Gangguan penerbangan rute Lombok–Jakarta akibat dampak erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9/2026) tidak semestinya dipandang hanya sebagai persoalan pembatalan atau penundaan penerbangan.
Bagi Nusa Tenggara Barat (NTB), peristiwa tersebut menjadi semacam natural stress test untuk mengukur sejauh mana sistem pariwisata daerah mampu menghadapi gangguan konektivitas, terutama menjelang penyelenggaraan MotoGP Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit.
Anggota Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Dr. Ali Muhtasom, MM., CHCM., CHE., mengatakan Lombok tidak harus menjadi lokasi bencana untuk merasakan dampak ekonomi dan pariwisata dari sebuah bencana.
“Lombok tidak harus terkena bencana untuk merasakan dampak pariwisata dari sebuah bencana. Destinasi kita bisa aman dan bandara tetap beroperasi, tetapi ketika salah satu gateway utama terganggu, akses wisatawan menuju Lombok juga dapat terganggu. Ini yang harus kita antisipasi, terutama menjelang MotoGP.”
Menurut Ali, keamanan destinasi tidak serta-merta menjamin ketahanan destinasi. Ketergantungan pariwisata Lombok terhadap konektivitas udara membuat gangguan pada simpul penerbangan utama berpotensi menimbulkan efek berantai.
Dampaknya dapat merembet ke berbagai sektor, mulai dari pergerakan wisatawan, hotel, transportasi, biro perjalanan, restoran, UMKM hingga penyelenggaraan event.
Erupsi Anak Krakatau Jadi Peringatan bagi NTB
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan aktivitas erupsi Anak Krakatau yang menghasilkan sebaran abu vulkanik hingga memengaruhi sejumlah wilayah dan ruang udara penerbangan.
BMKG juga menerbitkan sejumlah SIGMET sebagai informasi mengenai kondisi cuaca signifikan yang berkaitan dengan keselamatan penerbangan. Kondisi tersebut kemudian berdampak terhadap operasional penerbangan di sejumlah bandara, termasuk Bandara Soekarno-Hatta.
Menurut Ali, situasi tersebut harus menjadi peringatan dini bagi NTB. Pasalnya, selama periode MotoGP, mobilitas wisatawan menuju Lombok akan meningkat tajam dan berlangsung dalam waktu yang relatif bersamaan.
Pengalaman MotoGP Mandalika 2025 menunjukkan besarnya tekanan terhadap sistem konektivitas dan akomodasi NTB.
Saat itu, jumlah penonton tercatat lebih dari 140 ribu orang. Tingkat hunian hotel di kawasan Mandalika mencapai 100 persen, sedangkan rata-rata okupansi hotel di Pulau Lombok berada di kisaran 93 persen.
Pada periode yang sama, Bandara Lombok melayani sekitar 72 ribu penumpang dengan dukungan puluhan penerbangan tambahan dan penerbangan charter.
“Semakin sukses kita mendatangkan wisatawan, semakin besar pula konsekuensi yang harus kita siapkan apabila terjadi gangguan konektivitas. Karena itu, keberhasilan event tidak cukup diukur dari berapa banyak orang yang datang, tetapi juga seberapa siap sistem kita ketika perjalanan mereka terganggu,” ujarnya.
Lima Aspek Ketahanan Pariwisata NTB
Ali mengusulkan lima dimensi ketahanan pariwisata yang perlu diuji sebelum MotoGP 2026.
Kelima aspek tersebut meliputi Connectivity Resilience, Business Resilience, Visitor Resilience, Information Resilience, dan Destination Resilience.
1. Connectivity Resilience
Connectivity resilience berkaitan dengan kemampuan NTB mempertahankan akses wisatawan apabila salah satu gateway utama mengalami gangguan.
Ali menilai NTB harus memiliki skenario yang jelas jika akses penerbangan dari Jakarta terganggu selama 24, 48 hingga 72 jam.
“Kalau Jakarta terganggu selama 24 jam, 48 jam bahkan 72 jam, apakah kita sudah mengetahui berapa wisatawan yang terdampak, berapa kapasitas kursi yang tersedia melalui Surabaya, Bali, Makassar atau gateway lainnya, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengurai penumpukan penumpang?”
Menurutnya, seluruh skenario tersebut harus dihitung sebelum terjadi gangguan, bukan setelah penerbangan dibatalkan.
2. Business Resilience
Aspek kedua adalah business resilience. Hotel, agen perjalanan, perusahaan transportasi dan pelaku industri pariwisata perlu memiliki business continuity plan.
Persoalan menjadi lebih kompleks ketika gangguan terjadi saat tingkat okupansi hotel mendekati 100 persen.
Wisatawan yang seharusnya meninggalkan Lombok tetapi mengalami pembatalan penerbangan membutuhkan tambahan masa menginap. Di sisi lain, kamar tersebut bisa saja sudah dipesan wisatawan berikutnya.
Karena itu, Ali mendorong adanya disrupted passenger protocol di setiap hotel.
“Kita harus tahu ke mana wisatawan dialihkan, bagaimana transportasinya, siapa yang memberikan informasi dan bagaimana koordinasi dengan maskapai serta travel agent.”
3. Visitor Resilience
Aspek berikutnya adalah visitor resilience, yakni kemampuan sistem memberikan bantuan kepada wisatawan yang mengalami gangguan perjalanan.
Ali menilai wisatawan tidak boleh dibiarkan menyelesaikan persoalannya sendiri ketika penerbangan mereka terganggu.
“Prinsip kita harus berubah dari stranded passenger menjadi assisted visitor. Ketika penerbangan wisatawan terganggu, mereka harus cepat mengetahui pilihan penerbangan alternatif, hotel, transportasi, perubahan jadwal dan layanan bantuan yang dapat dihubungi.”
4. Information Resilience
Menurut Ali, komunikasi publik juga menjadi bagian penting dari ketahanan pariwisata.Gangguan transportasi yang tidak dikomunikasikan dengan baik berpotensi berkembang menjadi krisis citra destinasi.
Karena itu, informasi mengenai kondisi destinasi harus dibedakan dengan kondisi transportasi.
“Harus dibedakan secara jelas antara destination condition dan transportation condition. Jangan sampai penerbangan terganggu karena kondisi pada gateway lain, tetapi publik kemudian mempersepsikan Lombok tidak aman. Informasi harus cepat, akurat dan satu suara.”
5. Destination Resilience
Aspek terakhir adalah destination resilience, yaitu kemampuan Lombok mempertahankan kepercayaan wisatawan meskipun menghadapi gangguan.
Ali menegaskan bahwa destinasi tangguh bukan destinasi yang sama sekali tidak pernah mengalami masalah.
“Destinasi tangguh adalah destinasi yang mampu mengantisipasi, menyerap guncangan, beradaptasi, pulih dengan cepat dan tetap mempertahankan kepercayaan wisatawan.”
Ali Usulkan Simulasi Gangguan 24, 48 hingga 72 Jam
Menjelang MotoGP 2026, Ali mengusulkan pelaksanaan MotoGP Tourism Resilience Stress Test.
Simulasi tersebut dirancang untuk menguji kemampuan sistem pariwisata NTB menghadapi gangguan konektivitas selama 24 jam, 48 jam dan 72 jam.
Kegiatan tersebut idealnya melibatkan Pemprov NTB, BPPD NTB, Dinas Pariwisata, BMKG, AirNav Indonesia, pengelola Bandara Lombok, maskapai, ITDC/MGPA, Dinas Perhubungan, hotel, travel agent, asosiasi transportasi serta pemangku kepentingan lainnya.
Skenario 24 jam digunakan untuk menguji kemampuan sistem menyerap gangguan.
Skenario 48 jam untuk menguji kemampuan mempertahankan kontinuitas pelayanan wisata dan event.
Sedangkan skenario 72 jam ditujukan untuk menguji daya tahan destinasi dalam kondisi yang lebih kritis.
