LOBAR—Penyebab Bencana Banjir yang menerjang 7 Desa di Sekotong menjadi perhatian serius Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) H Lalu Muhammad Iqbal. Dugaan penggundulan hutan perbukitan akibat alih fungsi lahan hingga pembangunan vila menjadi titik sorotan orang nomor satu di NTB itu. Lantaran saat meninjau kondisi bencana di Sekotong bersama Bupati, wakil bupati Lobar dan Anggota DPRD Provinsi dan Lobar, Iqbal melihat banyaknya sedimentasi material lumpur hingga pepohonan yang menutupi aliran sungai. Memperkuat indikasi kondisi hutan yang sudah tidak baik.

Iqbal bahkan memperingatkan para Kepala Desa untuk memperketat kebijakan perizinan pembangunan. Ia meminta agar tidak ada lagi rekomendasi pembangunan hotel atau vila di area sensitif tanpa kajian lingkungan yang mendalam.

“Jangan sampai pembangunan di satu sisi justru membawa petaka banjir di sisi lain di masa depan,” tegas Gubernur, Rabu (14/1).

Ia menilai sebelum mengeluarkan rekom harus dilihat dulu dampaknya terhadap lingkungan. Jangan sampai sembarangan lagi mengeluarkan rekomendasi untuk menjadi dasar pembuatan sertifikat-sertifikat.

“Karena Tidak cukup meninggikan tanggul (Sungai), tapi persoalan di gunungnya harus diselesaikan,” pintahnya.

Kondisi bukit yang sudah gundul tidak mampu menahan aliran air sehingga air sungai dan drainase membawa lumpur sedimentasi. Membuat sungai menjadi dangkal dan alira air tidak tertahan meluap ke pemukiman warga hingga menyebabkan banjir.

Iqbal menegaskan bahwa bukit-bukit yang sudah gundul harus segera ditanami kembali untuk mencegah bencana terjadi dalam jangka panjang.

“Kita harus perbaiki bukit-bukit yang sudah gundul ini, enggak bisa enggak, kita harus. Mau kita bagaimanapun akan tetap balik kondisinya seperti ini,” tegasnya.

Sementara itu, Kehadiran Gubernur dan beberapa pemangku kebijakan ini bertujuan memastikan bantuan logistik tersalurkan dengan cepat. Sekaligus merumuskan solusi permanen guna memutus siklus banjir tahunan di wilayah tersebut.
Kondisi di Dusun Bengkang menjadi salah satu yang paling memprihatinkan terdampak bencana banjir itu. Bahkan sempat viral salah satu rumah di dusun itu hanyut akibat banjir setinggi dada orang dewasa tersebut.

Berdasarkann data awal, sedikitnya 230 Kepala Keluarga (KK) terdampak banjir dengan ketinggian air yang merusak perabotan rumah tangga. Kerusakan fisik terpantau cukup masif, mulai dari satu unit rumah yang roboh total, kerusakan tembok pagar di empat rumah warga, hingga jebolnya tembok penyangga fasilitas publik seperti SD dan Polindes.

Kepala Dusun Bengkang, H. Zohdi Akbar, menuturkan betapa kuatnya terjangan arus air yang melanda pemukiman mereka. Menurutnya, kerugian tidak hanya pada bangunan, tetapi juga pada aset ternak warga yang merupakan tumpuan ekonomi.

“Banyak kandang ternak yang hanyut, bahkan sapi-sapi warga sempat terseret arus hingga sejauh 300 meter. Saat ini warga kami sangat membutuhkan air bersih, sembako, selimut, dan kebutuhan balita karena hampir semua perlengkapan di dalam rumah terendam lumpur,” ungkapnya disela-sela kunjungan kepala daerah itu. (win)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *