mempresentasikan penelitian empiris yang berfokus pada dinamika moderasi beragama di lingkungan sekolah Islam terpadu di Nusa Tenggara Barat (NTB). Riset ini menghadirkan analisis komprehensif mengenai pola keterkaitan antardimensi pembentuk sikap moderat pada kalangan pelajar.
Dalam disertasinya yang berjudul “Pola Hubungan Multidimensional Moderasi Beragama: Analisis Korelasi Bivariat dan Parsial Komitmen Kebangsaan, Toleransi, Antikekerasan, dan Penerimaan Kearifan Lokal Warga SMA IT pada Jaringan Sekolah Islam Terpadu di NTB”, ia menegaskan pentingnya melihat nilai moderasi sebagai satu kesatuan yang utuh.
“Moderasi beragama tidak cukup dipahami hanya melalui satu aspek tunggal. Pengembangannya dalam lembaga pendidikan Islam perlu memperhatikan keterpaduan empat dimensi utama, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, sikap antikekerasan, dan penerimaan terhadap kearifan lokal, tanpa mengabaikan indikator spesifik dari masing-masing dimensi tersebut,” ujar Saepul Akhkam saat memaparkan temuan penelitiannya di hadapan dewan penguji.
Penelitian yang dilakukan Saepul Akhkam menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional noneksperimental melalui metode survei. Populasi penelitian mencakup 1.919 warga sekolah di enam SMA Islam Terpadu yang berada di bawah naungan Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Wilayah Nusa Tenggara Barat, dengan sampel sebanyak 331 responden.
Data yang diperoleh dari lapangan diuji menggunakan analisis korelasi Pearson (bivariat) serta korelasi parsial untuk mengukur tingkat konsistensi dan kekuatan hubungan antarvariabel. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa seluruh pasangan dimensi moderasi beragama memiliki hubungan positif dan signifikan secara statistik dengan nilai signifikansi p < 0,001.
Berdasarkan hasil analisis bivariat, kekuatan hubungan antarvariabel berada pada rentang koefisien 0,779 hingga 0,855. Ketika dua dimensi lainnya dikontrol melalui analisis korelasi parsial, hubungan antardimensi tetap terukur berada pada rentang 0,225 hingga 0,451.
Salah satu temuan paling menonjol dalam riset ini adalah keterkaitan erat antara sikap antikekerasan dan penerimaan terhadap kearifan lokal. Pasangan dimensi ini mencatatkan nilai koefisien korelasi terbesar di antara dimensi lainnya, yaitu 0,855 pada analisis bivariat dan 0,451 pada analisis korelasi parsial.
Di sisi lain, analisis korelasi parsial mencatat hubungan antara dimensi toleransi dan antikekerasan memiliki angka koefisien terkecil, yaitu 0,225. Variasi nilai koefisien ini memperlihatkan bahwa meski seluruh dimensi moderasi beragama saling mendukung, kekuatan keterkaitan antarindikatornya tidak berada pada tingkat yang seragam.
Temuan tersebut memberikan kontribusi konseptual yang memperkuat pemahaman multidimensional moderasi beragama, khususnya dalam konteks sosiokultural keberagaman masyarakat di Nusa Tenggara Barat.
Capaian akademik ini melengkapi perjalanan studi akademik Saepul Akhkam yang melintasi dua disiplin ilmu utama, yakni filsafat dan pendidikan agama Islam.
Saepul Akhkam menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) pada Program Studi Akidah dan Filsafat di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 1999. Ia kemudian melanjutkan jenjang magister (S2) dalam bidang Ilmu Filsafat di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan lulus pada tahun 2002, sebelum akhirnya menuntaskan jenjang doktoral (S3) Pendidikan Agama Islam di UIN Mataram. Kombinasi latar belakang keilmuan filsafat dan pendidikan Islam memberikan landasan analisis yang mendalam dalam merumuskan persoalan sosial-keagamaan di daerah. Kehadiran riset ini diharapkan dapat memperkaya khazanah penelitian empiris mengenai penguatan moderasi beragama di lingkungan pendidikan berbasis Islam di wilayah Nusa Tenggara Barat. (Win)

