Rangkul Semua Unsur Akademisi hingga Politisi/
MATARAM – Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) NTB menegaskan komitmennya untuk memperkuat dan mengembangkan organisasi hingga ke seluruh kabupaten dan kota di NTB. Komitmen tersebut disampaikan Ketua ISNU NTB, Zamroni Aziz, Rabu (13/05) di Mataram usai menerima mandat dari Ketua Umum ISNU untuk membesarkan organisasi di daerah.
Ketua PW ISNU NTB, Zamroni menyampaikan bahwa sebelum pelantikan digelar, antusiasme pembentukan kepengurusan cabang di seluruh daerah sudah terlihat sangat kuat. Bahkan, sejumlah tokoh penting daerah turut bergabung memimpin kepengurusan ISNU di tingkat kabupaten dan kota.
“Alhamdulillah sebelum kami dilantik, seluruh kabupaten kota sudah luar biasa gemuruhnya. Kami sudah menyiapkan ketua-ketua cabang yang hebat-hebat,” ujar Zamroni.
Ia menyebut, kepengurusan ISNU di berbagai daerah diisi oleh tokoh-tokoh strategis, mulai dari birokrat, pimpinan DPRD, akademisi hingga politisi lintas partai. Ketua cabang di Kabupaten Lombok Utara disebut dijabat oleh seorang sekretaris daerah, sementara di Kabupaten Bima dipimpin Ketua DPRD setempat.
Menurutnya, ISNU NTB hadir sebagai rumah bersama bagi seluruh unsur masyarakat tanpa melihat latar belakang politik maupun profesi. Hal itu terlihat dari komposisi kepengurusan yang diisi berbagai kalangan.
“ISNU hari ini mengakomodir seluruh unsur di dalamnya. Ada birokrat, akademisi, pengusaha, politisi dan tokoh masyarakat,” katanya.
Ia juga menyebut sejumlah tokoh dari berbagai partai politik turut bergabung dalam kepengurusan ISNU NTB, mulai dari kader Partai Golongan Karya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Persatuan Pembangunan, hingga Partai NasDem dan Partai Bulan Bintang.
Selain itu, kalangan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di NTB juga disebut telah bergabung di dalam ISNU. Mulai dari dosen dan civitas akademika UIN Mataram, Universitas Mataram, Universitas Nahdlatul Wathan, Universitas Islam Al-Azhar, Universitas Pendidikan Mandalika hingga Universitas Gunung Rinjani.
Menurutnya, kolaborasi seluruh unsur tersebut menjadi modal besar bagi ISNU untuk berkontribusi bagi pembangunan daerah, bangsa dan negara.
“Kami yakin ketika bergabung bersama-sama, maka ISNU akan mampu berbuat untuk daerah, bangsa dan negara,” tegasnya.
PW ISNU NTB juga menegaskan bahwa fokus utama setelah pelantikan adalah melakukan penataan organisasi agar semakin kuat dan solid di semua tingkatan. Ia menambahkan, pengabdian di ISNU bukan sekadar menjalankan struktur organisasi, tetapi juga bagian dari ikhtiar mencari keberkahan dalam berkhidmat di lingkungan Nahdlatul Ulama.
“Banggalah menjadi bagian dari NU karena NU ikut mendirikan republik ini. Maka kami yakin semuanya akan penuh kebahagiaan dunia dan akhirat,” ungkapnya.
Sementara itu Ketua Umum ISNU, Phil Kamaruddin Amin mengajak seluruh kader ISNU untuk mengambil peran aktif dalam mengawal transformasi Indonesia menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.
Ia mengaku bersyukur melihat semangat dan antusiasme pengurus serta kader ISNU NTB yang dinilai memiliki optimisme besar untuk berkontribusi bagi bangsa dan negara.
“Saya merasa bersyukur di NTB ini melihat semangat dan antusiasme sahabat-sahabat pengurus ISNU NTB. Semoga ISNU ke depan bisa berkontribusi mengawal transformasi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Menurut Kamarudin, Islam merupakan agama peradaban yang membawa kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari ekonomi, budaya hingga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ia mengingatkan bahwa sejarah Islam pernah melahirkan banyak ilmuwan besar dunia seperti Ibnu Sina dan Al-Khawarizmi yang memberikan inspirasi besar bagi perkembangan peradaban modern, khususnya di Eropa.
“Islam membawa etos keilmuan, sains dan teknologi. Karena itu ISNU harus mengambil bagian memajukan Indonesia,” katanya.
Kamarudin menilai Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan besar, mulai dari geopolitik global, perubahan iklim, perlambatan ekonomi dunia hingga persoalan sosial dalam negeri seperti kemiskinan ekstrem, stunting dan ketahanan keluarga.
Ia menyebut Indonesia masih memiliki sekitar 28 juta penduduk miskin, sementara kemiskinan ekstrem masih dialami jutaan warga. Selain itu, sekitar 19 persen anak Indonesia masih mengalami stunting.
“Ini tantangan besar bangsa kita. Karena itu ISNU harus mengambil bagian dan berpartisipasi mengatasi persoalan-persoalan kebangsaan,” tegasnya.
Menurutnya, ISNU memiliki posisi strategis karena dihuni oleh kalangan akademisi, profesional dan intelektual yang memiliki keahlian serta pengalaman di berbagai bidang.
“Bangsa ini harus dibangun berbasis ilmu pengetahuan. ISNU adalah entitas berkumpulnya orang-orang yang memiliki expertise, pengetahuan dan pengalaman,” ujarnya.
Dijelaskan Sekjen Kemenag RI itu juga menegaskan bahwa ISNU tidak boleh hanya menjadi organisasi diskusi dan seminar semata, melainkan harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“ISNU tidak boleh menjadi menara gading. Kita harus punya langkah konkret dan nyata membantu bangsa ini,” katanya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menekankan pentingnya dukungan ISNU terhadap pemerintah sebagai bagian dari tanggung jawab organisasi dalam mengawal pembangunan nasional.
“Mendukung pemerintah adalah kewajiban eksistensial organisasi ISNU. Pemerintah sudah memiliki visi dan arah pembangunan yang jelas menuju Indonesia 2045,” ujarnya.
Selain kontribusi nyata, ia menilai membangun optimisme dan narasi positif di tengah masyarakat juga merupakan bagian penting dari peran ISNU, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan nasional seperti perubahan iklim dan persoalan sosial lainnya.
Ia menambahkan, para sarjana yang tergabung dalam ISNU merupakan kelompok yang beruntung karena memiliki akses pendidikan tinggi, sementara masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mendapatkan kesempatan serupa.
“Masih hampir 70 persen anak bangsa yang tidak bisa kuliah. Karena itu kita harus bersyukur dan wajib berkontribusi untuk bangsa ini,” katanya.
Di akhir penyampaiannya, ia menyatakan optimisme bahwa ISNU akan mampu membawa perubahan positif di tengah masyarakat melalui kerja nyata, literasi, advokasi dan dukungan terhadap berbagai program pembangunan bangsa. (jho)
