PANEN: Wabup Lobar Ummi Nurul saat Panen Raya Melon Greenhouse Desa Mambalan, Kecamatan Gunungsari, Sabtu (31/10). (WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA) 

LOBAR—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat mulai menjajaki pengembangan budi daya melon di tengah masyarakat. Potensi buah ini dirasa cukup menjanjikan untuk menjadi salah satu produk unggulan buah setiap desa sehingga memacu pertumbuhan ekonomi lokal. Hal ini diungkapkan Wakil Bupati Lombok Barat (Lobar) Hj. Nurul Adha saat mengunjungi panen raya green house melon di Desa Mambalan, Kecamatan Gunungsari, Sabtu (31/10).

Wabup yang akrab disapa Ummi Nurul ini menilai berbagai model media tanam yang dikembangkan dan dipergunakan petani saat ini cukup menjanjikan untuk pengembangan produk melon tersebut. Bahkan sejauh ini terdapat 7 titik pusat produksi melon di Lobar yang menggunakan berbagai jenis media tanam. Pemerintah daerah (Pemda) siap mendukung melalui program Sejahtera dari Desa.
“Saya pikir pasti ya, harus menjadi program unggulan Sejahtera dari Desa. Sejak tadi saya minta Pak Kadis Pertanian data potensi desa-desa di mana saja yang berpotensi untuk kita kembangkan hidroponik seperti ini, sehingga ini menjadi produk unggulan desa-desa kita termasuk juga mengajak anak-anak muda supaya mau bertani,” terang Ummi Nurul di sela-sela acara.

Sistem budi daya melon yang kini terbilang modern seperti hidroponik diharapkan akan menarik minat anak muda kembali terjun ke dunia pertanian. Langkah ini juga dinilai mampu mengintegrasikan sektor pertanian dengan sektor pariwisata secara berkelanjutan.

Bahkan jika semakin banyak desa yang mengembangkan program ini, Pemda berencana menghubungkannya langsung dengan sektor pariwisata untuk pemenuhan kebutuhan hotel, restoran, swalayan, serta berbagai fasilitas di sekitar kawasan pariwisata.

“Ketika ada permintaan, suplai kita ada. Sehingga ada integrasi di sektor pertanian kita dengan sektor pariwisata. Insya Allah juga mendorong pertumbuhan ekonomi,” ucapnya.

Terkait dukungan Pemda, Ummi Nurul memastikan program ini akan diintegrasikan melalui program “Sejahtera dari Desa” serta program satu miliar per desa. Langkah awal, Dinas Pertanian diminta untuk mendata secara menyeluruh di setiap desa guna mencocokkan potensi alam dengan pengembangan komoditas ini. Di samping itu, Dinas juga berperan memberikan pembinaan kepada desa-desa yang memiliki potensi. Mengingat pertanian modern seperti hidroponik membutuhkan ketelatenan dan keahlian khusus. Penyesuaian media tanam harus disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing.

“Contoh seperti di Mambalan menggunakan media tanam air karena memiliki sumber air yang memadai di sekitarnya, sementara wilayah Labuapi menggunakan polybag. Jadi dia beda-beda. Oleh karena itu perlu ada pendataan potensi media tanam, sehingga menjadi kegiatan pertanian berkesinambungan dan tidak terputus,” imbuhnya.

Lebih lanjut Ummi Nurul mengatakan kesinambungan penanaman ini menjadi kewajiban ketika sudah berintegrasi dengan kebutuhan perhotelan yang tidak sedikit dan terus-menerus. Sehingga butuh langkah pertanian untuk memenuhi kebutuhan itu.

“Karena jangan sampai kebutuhan ada terus tetapi kita tidak ada stok. Makanya perlu disinergikan dan dikolaborasikan, insya Allah akan terwujud,” ucapnya.

Selain program hortikultura seperti melon, sejumlah komoditas unggulan lain Lobar yang telah lama dikembangkan di berbagai daerah juga terus dioptimalkan Ummi Nurul. Seperti manggis, durian, rambutan, hingga kangkung. Komoditas manggis, misalnya, memiliki potensi besar terutama di wilayah Lombok Barat dan sekitarnya yang didukung oleh struktur tanah yang luar biasa. Pemerintah berharap kerja sama lintas daerah ini terus ditingkatkan agar produk-produk pertanian lokal semakin terserap dengan baik oleh pasar.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Lobar, H. Lalu Moh. Hakam mengungkapkan sejauh ini terdapat 7 titik sentral budi daya melon di Lobar. Berada di Desa Batu Putih Kecamatan Sekotong, Desa Kebon Ayu Gerung, Desa Labuapi di dua titik, dan Desa Midang Gunungsari dua titik, serta Desa Mambalan Gunungsari. Setiap titik dikelola berbeda-beda, seperti kelompok tani dan ada yang dikelola BUMDes.

“Seperti arahan Ibu Wakil Bupati, kita akan mencatat dan mendata produksi per titik tersebut untuk kita laporkan by system guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi,” singkatnya. (win)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *