BUTUH PERHATIAN: Suliati yang tinggal di gubuk reot, membutuhkan atensi secara serius pemerintah Lombok Timur. (IST/RADAR MANDALIKA)

Suliati bersama dua anaknya, tinggal di gubuk reyot Dusun Batu Tinja Desa Selaparang Kecamatan Suela. Ia menjadi potret kehidupan masyarakat di bawah garis kemiskinan ekstrem, yang membutuhkan perhatian pemerintah.

MUHAMAD RIFA’I – LOTIM

GUNUNG Rinjani dikenal sebagai salah satu gunung tertinggi di Indonesia, yang banyak memikat pendaki dalam atau pun luar negeri. Namun di kaki gunung Rinjani, tepatnya di RT Lendang Belo Dusun Batu Tinja, Desa Selaparang, Kecamatan Suela, Lombok Timur terdapat warga dengan kisah perjuangan hidup yang memilukan. Namanya Suliati 33 tahun, seorang ibu Tunggal. Ia harus berjuang melawan kemiskinan ekstrem dengan tinggal di sebuah gubuk yang dan nyaris tak layak huni.

Malam itu, Senin 16 Februari 2026, rintik hujan menambah dingin suasana di rumah Suliati. Gubuk tempat tinggalnya ini, bukan berlantaikan granit, tapi hanya tanah. Sementara dinding terbuat dari anyaman bambu sudah lapuk dimakan usia.

Pada saat musim hujan, rumah itu kadang seperti kebanjiran, karena banyak lubang air hujan masuk. Di dalam ruangan sempit tanpa sekat kamar itu, tampak sibuk merawat anak keduanya yang tengah terbaring demam.

“Suami saya sudah meninggal empat tahun yang lalu. Sejak saat itu, saya dan anak-anak berjuang sendiri,”kata Suliati dengan nada lirih.

Sejak kepergian sang suami, beban ekonomi sepenuhnya berada di pundak Suliati. Meskipun memiliki keterbatasan fisik, ia tetap memaksakan diri bekerja sebagai buruh harian lepas. Penghasilannya jauh dari kata cukup, bahkan untuk sekadar makan sehari-hari. Ia hanya mengandalkan pekerjaan sebagai buruh harian lepas. Memang ada sawah peninggalan suaminya, namun menurutnya itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama buah hatinya.

Suliati mengaku, bantuan sosial yang dulu ia terima saat suaminya masih hidup, kini telah terputus. Saat ini, ia hanya mengandalkan bantuan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Kesra, yang jumlahnya terbatas. Sementara bantuan reguler seperti BPNT dan PKH tak lagi ia rasakan.

Meski hidup dalam himpitan ekonomi, semangat Suliati untuk pendidikan kedua putrinya berusia 10 tahun dan 13 tahun tidak pernah padam. Ia tidak ingin nasib pahit yang dialaminya menular kepada buah hatinya. “Saya dulu tidak tamat SD. Anak saya harus lebih baik,” ujarnya.

Menanggapi kondisi warganya yang viral, Pemerintah Desa Selaparang melalui Sekretaris Desa, Lalu Andi Taofik memberikan penjelasan. Ia mengakui adanya kendala administratif pasca meninggalnya suami Suliati yang menyebabkan bantuan PKH terhenti. Yang tersisa hanya BLT Kesra saja.

Pihak desa memastikan akan segera mengambil langkah cepat untuk mendaftarkan kembali Suliati ke dalam sistem penerima bantuan sosial. Pemerintah desa bersama Pendamping PKH sudah melihat langsung kondisi Suliati, dan segera diusulkan kembali.

Kini, Suliati hanya bisa menunggu realisasi janji tersebut. Sembari terus merajut harapan di tengah gelapnya malam di Lendang Belo, demi senyum dan masa depan kedua putrinya. “Saya berharap ada uluran tangan pemerintah, untuk bisa meringankan beban kami dan menjamin masa depan anak-anak saya,” harapnya. (*)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *