SIDAK: Ketua Komisi III DPRD Lobar Fauzi saat melihat kondisi bangunan SMAN 1 Gunungsari yang rusak, Rabu (29/7).(Ist)

LOBAR—Kerusakan enam ruang kelas di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Gunungsari langsung direspons cepat Komisi III DPRD Lobar. Bahkan, wakil rakyat Lobar itu langsung menghubungi Komisi X DPR RI untuk bantuan perbaikan, setelah melihat langsung kondisi sekolah itu, Rabu (29/7).

Sejauh ini, enam ruang kelas SMAN itu sudah dipasangi police line dan disegel untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Kondisi itu mengganggu proses belajar-mengajar sehingga terpaksa dipindahkan. Sebab, dari hasil peninjauan lapangan, ditemukan bahwa ancaman tidak hanya pada enam kelas, melainkan juga pada struktur atap beton penopang kayu yang sudah melapuk dan menjadi akar utama kekhawatiran pihak sekolah.

Kendati pengelolaan jenjang SMA berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi, keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) mendorong DPRD Lobar mengambil langkah taktis. Fauzi menegaskan pentingnya pengawalan lintas lembaga agar alokasi bantuan dapat segera dialirkan melalui anggaran pusat.

Ketua Komisi III DPRD Lobar, Fauzi, telah menjalin komunikasi langsung dengan pimpinan Komisi X DPR RI—komisi yang membidangi sektor pendidikan—guna memastikan percepatan penanganan infrastruktur di SMAN 1 Gunungsari. “Kami di Komisi III DPRD Lobar akan segera bersurat secara resmi. Namun, kami juga sudah berkomunikasi secara langsung dengan Wakil Ketua Komisi X DPR RI. Untuk surat resminya akan segera kami sampaikan ke Komisi X DPR RI agar dapat segera diatensi dan dikoordinasikan langsung dengan kementerian terkait,” tegas Fauzi.

Diketahui, alokasi anggaran perbaikan fasilitas pendidikan yang dikawal Komisi X DPR RI mengalami kenaikan signifikan, dari sebelumnya di kisaran Rp16 triliun pada tahun 2025 menjadi sekitar Rp22 triliun.
Melalui pengawalan intensif bersama Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, koordinasi lintas tingkat ini diharapkan mampu memangkas alur birokrasi. Pembenahan gedung SMAN 1 Gunungsari secara menyeluruh pun diharapkan dapat terealisasi dalam waktu dekat demi mengembalikan kenyamanan serta keamanan iklim pendidikan di Lobar.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Gunungsari, Musyirifin, mengungkapkan bahwa potensi bahaya sebenarnya mengintai hampir seluruh area gedung. Menurut asesmen awal, bangunan dengan pola struktur serupa jumlahnya jauh lebih banyak. “Secara keseluruhan yang konstruksinya hampir sama dengan yang disegel itu, atapnya beton dengan penopang kayu, di sekolah ini ada lebih dari 20 ruangan yang rawan,” ujar Musyirifin saat memberikan keterangan.

Penyegelan fasilitas vital ini berdampak langsung pada sedikitnya 10 rombongan belajar atau lebih dari 360 siswa. Agar kegiatan belajar-mengajar (KBM) tidak terhenti total, pihak sekolah bergerak cepat memanfaatkan ruang-ruang fungsional yang ada. Area kantin, musala putri, laboratorium TIK, perpustakaan, hingga bekas gudang dan ruang podcast disulap menjadi kelas darurat. Penyesuaian ini dilakukan setelah opsi moving class maupun sistem double shift dinilai kurang efektif karena berpotensi memangkas jam belajar siswa secara signifikan. (win)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *