LOBAR—Di tengah menjamurnya berbagai pilihan tempat kuliner di Lombok, Sukma Rasa berhasil mempertahankan posisinya sebagai salah satu destinasi favorit masyarakat untuk berkumpul berbuka puasa. Lonjakan signifikan jumlah pengunjung yang memadati berbagai cabang Sukma Rasa selama bulan Ramadan tahun ini.
Manajer Outlet Sukma Rasa, Dian Safitri, mengungkapkan bahwa antusiasme masyarakat pada tahun ini tergolong sangat tinggi dibandingkan dengan periode sebelumnya. Sejak awal Ramadan, Sukma Rasa memutuskan tetap beroperasi tanpa hari libur guna memenuhi kebutuhan pelanggan selama ramadan. Strategi ini membuahkan hasil positif dengan stabilnya arus pengunjung sejak pekan pertama.
Menurut Dian, tren kunjungan mengalami eskalasi memasuki fase pertengahan hingga sepuluh hari terakhir Ramadan. Pada periode tersebut, kapasitas kursi yang tersedia hampir selalu terisi penuh oleh para pelanggan yang telah melakukan reservasi jauh-jauh hari. Lonjakan ini tidak hanya terjadi pada satu titik, melainkan merata di beberapa cabang yang dikelola.
“Alhamdulillah sejak awal sudah mulai banyak pengunjung,” ujar Dian Safitri saat memberikan keterangan di salah satu outlet Sukma Rasa.
Profil pengunjung Sukma Rasa didominasi kelompok usia 25 tahun ke atas. Segmen ini mencakup kalangan milenial yang sudah bekerja serta kelompok keluarga. Meskipun terdapat pengunjung dari kalangan remaja atau Gen-Z, porsi terbesar tetap berasal dari kalangan dewasa yang mencari kenyamanan dan kualitas hidangan yang lebih berat.
Karakteristik menu yang disajikan di Sukma Rasa memang dirancang untuk dapat dinikmati secara komunal atau berkelompok. Hal inilah yang mendasari mengapa paket keluarga menjadi produk yang paling banyak dicari selama momen berbuka puasa.
Atmosfer yang hangat dipadukan dengan pelayanan yang ramah menjadi alasan utama mengapa keluarga memilih tempat ini sebagai lokasi rutin tahunan mereka.
“ Karena kalau kita lihat dari menu juga kan lebih ke menu berat, jadi untuk anak-anak mungkin hanya beberapa saja,” jelas Dian.
Di tengah gempuran tren penggunaan pemengaruh (influencer) atau promosi digital yang agresif, Sukma Rasa memilih jalan yang lebih organik. Manajemen menekankan pada konsistensi rasa dan kualitas pelayanan sebagai strategi utama untuk mengikat loyalitas pelanggan. Kepercayaan yang dibangun melalui testimoni dari mulut ke mulut terbukti efektif menjaga eksistensi mereka selama hampir 15 tahun berdiri.
Setiap cabang Sukma Rasa, termasuk yang berlokasi di Mataram, Loang Balu, Babakan, dan Narmada, tetap mengedepankan standar yang sama dalam penyajian hidangan. Penggunaan pakaian adat Sasak oleh para staf juga menjadi nilai tambah yang memperkuat identitas lokal dan memberikan pengalaman unik bagi pengunjung yang datang.
“Kami sebenarnya belum terlalu punya trik khusus, kami lebih kepada mempertahankan kualitas pelayanan dan kualitas makanan. Kami juga masih organik, tidak menggunakan influencer atau kontrak selebgram. Kami masih mengandalkan pelanggan dari mulut ke mulut,” tambah Dian Safitri.
Tingginya permintaan selama Ramadan tentu mendatangkan tantangan tersendiri, terutama dalam hal ketersediaan stok bahan baku. Beberapa menu unggulan seperti ayam seringkali habis lebih cepat dari biasanya, terutama pada akhir pekan di mana jumlah reservasi mencapai puncaknya. Namun, dengan koordinasi yang baik bersama para pemasok, Sukma Rasa berkomitmen untuk terus memberikan yang terbaik hingga akhir masa lebaran nanti.
Dengan total enam cabang yang kini tersebar, Sukma Rasa optimis dapat terus berkembang sebagai ikon kuliner lokal yang mengutamakan cita rasa autentik dan keramahan khas daerah, menjadikannya rumah kedua bagi masyarakat yang ingin merayakan momen kebersamaan di bulan yang penuh berkah.(win)