“Kita perlu mensimulasikan satu pertanyaan sederhana: jika gateway Jakarta terganggu selama 72 jam pada masa MotoGP, apakah sistem pariwisata NTB tetap mampu berfungsi? Dari pertanyaan itu akan terlihat titik lemah kita,” jelasnya.
NTB Perlu Destination Resilience Command Center
Selain simulasi, Ali menilai NTB perlu memiliki Destination Resilience Command Center selama periode MotoGP.
Pusat kendali tersebut tidak hanya memonitor jalannya event, tetapi juga mengintegrasikan informasi mengenai cuaca dan aktivitas vulkanik, status penerbangan, kapasitas kursi pesawat, pergerakan penumpang, ketersediaan kamar hotel, transportasi darat hingga kebutuhan bantuan wisatawan.
Dengan sistem tersebut, pengambilan keputusan diharapkan dapat dilakukan secara cepat dan terkoordinasi ketika terjadi gangguan.
Ali juga mendorong agar pola kedatangan wisatawan tidak terlalu terkonsentrasi pada H-1 MotoGP.
Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah “Arrive Early, Stay Longer, Experience More”.
Wisatawan didorong datang H-2 atau H-3 sebelum balapan sehingga memiliki waktu untuk menikmati berbagai destinasi di Lombok sebelum mengikuti MotoGP.
Strategi tersebut sekaligus dapat mengurangi risiko penumpukan penumpang, meningkatkan lama tinggal wisatawan dan mendorong belanja wisata di daerah.
Dari Event Readiness Menuju Event Resilience
Menurut Ali, erupsi Anak Krakatau memberikan pelajaran penting bagi NTB untuk mengubah paradigma dalam menyiapkan event internasional.
Selama ini, perhatian lebih banyak diarahkan pada event readiness, seperti kesiapan sirkuit, hotel, transportasi, keamanan, fasilitas dan pelayanan.
Ke depan, NTB dinilai perlu bergerak menuju konsep event resilience.
“Pertanyaan kita jangan berhenti pada ‘apakah NTB siap menyelenggarakan MotoGP?’. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah NTB tetap siap menjalankan MotoGP ketika sistem mengalami disruption?”
Ali mengakui sejumlah risiko, seperti erupsi gunung api, cuaca ekstrem dan gangguan ruang udara, berada di luar kendali destinasi.
Namun, dampak dari risiko tersebut dapat dipersiapkan dan dikelola.
Karena itu, menurutnya, pendekatan pengelolaan risiko perlu diperluas dari sekadar risk management menjadi resilience management.
“Kita mungkin tidak mampu mencegah hazard, tetapi kita dapat mencegah hazard berkembang menjadi tourism crisis. Kuncinya adalah preparedness, response, recovery dan trust.”
Konektivitas Harus Menjadi Bagian dari Ketahanan Destinasi
Ali menilai gangguan penerbangan pada 6 September 2026 harus menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan pariwisata NTB untuk melihat konektivitas sebagai bagian integral dari ketahanan destinasi.
Rantai risikonya, kata dia, cukup jelas:
Hazard → Aviation Disruption → Accessibility Disruption → Visitor Disruption → Business Disruption → Event Disruption → Destination Risk.
Karena rantai tersebut saling berkaitan, mitigasinya juga tidak dapat dilakukan secara sektoral.
“MotoGP bukan hanya tentang race dan bukan hanya tentang sirkuit. MotoGP adalah sebuah ekosistem destinasi. Ketika satu bagian dari ekosistem terganggu, seluruh sistem harus mempunyai kemampuan untuk beradaptasi.”
Ali menegaskan bahwa target NTB ke depan bukan hanya menjadi destinasi yang aman, tetapi juga destinasi yang tangguh menghadapi berbagai gangguan.“Lombok tidak cukup hanya menjadi safe destination. Kita harus membangun Lombok sebagai resilient destination,” pungkasnya. (*)
Keterangan Foto:
Anggota Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Dr. Ali Muhtasom, MM., CHCM. (Foto: istumewa)
