PANEN: Suasana panen garam di Tambak Garam Desa Cendi Manik, Kecamatan Sekotong beberapa waktu lalu.

LOBAR—Di tengah kebahagiaan petani garam Desa Cendimanik, Kecamatan Sekotong atas hasil panen garam yang melimpah tahun ini, kekhawatiran rendahnya serapan garam di tengah masyarakat juga turut menghantui. Hal ini membuat harga jual garam menjadi rendah.

Terlebih kini PT Air Minum Giri Menang yang menjadi salah satu penyerap terbesar garam Sekotong itu tak lagi banyak mengambil hasil panen garam tersebut.

Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DKPKP) Lobar, H. Afgan Kusumanegara yang dikonfirmasi terkait kondisi itu tidak memungkiri kini serapan garam Sekotong terbilang tidak besar. Garam yang biasanya dipergunakan banyak oleh perusahaan air minum daerah itu untuk pemurnian air kini tak banyak diserap seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Menurut pengakuan dari ketua kelompok koperasi itu, setiap tahun sejak 2023 terserap oleh PT AMGM sampai 25 ton per tahun. Nah, tapi sekarang sejak tahun 2026 itu kendur, menurun cuma 5 ton,” terang Afgan saat dikonfirmasi akhir pekan kemarin.

Kondisi itu diakui Afgan membuat serapan garam petani tambak ke koperasi setempat menjadi rendah. Banyaknya hasil panen garam itu kini hanya mengendap di gudang. Meskipun sebagian dijual di pasar, namun bersaing dengan garam berbagai daerah yang masuk.

“Kan jadinya banyak tersisa garam-garam yang tidak keluar. Nah, ini kan berimbas ke daya serap koperasi ke para petani tambak itu,” ucapnya.

Pihaknya belum mengetahui pasti alasan pihak PT AMGM mengurangi penggunaan garam Sekotong untuk pemurnian air. Hanya saja, informasi yang pihaknya terima dari pihak koperasi garam tersebut, perusahaan air daerah itu memilih menggunakan bahan alternatif lain.

Meski demikian, pihaknya berharap perusahaan daerah itu kembali menggunakan garam Sekotong untuk pemurnian air. Sehingga, membantu penyerapan hasil pertanian daerah.

“Kita harapkan seperti dululah, 25 ton. Agar petani untung juga,” ucapnya.

Menurutnya, kondisi saat ini hasil panen garam tambak cukup melimpah. Hal ini dikarenakan kondisi cuaca yang sangat mendukung. Pihaknya juga menilai kualitas garam Sekotong tidak kalah dengan garam yang ada di pasaran. Sehingga, sangat cocok untuk pemurnian air PDAM karena terbuat dari bahan alami.

“Lebih bagus kan pakai garam, supaya dia alami, iya dan juga bisa memberdayakan petani kita. Apalagi sekarang sedang banyak-banyaknya produksi garam ini. Jadi, kita berharap supaya diserap barang itu,” pungkasnya. (Win)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *