Lalu Irwan menunjukkan kondisi perpipaan Sumur Bor BTN Pemda melalui smartphone-nya, Kamis (5/11). (WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA) 

LOBAR—Warga Perumahan BTN Pemda di Gerung mengeluhkan kualitas air bersih PT Air Minum Giri Menang (AMGM). Lantaran kondisi air di perumahan itu yang bersumber dari sumur bor, kini mampet dan kualitas air dianggap tidak memenuhi standar kelayakan kandungan besi. Kondisi itu sudah terjadi beberapa hari belakangan ini.

Anggota Komisi III DPRD Lobar Lalu Irwan yang juga warga setempat mengungkapkan kekecewaannya. Ia langsung mengecek kondisi faktual sumur bor yang hanya beberapa langkah dari kediamannya. Kualitas pelayanan air itu berangsur-angsur turun dirasakan warga dalam jangka waktu yang relatif lama. Berbeda saat awal perumahan itu berdiri dan sumber air perumahan berasal dari mata air, layanan yang dirasakan begitu maksimal.

“Kami selaku warga juga mendorong adanya langkah strategis agar pasokan air untuk BTN Pemda dialihkan kembali menggunakan sumber mata air alami, bukan sekadar bergantung pada sumur bor komersial dalam jangka panjang,” ujar Irwan saat dikonfirmasi awak media, Kamis (5/11).

Ia menceritakan, masa awal berdirinya perumahan itu pasokan air bersih bagi masyarakat sempat berjalan optimal dengan ketersediaan aliran selama 24 jam penuh. Namun, degradasi kualitas dan kuantitas layanan mulai terjadi sejak tahun 2011. Puncaknya distribusi air mencapai titik terendah pada rentang tahun 2017 hingga 2018. Ketika itu debit air menyusut drastis hingga menyebabkan gangguan berkepanjangan.

“Dulu di awal-awal BTN Pemda ini berdiri, masyarakat kami di situ mendapatkan pelayanan yang maksimal. Artinya air itu ready, selalu ready 24 jam,” ungkap politisi Gerindra itu.

Perusahaan air minum daerah itu sempat memberikan solusi jangka pendek untuk mengatasi krisis air bersih untuk perumahan itu dengan menyediakan sumur bor. Ribuan Kepala Keluarga (KK) BTN Pemda sangat menggantungkan kebutuhan air bersih harian pada instalasi sumur bor tersebut. Meski cukup membantu memenuhi kebutuhan air bersih, belakangan muncul persoalan dengan pasokan yang kembali tersendat. Air yang dialirkan terindikasi kuat mengandung kadar zat besi (Fe) yang tinggi. Meskipun instalasi penyaring atau filter telah dipasang oleh pengelola, pembersihan material logam belum berjalan maksimal.
Dampak fisik dari tingginya kandungan logam berat tersebut terlihat jelas pada wadah sanitasi warga. Endapan lumpur serta kerak kuning kehitaman pada saluran pipa, wadah penampungan, hingga dinding kamar mandi.

“Bagaimana sumur bor ini? Dari pengalaman dan pantauan kami secara fisik, saya tidak mengerti standar air bersihnya, tetapi secara fisik itu sangat merugikan kami. Rata-rata kamar mandi di BTN itu berkerak dan setiap air ditampung pasti ada endapan,” tegas politisi tersebut.

Hal ini yang menjadi alasan Irwan meminta agar sumber air perumahan itu kembali menggunakan mata air seperti wilayah lainnya di Lobar. Perbedaan kualitas pasokan air ini memunculkan rasa ketidakadilan bagi warga BTN Pemda, belum lagi dengan kemacetan aliran hingga berhari-hari masih kerap berulang.

“Ini sejak dua hari lalu airnya mati total, karena ada kerusakan di instalasi sumur bor tersebut. Saya saja begadang sampai jam 2 malam menunggu distribusi air,” ungkapnya.

Lalu Irwan menegaskan bahwa perlindungan terhadap hak-hak konsumen harus menjadi prioritas utama penyelenggara layanan publik. Pelanggan yang rutin menyelesaikan kewajiban pembayaran retribusi berhak mendapatkan mutu air bersih yang aman dan higienis.

“Sebagai konsumen kami berhak memperoleh pelayanan yang sama dan merata seperti wilayah lain,” pungkasnya.(Win)

By Radar Mandalika

Mata Dunia | Radar Mandalika Group

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *