MATARAM –  Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merayakan Hari Lahir (Harlah) ke-66 dengan menggelar bedah buku berjudul “Microselebritas Muslim: Dakwah Virtual di Tengah Budaya Populer” karya Suaeb Qury, Sabtu (25/04), di Ballroom Kampus UNU NTB.

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya akademisi/pembedah Prof Suprapto, Dr. Lalu Khatibul Umam, Athik Hidayatul Ummah, serta Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi NTB, Abul Chair, Ak. Forum ini menyoroti fenomena transformasi dakwah di era digital yang kian berkembang melalui media sosial.

Pembedah, Prof Suprapto menilai buku tersebut relevan dengan perubahan lanskap dakwah saat ini. Ia menegaskan bahwa otoritas keagamaan tidak lagi terbatas pada ruang-ruang konvensional.

“Transformasi dakwah itu luar biasa, dari mimbar ke digital, dari jamaah yang terbatas wilayah menjadi tanpa batas. Sekarang, jangkauan dakwah ditentukan sejauh mana klik dan jumlah pengikut di media sosial,” ujarnya.

Menurutnya, konsep microcelebrity menjadi penting karena memungkinkan individu membangun pengaruh dari ruang-ruang kecil melalui platform digital. Ia menyebut, fenomena ini ditopang oleh kemampuan self-branding, kedekatan dengan audiens, serta konsistensi dalam memproduksi konten.

“Microcelebrity hadir di ruang itu. Seseorang bisa menjadi populer dari ruang kecil, bahkan dari kamar tidur, dengan membangun jaringan dan kedekatan dengan audiensnya,” kata Suprapto.

Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa konsep tersebut masih perlu dielaborasi lebih dalam secara akademik, termasuk dengan pendekatan teori digital religion dan mediatisasi agama.

Sementara itu, Sekda Pemprov NTB, Abul Chair menekankan bahwa era digital membuka ruang luas bagi siapa saja untuk berdakwah, namun tetap membutuhkan landasan etika dan keilmuan.

“Semua orang saat ini bisa menjadi dai digital. Cukup punya koneksi internet dan keberanian. Tapi dakwah itu harus dilandasi iman, jangan sampai tanpa dasar karena sangat berbahaya di era tanpa batas ini,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya tanggung jawab dalam penggunaan media sosial, mengingat setiap konten yang disebarkan akan memiliki konsekuensi, baik di dunia maupun secara moral keagamaan.

“Apa yang kita tulis dan kita sebarkan hari ini akan menjadi saksi. Karena itu, etika bermedia harus dijaga,” tambahnya.

Buku karya Suaeb Qury tersebut membahas bagaimana praktik dakwah mengalami pergeseran seiring berkembangnya budaya populer dan teknologi digital, termasuk munculnya figur-figur microcelebrity muslim yang memanfaatkan media sosial sebagai medium dakwah.

Kegiatan bedah buku ini menjadi salah satu rangkaian Harlah PMII ke-66 di Ballroom Universitas NU NTB, sekaligus menegaskan kontribusi kader dalam penguatan tradisi intelektual dan produksi pengetahuan yang relevan dengan dinamika sosial-keagamaan kontemporer. (jho)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *