Oleh: Annisa Amelia
Mahasiswa UIN Jurai Siwo Lampung
“Anak itu malas.” Kalimat tersebut mungkin sering terdengar ketika seorang siswa tidak mengerjakan tugas, kurang aktif di kelas, sering terlambat, atau terlihat tidak bersemangat mengikuti pembelajaran. Label “malas” seolah menjadi jawaban paling sederhana untuk menjelaskan perilaku siswa yang tidak sesuai harapan. Namun, benarkah setiap siswa yang terlihat malas memang tidak memiliki kemauan untuk belajar?
Pertanyaan tersebut penting karena perilaku siswa tidak selalu dapat dipahami hanya dari apa yang terlihat. Di balik seorang siswa yang enggan belajar, bisa terdapat persoalan motivasi, tekanan akademik, kondisi emosional, lingkungan keluarga, hubungan dengan teman, atau pengalaman belajar yang membuatnya kehilangan kepercayaan diri.
Di sinilah psikologi pendidikan menjadi penting. Pendidikan bukan hanya persoalan menyampaikan materi dan mengejar nilai, tetapi juga memahami bagaimana kondisi psikologis memengaruhi proses belajar siswa.
“Malas” Tidak Selalu Sesederhana yang Terlihat
Ketika siswa tidak mengerjakan tugas, respons yang paling mudah adalah menyebutnya malas. Ketika siswa tidak aktif bertanya, ia dianggap tidak memiliki minat. Ketika nilainya rendah, ia dianggap kurang berusaha. Padahal, perilaku yang sama dapat memiliki penyebab yang berbeda. Seorang siswa mungkin tidak mengerjakan tugas karena belum memahami materi. Siswa lain mungkin kehilangan motivasi karena merasa terus mengalami kegagalan. Ada pula siswa yang sedang menghadapi persoalan di lingkungan keluarga sehingga sulit berkonsentrasi ketika berada di sekolah. Artinya, perilaku yang tampak dari luar belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya.
Karena itu, guru dan orang tua perlu berhati-hati dalam memberikan label. Ketika seorang anak terus-menerus disebut malas, ada kemungkinan label tersebut justru memengaruhi cara anak melihat dirinya sendiri. Ia dapat mulai percaya bahwa dirinya memang tidak mampu, tidak pintar, atau tidak memiliki masa depan akademik yang baik.
Motivasi Belajar Tidak Bisa Hanya Diperintah
Siswa sering diminta untuk lebih rajin, lebih disiplin, dan lebih serius belajar. Nasihat tersebut tentu penting, tetapi motivasi belajar tidak selalu tumbuh hanya karena seseorang diperintah untuk belajar. Siswa yang merasa dihargai dan memiliki kesempatan untuk berhasil cenderung memiliki pengalaman belajar yang berbeda dengan siswa yang terus-menerus merasa dirinya gagal. Karena itu, guru perlu menciptakan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami keberhasilan, sekecil apa pun.
Guru Perlu Memahami Sebelum Menghakimi
Guru memiliki posisi penting dalam perkembangan psikologis siswa. Cara guru memberikan teguran, apresiasi, maupun kritik dapat memengaruhi cara siswa memandang dirinya. Bukan berarti guru harus membiarkan siswa yang tidak disiplin. Aturan dan tanggung jawab tetap diperlukan dalam pendidikan. Namun, kedisiplinan dapat dibangun tanpa mempermalukan siswa.
Tegas tidak harus berarti keras. Memberikan konsekuensi tidak harus membuat siswa merasa dirinya tidak berharga. Ketika siswa melakukan kesalahan, guru dapat tetap menegakkan aturan sambil mencari tahu penyebab perilakunya. Apakah siswa tidak memahami tugas? Apakah ia mengalami kesulitan belajar? Apakah ada persoalan sosial yang sedang dihadapi? Pertanyaan semacam itu membantu guru melihat siswa sebagai individu, bukan sekadar sebagai angka dalam daftar nilai.
Orang Tua Juga Perlu Mengubah Cara Bertanya
Ketika anak pulang membawa nilai rendah, pertanyaan pertama yang muncul sering kali adalah, “Kenapa nilaimu jelek?” Padahal, pertanyaan seperti “Bagian mana yang paling sulit?” atau “Ada masalah apa selama belajar?” dapat membuka percakapan yang berbeda.
Orang tua tetap boleh memiliki harapan terhadap prestasi anak. Namun, harapan tersebut perlu disertai pemahaman bahwa setiap anak memiliki kemampuan, karakter, dan proses perkembangan yang berbeda. Prestasi akademik penting, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan seorang anak.
Pendidikan Tidak Hanya Membentuk Siswa Pintar
Psikologi pendidikan mengingatkan bahwa proses belajar melibatkan lebih dari sekadar kemampuan kognitif. Emosi, motivasi, lingkungan sosial, dan hubungan interpersonal juga memiliki peran dalam pengalaman belajar. Karena itu, ketika siswa mengalami perubahan perilaku, pendekatan yang digunakan sebaiknya tidak selalu berupa hukuman atau teguran.
Ada kalanya siswa membutuhkan arahan. Ada kalanya ia membutuhkan dorongan. Ada pula saat ketika ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan. Mengenali kebutuhan tersebut merupakan bagian dari proses pendidikan. Sekolah seharusnya menjadi tempat siswa belajar mengenal kemampuan dirinya, membangun kepercayaan diri, belajar bertanggung jawab, sekaligus memahami bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses perkembangan.
Jangan Terburu-buru Memberikan Label
Menyebut siswa “malas” memang mudah. Memahami mengapa ia kehilangan motivasi jauh lebih sulit. Namun, justru di situlah pendidikan diuji. Ketika seorang siswa gagal memenuhi harapan, pertanyaan yang seharusnya muncul bukan hanya, “Mengapa dia tidak mau belajar?” tetapi juga, “Apa yang membuatnya sulit untuk belajar?” Perubahan cara bertanya tersebut dapat menjadi awal perubahan cara mendidik. Siswa bukan sekadar penerima materi pelajaran. Mereka adalah individu yang sedang berada dalam proses perkembangan, dengan pengalaman dan persoalan yang berbeda-beda. Maka, sebelum memberikan label “malas”, guru dan orang tua perlu melihat lebih jauh.
Sebab, siswa yang terlihat tidak mau belajar belum tentu tidak ingin berhasil. Bisa jadi, ia hanya belum menemukan cara, dukungan, atau alasan yang membuatnya percaya bahwa ia mampu. Di situlah kacamata psikologi pendidikan diperlukan: memahami siswa sebelum menghakimi, membimbing sebelum menyerah, dan melihat manusia di balik setiap perilaku.

