LOBAR—Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Lombok Barat (Lobar) mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap fenomena kenakalan remaja di bulan suci Ramadan. Salah satu yang menjadi sorotan utama praktik taruhan, seperti adu panco dan balap lari liar.
Beberapa lokasi sudah diindentifikasi Satpol PP disinyalir menjadi titik berkumpulnya para pemuda untuk melakukan kegiatan yang meresahkan tersebut. Berdasarkan data yang dihimpun, lokasi itu ada di area di depan Kantor Inspektorat Lobar menjadi salah satu lokasi yang dipetakan sebagai tempat favorit untuk aktivitas adu panco.
Kasatpol PP Lobar, I Ketut Rauh, tidak menampik indikasi praktik perjudian terselubung atau taruhan memang nyata ditemukan di lapangan. Pihaknya tidak ingin kecolongan dengan membiarkan kegiatan tersebut tumbuh subur selama bulan suci. Mengingat dampak negatif yang ditimbulkan terhadap ketertiban umum.
“Iya anak-anak muda itu, ada indikasinya (taruhan). Malah kemarin-kemarin sebelum bulan puasa sudah ada. Cuman kita sudah lakukan penindakan. Nanti kita lihat lagi apakah masih ada (saat puasa),” ujar I Ketut Rauh, Rabu (18/2).
Selain aktivitas adu panco, fenomena balap lari liar juga menjadi perhatian serius petugas. Berbeda dengan olahraga pada umumnya, balap lari yang dilakukan di jalan raya ini seringkali dibarengi dengan aksi tutup jalan dan taruhan uang di antara para pendukungnya. Kecamatan Batu Layar teridentifikasi sebagai wilayah yang paling rawan terjadi aksi balap lari tersebut.
Batu Layar, yang merupakan kawasan penyangga wisata, memiliki jalanan yang lurus dan luas, sehingga sering disalahgunakan oleh para remaja. Pemetaan ini merupakan hasil koordinasi intensif antara Satpol PP dengan jajaran pimpinan wilayah di tingkat kecamatan untuk memastikan pengamanan yang merata.
“Ini berdasarkan hasil rapat dengan semua camat. Beberapa camat juga menyampaikan hal itu, terutama itu di daerah Batu Layar. Yang lainnya ada potensi, tapi maraknya di Batu Layar,” ungkap Rauh.
Aktivitas negatif ini biasanya mulai marak terjadi sesaat setelah ibadah salat tarawih hingga menjelang waktu imsak. Rentang waktu tersebut dinilai rawan karena mobilitas remaja di luar rumah cenderung meningkat. Menanggapi hal ini, Satpol PP Lombok Barat telah menyiapkan regu khusus yang akan melakukan patroli rutin secara persuasif namun tegas.
Meski demikian, Rauh mengakui adanya kendala di lapangan saat proses penertiban. Kehadiran petugas seringkali membuat para remaja tersebut membubarkan diri secara mendadak sebelum sempat dilakukan pembinaan secara mendalam.
“Tapi biasanya begitu kita dateng, langsung lari (kabur) mereka,” tuturnya menceritakan tantangan saat melakukan patroli di lapangan.
Pemda menegaskan upaya penertiban tidak akan maksimal tanpa adanya dukungan dari lingkungan keluarga. Larangan taruhan dan balapan di jalan raya bukan semata-mata soal hukum, melainkan juga menjaga keselamatan jiwa para remaja itu sendiri serta kenyamanan pengguna jalan lainnya.
Menutup keterangannya, I Ketut Rauh mengimbau kepada seluruh orang tua di Lombok Barat agar lebih ketat dalam memantau aktivitas anak-anak mereka, terutama setelah pelaksanaan ibadah di masjid.
“Kami mengimbau kepada orang tua untuk meminta anaknya agar selesai tarawih langsung balik ke rumah atau melanjutkan ibadah di masjid masing-masing, untuk menghindari hal-hal seperti taruhan tersebut dilakukan,” pungkasnya. (win)
