Abdus Syukur. (Foto: dokumen pribadi)

Abdus Syukur**

Pariwisata itu unik. Ia bekerja paling keras justru ketika tidak terlihat bekerja. Tidak ada palu. Tidak ada cangkul. Tidak ada pita yang dipotong sambil berfoto. Di situlah BPPD berada.

Badan Promosi Pariwisata Daerah—namanya panjang, pekerjaannya sering dianggap pendek. Padahal justru sebaliknya. BPPD tidak membangun jalan, tapi memastikan jalan itu dilewati orang. Tidak membangun hotel, tapi membuat kamar terisi. Tidak mengelola destinasi, tapi membuat destinasi dibicarakan. Masalahnya satu. Hasil promosi tidak bisa diresmikan.

Tidak ada plakat bertuliskan: “Di sinilah wisatawan China memutuskan datang ke Lombok.” Tidak ada prasasti. “Caption Instagram ini menyumbang 3.000 wisatawan.” Maka promosi sering disangka tidak kerja.

Padahal kerja BPPD justru dimulai dari hal yang tidak kasat mata. Meyakinkan. Meyakinkan travel agent bahwa NTB aman. Meyakinkan media bahwa NTB layak ditulis. Meyakinkan pasar bahwa NTB pantas dijual. Itu kerja sunyi.

BPPD masuk ke ruang-ruang rapat tanpa kamera. Duduk berjam-jam dengan buyer luar negeri yang tidak peduli siapa gubernurnya, tapi peduli satu hal. Apakah paket ini laku?

BPPD juga harus pintar menahan diri. Tidak boleh terlalu teknis—karena itu tugas dinas. Tidak boleh terlalu politis—karena ia lembaga independen. Tidak boleh terlalu banyak bicara—tapi juga tidak boleh diam. Berat.

Di sinilah sering terjadi salah paham. Ketika pariwisata ramai, semua mengaku berjasa. Ketika sepi, promosi yang pertama ditanya. “BPPD ke mana?” Padahal promosi bukan saklar. Ia bukan ON-OFF. Ia proses. Ia akumulasi. Ia kerja jangka panjang.

Kalau hari ini wisatawan datang, bisa jadi itu hasil promosi dua tahun lalu. Kalau hari ini sepi, bisa jadi karena promosi terputus tahun kemarin.

BPPD bekerja dengan memori pasar. Dan pasar, seperti manusia, mudah lupa. Karena itu BPPD tidak boleh ikut-ikutan sibuk urusan kantor. Tidak boleh larut dalam soal ruangan, kursi, dan papan nama. BPPD harus sibuk keluar—menjual, membujuk, dan membangun reputasi. Kalau BPPD sibuk ke dalam, pariwisata akan ke luar.

Dan di ujungnya, pariwisata memang bukan soal siapa yang paling terlihat bekerja. Tapi siapa yang paling banyak membuat orang datang—meski tanpa tahu siapa yang mengundang. Itulah seni promosi. Itulah kerja BPPD. Sunyi. Tapi menentukan.

Pada akhirnya, BPPD memang tidak pandai memamerkan kerja. Ia tidak punya proyek untuk dipotret, tidak punya bangunan untuk diresmikan. Yang ia punya hanya angka kunjungan—yang sering diklaim ramai-ramai. Maka jangan heran jika BPPD kerap disalahpahami: bekerja ketika dianggap diam, dan dianggap tidak bekerja ketika justru paling sibuk. Tapi begitulah promosi—kalau semua orang tahu siapa yang bekerja, biasanya itu bukan promosi, melainkan pamer. (*)

**Anggota BPPD NTB periode 2023-2027

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *