Rektor UIN Mataram Profesor Masnun dalam sebuah acara di Mataram. IST (RADAR MANDALIKA)

MATARAM – Rektor UIN Mataram, Profesor Masnun Tahir memberikan apresiasi mendalam atas penegasan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno yang menyebut pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren (Ditjen Pesantren) sebagai wujud nyata hadirnya negara dalam menguatkan ekosistem pesantren dan memberdayakan jutaan santri di Indonesia.

Menurut Masnun pernyataan Menko PMK tersebut bukan hanya pengakuan atas peran historis pesantren, tetapi juga momentum strategis untuk mempercepat transformasi pendidikan Islam di tanah air.

“Kami melihat keseriusan negara untuk kembali menengok sumber kekuatan bangsa, pesantren dan santri. Ketika negara memberikan dukungan struktural pada pesantren, maka yang diperkuat adalah sendi-sendi moral, keilmuan, dan kebudayaan yang menjadi fondasi Indonesia,” ujar Masnun Sabtu (15/11) di Mataram.

Masnun juga menyoroti data Kementerian Agama yang mencatat lebih dari 42 ribu pesantren dan 12,5 juta santri di seluruh Indonesia. Baginya, angka tersebut menunjukkan potensi besar yang harus dikelola negara secara serius, bukan sekadar sebagai institusi tradisional, tetapi sebagai modal sosial bangsa yang mampu merawat kebinekaan dan memperkokoh persatuan.

“Santri dan pesantren bukan entitas pinggiran. Mereka adalah pilar peradaban Nusantara. Negara hadir melalui Ditjen Pesantren memberikan ruang lebih luas bagi pesantren untuk tumbuh, berinovasi, dan menjawab kebutuhan zaman,” tegasnya.

Terkait masih adanya pesantren yang berjuang dengan keterbatasan infrastruktur dan fasilitas dasar, Rektor UIN Mataram senada dengan peringatan Menko PMK bahwa keselamatan santri harus menjadi prioritas utama.

“Menjaga nyawa adalah prinsip dasar maqashid syariah. Negara perlu memastikan standar keamanan, sanitasi, dan kesehatan bagi para santri di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Rektor UIN Mataram juga menyambut baik penekanan Menko PMK mengenai pentingnya pembaruan kurikulum pesantren agar mampu menjawab tantangan era disrupsi. Ia menilai bahwa santri masa kini harus dibekali keterampilan vokasional, literasi digital, dan jiwa kewirausahaan.

“Santri harus kuat di kitab kuning, tetapi juga harus siap di dunia modern. Mereka tidak hanya membutuhkan ilmu agama, tetapi juga kemampuan adaptif agar mampu berdiri tegak di tengah perubahan. Istilah ‘santri punya kail, bukan hanya ikan’ sangat tepat menggambarkan arah transformasi ini,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, Masnun menegaskan bahwa UIN Mataram siap berkolaborasi dengan Ditjen Pesantren dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem pendidikan Islam di Indonesia Timur, khususnya Nusa Tenggara Barat.

“Kami siap berkontribusi, mengintegrasikan kekuatan akademik kampus dengan kearifan pesantren. Kebangkitan pesantren adalah kebangkitan peradaban bangsa,” tutup guru nun sapaan akrab rektor itu.

Menko PMK Pratikno sebelumnya menyampaikan bahwa pesantren adalah “detak jantung bangsa” yang melahirkan generasi pejuang sekaligus penjaga nilai keislaman dan kebangsaan. Rektor UIN Mataram menegaskan bahwa ungkapan tersebut sangat relevan dengan realitas sosial Indonesia.

“Para kiai dan nyai adalah penjaga bara peradaban. Mereka mendidik tanpa mengenal waktu, menjadikan ilmu sebagai jalan hidup. Semangat hubbul wathan minal iman—cinta tanah air bagian dari iman lahir dan tumbuh kuat dari kultur pesantren,” jelasnya. (jho)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *