LOBAR—Kasus kebakaran di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) mengalami peningkatan signifikan selama periode Januari hingga September 2026. Data resmi Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) mencatat kejadian kebakaran melonjak hampir dua kali lipat atau naik sekitar 190 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Cuaca ekstrem akibat kemarau panjang yang melanda kawasan tersebut menjadi salah satu faktor pemicunya di samping kelalaian manusia.

Berdasarkan data Sistem Informasi Warung Data (SI-WARTA) Lobar, tren kejadian bencana kebakaran menunjukkan dinamika dari tahun ke tahun. Pada tahun 2023, tercatat sebanyak 80 kejadian kebakaran, kemudian naik menjadi 94 kejadian pada tahun 2024, dan sempat mengalami penurunan menjadi 78 kejadian sepanjang tahun 2025.

Namun, grafik lonjakan drastis terlihat jelas saat membandingkan data bulanan. Pada periode Januari hingga September 2025, jumlah kasus kebakaran tercatat sebanyak 60 kejadian. Sementara itu, pada rentang waktu yang sama di tahun 2026, angka tersebut melambung tinggi hingga mencapai 174 kejadian. Terdapat penambahan sebanyak 114 kasus kebakaran di wilayah Lobar.

Kepala Dinas Damkarmat Lobar, H. Suherman, menilai lonjakan data tidak bisa dianggap enteng dan perlu perhatian serius dari seluruh lapisan masyarakat serta pemangku kepentingan.

“Angka tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 190 persen. Tingginya kejadian pada Agustus dan September menunjukkan perlunya peningkatan kewaspadaan, pengawasan wilayah rawan, serta kesiapan petugas dalam menghadapi potensi kebakaran,” ujar H. Suherman, Rabu (21/10).

Puncak kenaikan kasus secara spesifik terjadi pada triwulan ketiga tahun 2026. Pada bulan Juli tercatat ada 25 kejadian, yang kemudian meningkat menjadi 37 kejadian pada bulan Agustus. Puncak tertinggi terjadi pada bulan September dengan total 80 kejadian kebakaran dalam satu bulan saja.

Meskipun faktor cuaca dan kelalaian masyarakat mendominasi pemicu awal, kepastian penyebab utama di setiap lokasi tetap memerlukan pemeriksaan mendalam oleh petugas berwenang agar penanganannya tepat sasaran.

Guna menekan risiko bencana berulang, Dinas Damkar mendorong upaya terpadu melalui edukasi dan sosialisasi berkala mengenai bahaya kebakaran, imbauan pemeriksaan instalasi listrik rumah tangga, hingga pengawasan terhadap aktivitas pembakaran lahan secara terbuka. Kesiapsiagaan personel, armada, serta sarana pemadam kebakaran di lapangan juga terus ditingkatkan.

“Data kejadian kebakaran ini diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam menyusun langkah pencegahan, menentukan wilayah prioritas penanganan, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi risiko kebakaran,” imbuh Suherman.

Koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, pemerintah desa, jajaran pemadam kebakaran, dan masyarakat luas menjadi kunci utama untuk mempercepat pelaporan awal dan proses pemadaman di lapangan. Masyarakat diimbau untuk tidak membakar sampah sembarangan, memastikan keamanan alat elektronik dan listrik, serta segera melapor ke pihak berwenang jika melihat potensi bahaya api demi melindungi keselamatan jiwa dan harta benda. (Win)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *