KHOTIM/RADARMANDALIKA Samsul Bahri

Sosok Samsul Bahri saat ini bisa dibilang sukses. Bahkan sekarang menduduki jabatan sebagai General Manager JM Hotel Kuta. Namun di balik itu semua, banyak cerita miris atas perjalanan hidupnya. Seperti apa?

KHOTIM-LOMBOK TENGAH

BAGI pelaku pariwisata sudah tidak asing lagi nama Samsul Bahri. Di luar pria ini akrab dipanggil dengan sapaan Samsul. Dimana, pria yang lahir di Penujak 31, Desember 1979 itu sekarang genap berusia 42 tahun.
Samsul yang berasal dari keluarga serba pas-pasan sejak kecil harus menerima kondisi pahitnya hidup, saat itu sang bapak sakit-sakitan dengan divonis mag kronis, waktu itu sejak dirinya masih duduk di bangku SD. Orangtua yang berprofesi sebagai petani buruh tani ini sawah orang bangsawan asal Desa Kuta. Tidak jarang iapun tetap ikut bertani sejak kecil.
Di tengah kondisi kehidupan yang serba pas-pasan, Samsul berhasil di sekolahkan orangtua. Ia sekolah di SDN Tuban Desa Segala Anyar, MTsN Model Praya dan MAN 1 Praya. Tak sampai disitu, ia juga bisa melanjutkan pendidikan yang disebut PPLP D1 Pariwisata.

” Sebenarnya saya pengen kuliah tapi kondisi ekonomi orangtua sangat tidak mampu untuk melanjutkan kuliah,” ceritanya kepada Radar Mandalika.

Samsul yang mulai melangkahkan kaki di dunia pariwisata dengan diawali pada program training 6 bulan, bahkan training di Hotel Novotel Lombok, Kuta. Diceritakannya, setelah 3 bulan pertama diminta bekerja Daily Waiter ( gaji sesuai hari masuk), gaji pertama diterimanya Rp 500 ribu dari 26 hari.

Seiring berjalannya waktu, Samsul terus berpikir bagaimana mengupgread diri menjadi orang sukses, mengingat melihat rekan kerja dari luar negeri dengan pengalaman dari hotel Malaysia, kapal pesiar dan nilai tawarnya tinggi.
“Maka saya putuskan bertekat ke luar negeri,” tuturnya.

Disaat itulah dia memilih mengadukan nasib ke luar negeri tanpa tujuan jelas, bahkan cara berangkat ia belum tahu seperti apa prosesnya. Tidak habis akal, Samsul meminta saudara bapaknya mengantatnya ke Jakarta dengan kondisi tidak tahu arah dan tujuan kemana. Kemudian Samsul mulai masuk ke beberapa PT di Jakarta yang bergerak pada bidang perhotelan, tapi memang beberapa kali salah alamat dan sulit mendapatkan job ke luar negeri.

Sampai 2 bulan di Jakarta juga masih belum ada kejelasan, ia pun mulai dilema berpikir akan balik ke Lombok. Namun itu tidak mungkin juga ia lalukan. Akhirnya diputuskan akan tetap ke luar negeri asalkan bekerja di sana. Beruntung ada job ke Saudi Arabia, ada perusahan peternakan terbesar di Saudi Arabia yang bergerak bidang peternakan ayam yang hasilnya hingga mengeksport ayam petelur ke luar negeri. Samsul pun berangkat bersama 15 orang dan sempat ditanya siapa yang bisa berbahasa Inggris? Dengan ilmu yang dimiliki, ia pun mengacungkan tangan dan menceritakan pengalaman di dunia pariwisata bahkan hotel.
Tahun 1999 silam, Samsul berangkat ke Saudi dengan skill yang dia miliki menjadi pelayana khusus (asisten majikan) dari perusahan tersebut harus ikut kemanapun majikannya dan dia layani setiap saat. Sampai-sampai 15 menit sekali orang Arab itu harus ngopi dan minum the dengan catatan tidak boleh dingin dan diganti berkali-kali.
Nasib baik untuk dia, saking nyamannya majikan pun membebaskan dia setiap tahun pulang kampung dengan pesangon besar. Bukan itu saja, setelah balik lagi ke tanah perantauan, ia satu rumah denga orang Jawa yang merupakan teknisi komputer Indonesia di Makkah.

“Tahun kedelapan saya memutuskan menikah 2006 di Saudi Arabia, saya bersama istri dan anak 2 tahun berada di Saudi,” ceritanya.
Waktu berjalan di tanah rantauan, Samsul pun menghabiskan waktu untuk belajar komputer bongkar pasang computer, termasuk laptop dengan beli sperpart. Pada tahun ke 6 Samsul sudah mulai perbaiki leptop rekan di kantor, tidak lama manager perusahaan ia ditawarkan sebagai teknisi IT di perusahaan ayam itu.

“Ibarat pepatah, hujan emas di negara orang dan hujan batu di negara sendiri,” katanya.
Dengan kemampuan dan ilmu yang diperoleh di tanah suci Makkah, Samsul berencana pulang dan menjadi teknisi komputer. Tak lama surat pengunduran diri dilayangkan, namun dua kali disobek tanpa alasan. Sementara surat ketiga ia jelaskan dasar pulang kampung dengan alasan keluarga sakit dan diberikan.

“Tahun 2011 saya pulang. Tahun 2012 akhir saya masuk ke hotel Grand Royal masuk pada bidang soft opening, iya sangat PD dengan modal Bahasa Arab dan Inggris bahkan Ilmu komputer jadinya saya sangat PD,” tuturnya.

“Bulan pertama hanya mendapatkan gaji 750 ribu, bulan ketiga gaji 1,5 juta,” sambung ceritanya.

Selanjutnya, 2008 ia menjabat Operation Manager Grand Royal Hotel. Namun dia berpikir butuh tantangan baru yang lebih keras. Maka ia mengambil tawaran di D’Praya Hotel menjadi marketing manajer dan hanya 3 minggu memilih keluar mengingat waktu itu dengan alasan hotel dijual.

Masuk tahun 2014 hingga 2015 Samsul ditawari oleh pihak hotel JM bergabung dengan dasar rekomendasi teman. Ia pun memilih ke Ilira Hotel, tak lama Samsul kembali ditawari pihak JM untuk masuk dan mengelola. Seiring waktu, tepat 2018 Juni pariwisata sedang buming, berada di puncak namun hotel JM ini tidak survive, maka dia yang baru masuk di hari pertama ownernya ia minta seluruh karyawan untuk meeting dan menyampaikan semua karyawan bahwa hotel tersebut diberikan sepenuhnya untuk mengelola dan menjadi kekuatan memulai membangun tim dan membranding hotel itu.

“Dan tidak salah seperti kata orang, banyak teman banyak relasi banyak rizki, maka pada dasarnya ilmu marketing itu cuma satu. Banyak temen banyak relasi rezki datang sendiri,” ujarnya.

Perjalanan tak selalu indah. Musibah datang juga, Agustus tahun 2018 gempa mengguncang Lombok, pariwisata pun lumpuh dan berimbas kepada perhotelan. Singkat cerita, dia ber 4 dengan tim komunitas pengelola hotel berkumpul, keliling di 4 hotel dengan terus menggaungkan nama organisasi Mandalika Hotel Association (MHA) ini, kemudian melakukan pendekatan satu persatu dan direspons sangat baik hingga sampai saat ini MHA ada 63 anggota .

“Saya dipaksa menjadi ketua dengan alasan masih muda dan lokal,” sebutnya.

“Pesan saya, jangan pernah ada musuh karena 1 musuh lebih bahaya dari 1.000 kawan. Sama jangn pernah ada rasa dendam dan iri,” pesannya.(*)

 

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

One thought on “12 Tahun jadi TKI, Sekarang Diberikan Kepercayaan Besar Kelola Hotel”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *