Yang datang lebih dari 18 ribu orang. Yang bergerak bukan cuma otot, tapi juga uang. Yang bersaing bukan sekadar kekuatan fisik, tapi juga hotel, warung makan, penyedia transportasi, sampai tukang parkir.
Inilah Festival Olahraga Rekreasi Masyarakat Nasional — Fornas VIII.
Digelar di NTB. Di Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara, bahkan sampai Bima dan Sumbawa.
Wilayahnya luas. Perputaran uangnya juga tak kecil: diperkirakan lebih dari Rp 800 miliar.
“Ini bukan hanya olahraga. Ini pergerakan ekonomi,” kata Ibnu Sulistyo Riza Pradipto, Ketua Panitia Fornas VIII.
Saya percaya. Karena jumlah pesertanya pun bukan main-main. 12.378 atlet, 3.870 perangkat pertandingan dan official, ditambah ribuan pendamping dan penonton.
Mereka datang dari 38 provinsi.
Dan yang membuat saya tertegun: sebagian besar biaya ditanggung sendiri oleh peserta.
Artinya, gairah olahraga ini sudah tertanam di masyarakat. Bukan karena disuruh, tapi karena ingin.
Yang kebagian rezeki? Banyak.
Hotel-hotel penuh. Mobil sewaan ludes.
UMKM kuliner senyum lebar. Tukang ojek di perempatan lebih rajin menunggu.
Warung kopi ramai sampai tengah malam.
Dan yang tak kalah penting: ada lebih dari 9.500 lapangan kerja tercipta — walau sementara — dari gelaran ini.
Fornas adalah ajang olahraga rakyat. Tapi dampaknya tidak rakyat kecil.
Pemerintah pusat ikut memperhatikan. Bahkan Menpora menyebut ini bagian dari ekosistem olahraga yang harus dibudayakan.
Gaya hidup sehat, katanya.
Tapi menurut saya: ini bukan cuma sehat, ini produktif. Sehat jiwa dan raga, dan sehat kantong rakyat kecil.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal melihat lebih jauh lagi.
Katanya, Fornas ini bukan puncak.
Ini pemanasan.
Untuk PON 2028 yang juga akan digelar di NTB.
Dia ingin NTB bukan cuma siap jadi tuan rumah — tapi jadi tuan rumah yang membanggakan.
Yang tidak hanya menampilkan alam indah, tapi juga karakter warganya yang ramah dan profesional.
Saya setuju.
Karena jadi tuan rumah bukan soal punya venue megah. Tapi punya warga yang hebat. Yang siap menyambut, melayani, bahkan memberi kesan untuk dikenang.
Fornas ini hanya satu pekan. Tapi jika dampaknya bisa mengubah cara pandang kita terhadap olahraga rakyat dan ekonomi lokal — itu sudah cukup jadi warisan.
Sebuah pesta yang layak dirayakan — bukan hanya oleh para atletnya, tapi oleh seluruh rakyat yang ikut memutar roda ekonomi.
Tanpa perlu rebutan medali emas. (abdus syukur)
Foto: Abdus Syukur (dok pribadi)