MATARAM – Ketua Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU), Prof Kamaruddin Amin, menyoroti berbagai persoalan sosial yang masih menjadi tantangan besar Indonesia, mulai dari kemiskinan ekstrem, stunting, hingga rendahnya akses pendidikan tinggi.
Hal itu disampaikannya saat memberikan sambutan pada pelantikan Pengurus Wilayah (PW) ISNU Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (13/05).
Menurut Kamaruddin, Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa, termasuk organisasi intelektual seperti ISNU.
“Masih ada sekitar 28 juta warga kita yang miskin, dan lebih dari 2 juta masih berada dalam kategori miskin ekstrem. Indonesia ingin menghapus kemiskinan ekstrem pada akhir tahun 2026,” ujarnya.
Ia menambahkan, persoalan lain yang juga harus menjadi perhatian serius adalah tingginya angka stunting di Indonesia.
“Masih sekitar 19 persen anak-anak bangsa mengalami stunting. Kalau setiap tahun lahir sekitar 3 juta anak Indonesia, maka hampir 19 persen di antaranya mengalami stunting. Artinya kita masih menghadapi tantangan besar,” katanya.
Selain itu, Kamaruddin juga menyinggung persoalan ketahanan keluarga yang menurutnya masih memprihatinkan.
“Tantangan ketahanan keluarga juga masih ada. Sekitar 400 ribu warga bangsa bercerai setiap tahun. Ini persoalan kebangsaan yang harus kita pahami dan kita ambil bagian untuk berkontribusi,” ungkapnya.
Ia menilai, ISNU sebagai organisasi yang dihuni kalangan sarjana dan intelektual memiliki tanggung jawab moral untuk membantu masyarakat melalui pendidikan dan literasi.
“ISNU adalah entitas berkumpulnya orang-orang yang memiliki expertise, pengetahuan, pengalaman, dan keahlian. Bangsa ini harus dibangun berbasis ilmu pengetahuan,” tegasnya.
Kamaruddin juga menyoroti masih rendahnya akses pendidikan tinggi di Indonesia.
“Angka partisipasi kasar pendidikan tinggi nasional kita baru sekitar 32 sampai 33 persen. Artinya masih ada hampir 70 persen anak-anak bangsa yang tidak bisa kuliah,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta warga ISNU bersyukur karena telah memperoleh akses pendidikan tinggi dan menggunakan kapasitas tersebut untuk membantu masyarakat.
“Kita adalah kelompok kecil warga bangsa yang mendapatkan fasilitas pendidikan tinggi. Oleh karena itu kita harus berkontribusi dan mendukung langkah-langkah produktif untuk memajukan bangsa dan negara,” pungkasnya. (jho)
