Tetap Jaga Sakralitas di Tengah Modernisasi
Masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok kembali bersiap menyambut tradisi tahunan Lebaran Topat yang jatuh pada 8 Syawal, atau tepat sepekan setelah Idul Fitri. Tradisi ini bukan sekadar perayaan kultural biasa, melainkan manifestasi rasa syukur atas selasainya ibadah puasa sunnah Syawal selama enam hari berturut-turut.
WINDY DHARMA/LOMBOK BARAT
Di Kabupaten Lombok Barat, perayaan tahun ini dikemas secara apik oleh pemerintah daerah guna menyeimbangkan nilai sakral keagamaan dengan potensi daya tarik wisata religi.
Secara historis, Lebaran Topat merupakan warisan para penyiar agama Islam atau para Wali di tanah Lombok yang menggunakan pendekatan budaya sebagai media dakwah. Nilai-nilai filosofis yang terkandung di dalamnya, seperti kebersamaan dan penghormatan kepada leluhur, tetap terjaga hingga saat ini. Rangkaian ritual utama seperti Nyekar (ziarah makam), Begibung (makan bersama dalam satu nampan), dan Roah (doa bersama) menjadi pilar utama yang tidak terpisahkan dari hajat besar masyarakat ini.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Barat memastikan bahwa meskipun acara dikemas dalam bentuk festival, pakem tradisi tetap menjadi prioritas utama. Rangkaian acara dimulai dengan prosesi yang sangat khidmat. Bupati Lombok Barat bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat dijadwalkan akan melakukan ziarah ke Makam Batulayar, sebuah situs religi yang sangat dihormati oleh masyarakat setempat. Ada yang sedikit berbeda dalam teknis pelaksanaan mobilisasi rombongan tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya. Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga (Disparekrafpora) Lombok Barat, Ni Luh Ayu Budianti, memberikan penjelasan mendalam mengenai alur prosesi tersebut.
“Sebelum menuju Makam Batulayar, bupati bersama rombongan terlebih dahulu mengambil air di Lingkoq Beleq baru kemudian berjalan kaki menuju makam untuk Ziarah Makam,” terang Ni Luh Ayu Budianti pada Senin (16/3).
Langkah ini diambil untuk mempertahankan esensi ritual pengambilan air suci yang telah turun-temurun dilakukan. Penggunaan kendaraan bermotor dan berjalan kaki dikombinasikan secara proporsional untuk menjaga efisiensi waktu tanpa mengurangi nilai kekhidmatan prosesi jalan kaki menuju area makam yang sakral.
Selain perubahan rute ziarah, Pemkab Lombok Barat juga melakukan reposisi pusat kegiatan puncak perayaan. Jika biasanya perayaan terpusat di area terbuka pantai, tahun ini konsentrasi massa dan panggung utama dialihkan ke Amphiteatre Pasar Seni Senggigi. Keputusan ini diambil berdasarkan pertimbangan teknis mengenai kenyamanan pengunjung dan keteraturan acara.
Ni Luh menjelaskan bahwa perubahan ini merupakan upaya peningkatan kualitas manajemen acara. Penggunaan moda transportasi tradisional seperti cidomo tetap dipertahankan sebagai simbol ikonik transportasi lokal dalam rangkaian parade menuju pusat acara.
“Usai melakukan Ziarah Makam, rombongan menggunakan cidomo menuju Senggigi Square. Di sana bupati akan melepas Parade Gunungan Topat dan ikut berjalan bersama peserta parade menuju lokasi puncak perayaan Lebaran Topat yakni Amphiteatre Pasar Seni Senggigi. Pada puncak perayaan, bupati akan melakukan prosesi pemotongan Topat Agung atau ketupat raksasa untuk dinikmati bersama masyarakat yang hadir,” terangnya kembali.
Pemilihan Amphiteatre Pasar Seni Senggigi sebagai venue utama bukan tanpa alasan. Lokasi ini dinilai memiliki fasilitas yang lebih mumpuni untuk menampung panggung seni, stan UMKM lokal, serta pengaturan arus penonton yang lebih tertib dibandingkan area pantai yang seringkali mengalami kepadatan tak terukur. Langkah ini juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi pelaku usaha kecil di sekitar kawasan Senggigi.
Lebaran Topat kini telah berkembang menjadi magnet wisata yang luar biasa. Sepanjang garis pantai Lombok Barat, mulai dari Pantai Senggigi, Pantai Kuranji, hingga Pantai Cemare, dipadati oleh ribuan warga yang datang untuk merayakan momen ini bersama keluarga. Fenomena “makan ketupat di pantai” telah menjadi identitas unik pariwisata Lombok Barat pasca-Lebaran.
Meski sisi hiburan diperkuat dengan adanya live music yang dijadwalkan berlangsung dari sore hingga malam hari, esensi dari Lebaran Topat tetap pada doa dan silaturahmi. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga tradisi ini membuktikan bahwa nilai-nilai normatif agama dapat berjalan beriringan dengan modernisasi tata kelola acara.
Dengan persiapan yang matang dan koordinasi lintas sektor, Lebaran Topat tahun ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya bagi masyarakat Sasak, tetapi juga menjadi momentum kebangkitan pariwisata di kawasan Senggigi dan sekitarnya melalui promosi event yang lebih profesional dan terorganisir. (*)