Selaras dengan Visi NTB Makmur Mendunia
MATARAM — Suasana religius dan penuh kekhusyukan menyelimuti Pendopo Gubernur NTB pada Senin malam (23/2), saat Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat bersama LPTQ NTB dan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam menggelar tadarusan Al-Qur’an dalam rangkaian Ramadan 1447 Hijriah.
Kegiatan tersebut dihadiri unsur pemerintah daerah, para tuan guru dan ulama, pimpinan ormas Islam, tokoh masyarakat, serta qari dan hafidz dari berbagai kabupaten/kota se-NTB. Hadir pula jajaran LPTQ NTB, IFQAH, BAZNAS, Dewan Pengurus IC, BKPRMI, PW NU, PB NW, PB NWDI, PWM dan sejumlah organisasi keagamaan lainnya.
Pada momentum tersebut, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mencanangkan slogan baru, “NTB Serambi Al-Qur’an”, sebagai arah moral dan kultural pembangunan daerah ke depan.
Dalam sambutannya, Gubernur Lalu Iqbal menegaskan bahwa konsep “Serambi Al-Qur’an” bukan sekadar slogan, melainkan komitmen untuk menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai fondasi dalam kehidupan bermasyarakat dan tata kelola pemerintahan.
“NTB Makmur Mendunia membutuhkan pondasi akhlak. Serambi Al-Qur’an menjadi ruh yang menuntun arah kemajuan daerah,” tegasnya.
Menurut Gubernur, kemakmuran yang dicita-citakan dalam visi “NTB Makmur Mendunia” tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas spiritual, sosial, dan moral masyarakat. Nilai-nilai Qur’ani diharapkan melahirkan budaya kerja yang jujur, disiplin, amanah, serta berorientasi pada pelayanan publik yang bersih dan berkeadilan.
Ia menambahkan, konsep “Serambi Al-Qur’an” juga menggambarkan NTB sebagai beranda peradaban religius yang menghadirkan suasana damai, santun, dan harmonis bagi masyarakat maupun tamu yang berkunjung. Dengan identitas tersebut, NTB diharapkan mampu memperkuat daya saing di tingkat nasional dan global tanpa meninggalkan akar nilai keislaman dan budaya lokal.
Kegiatan tadarusan bersama ini menjadi momentum strategis mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah dan elemen umat dalam pembinaan keagamaan serta pembangunan karakter generasi Qur’ani.
Tokoh-tokoh ormas Islam yang hadir menyambut baik pencanangan “NTB Serambi Al-Qur’an” dan berharap implementasinya diwujudkan melalui program nyata, seperti penguatan pendidikan Al-Qur’an, gerakan Maghrib Mengaji, pemberdayaan masjid, pengembangan ekonomi syariah, hingga penguatan sektor wisata halal.
Dari NTB Ribuan Masjid Menuju NTB Serambi Al-Qur’an
Dalam gelaran tadarusan bersama di Pendopo Gubernur NTB, lahir penegasan dua identitas besar daerah: “NTB Ribuan Masjid” dan “NTB Serambi Al-Qur’an.”
Selama ini, NTB dikenal luas dengan julukan NTB Seribu Masjid — sebuah identitas yang tidak sekadar menunjukkan banyaknya jumlah masjid, tetapi juga mencerminkan kuatnya tradisi religius, budaya gotong royong membangun rumah ibadah, serta peran sentral masjid dalam kehidupan sosial masyarakat.
Masjid di NTB bukan hanya tempat shalat, melainkan pusat pendidikan, dakwah, musyawarah, bahkan pemberdayaan ekonomi umat. Dari desa hingga kota, denyut kehidupan masyarakat tidak lepas dari aktivitas masjid.
Kini, identitas tersebut diperkuat dengan pencanangan jargon baru: NTB Serambi Al-Qur’an. Jika “Ribuan Masjid” merepresentasikan fisik dan infrastruktur keagamaan, maka “Serambi Al-Qur’an” menegaskan ruh dan nilai yang menghidupi bangunan tersebut.
Serambi Al-Qur’an mengandung makna bahwa NTB ingin menjadi beranda peradaban Qur’ani — daerah yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam akhlak masyarakat, tata kelola pemerintahan, sistem pendidikan, hingga pelayanan publik.
Kedua jargon ini saling melengkapi. Ribuan masjid menjadi wadahnya, sementara Al-Qur’an menjadi isinya. Masjid yang ramai, namun juga dihidupkan dengan tilawah, tadarrus, kajian, pembinaan generasi muda, dan gerakan sosial berbasis nilai-nilai Qur’ani.
Dengan semangat tersebut, NTB tidak hanya ingin dikenal sebagai daerah religius secara simbolik, tetapi juga religius secara substantif — tercermin dalam budaya kerja yang jujur, amanah, disiplin, serta masyarakat yang santun dan harmonis.
Dari Ribuan Masjid, lahir Serambi Al-Qur’an. Dari Serambi Al-Qur’an, tumbuh NTB yang makmur, berakhlak, dan mendunia.
Menguatkan Identitas: NTB Ribuan Masjid dan NTB Serambi Al-Qur’an
Nusa Tenggara Barat sejak lama dikenal dengan julukan “NTB Ribuan Masjid.” Julukan ini bukan sekadar simbol, melainkan representasi nyata dari kuatnya tradisi keislaman masyarakat. Dari pelosok desa hingga pusat kota, masjid berdiri kokoh dan hidup dengan aktivitas ibadah, pendidikan, serta kegiatan sosial kemasyarakatan.
Data Kementerian Agama menunjukkan, NTB memiliki lebih dari 5.000 masjid yang tersebar di 10 kabupaten/kota, belum termasuk mushalla dan langgar. Angka tersebut menjadikan NTB sebagai salah satu provinsi dengan rasio masjid yang sangat tinggi dibanding jumlah penduduknya.
Namun, identitas NTB tidak berhenti pada banyaknya bangunan fisik rumah ibadah.
Daerah ini juga dikenal sebagai lumbung qari dan qariah berprestasi di tingkat nasional maupun internasional. Puluhan putra-putri terbaik NTB telah mengharumkan nama daerah dalam ajang MTQ Nasional, bahkan tampil dan meraih prestasi di tingkat internasional seperti di Malaysia, Brunei Darussalam, Arab Saudi, dan negara-negara Timur Tengah lainnya.
Tradisi tilawah dan tahfiz tumbuh kuat melalui pesantren, madrasah, dan pembinaan LPTQ di berbagai daerah. Tidak sedikit hafidz dan hafidzah NTB yang meraih juara umum MTQ Nasional dalam berbagai cabang, mulai dari tilawah, tahfiz, tafsir, hingga fahmil dan syarhil Qur’an.
NTB juga mencatat sejarah penting sebagai tuan rumah penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional yang berlangsung sukses dan mendapat apresiasi luas dari pemerintah pusat.
Penyelenggaraan tersebut tidak hanya menunjukkan kapasitas manajerial daerah, tetapi juga memperlihatkan kuatnya dukungan masyarakat terhadap syiar Al-Qur’an.
Dalam perjalanan kepemimpinan, NTB pernah dipimpin oleh seorang tuan guru, TGH M. Zainul Majdi, yang menjabat selama dua periode (2008–2018). Kepemimpinan beliau semakin menguatkan identitas religius NTB dengan berbagai program pendidikan dan pengembangan nilai-nilai keislaman yang terintegrasi dalam pembangunan daerah.
Kini, semangat tersebut diperkuat dengan pencanangan jargon baru oleh gubernur Lalu Iqbal, “NTB Serambi Al-Qur’an.” Jika “NTB Ribuan Masjid”.
Jargon itu merepresentasikan infrastruktur dan budaya religius masyarakat, maka “Serambi Al-Qur’an” menegaskan substansi dan arah moral pembangunan.
Serambi Al-Qur’an bermakna menjadikan nilai-nilai Qur’ani sebagai fondasi dalam tata kelola pemerintahan, pendidikan, pelayanan publik, serta kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Bukan hanya ramai masjidnya, tetapi juga hidup akhlaknya.
Dua jargon ini saling melengkapi: ribuan masjid menjadi wadahnya, Al-Qur’an menjadi ruhnya. Dari masjid lahir generasi Qur’ani, dari Al-Qur’an tumbuh budaya kerja yang jujur, disiplin, amanah, serta masyarakat yang santun dan harmonis.
Dengan fondasi tersebut, NTB tidak hanya ingin dikenal sebagai daerah religius secara simbolik, tetapi juga religius secara substantif — daerah yang menjadikan spiritualitas sebagai kekuatan untuk membangun daya saing nasional dan global.
Dari Ribuan Masjid menuju Serambi Al-Qur’an, NTB meneguhkan jati dirinya sebagai provinsi religius yang berprestasi, berkarakter, dan siap makmur mendunia.
Diketahui, acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin para tuan guru, memohon agar nilai-nilai Al-Qur’an senantiasa hidup dalam denyut kehidupan masyarakat NTB dan menjadi fondasi kokoh dalam mewujudkan daerah yang religius, harmonis, serta benar-benar makmur mendunia. (jho)
